Bersama Pelopor Boomerang, Anak-anak Mampu Ciptakan 7 Lagu COVID-19
Minggu, 21 Juni 2020 - 20:41 WIB
loading...
A
A
A
Pertemuan berbagai orang ini akhirnya menemukan karakter bermusik yang mampu dibentuk dengan nama Friendship & Solidarity. Rilna sendiri pernah menjadi guru paduan suara di sekolah minggu. “Kojo yang hobby bermusik, Henry yang telah melanglang buana di kancah musik nasional menyatukan hati untuk mengisi masa pembatasan sosial,” ungkapnya.
Mereka pun berkarya dalam jarak jauh dan menghasilkan tujuh lagu. Kojo berperan sebagai pencipta lagu, Henry memperkaya aransemennya dan Rilna memberikan nuansa yang lebih manis dalam vocal lagu-lagu mereka. (Baca: Cangkrukan Bareng Bonek, Cak Machfud Bahas Persebaya dan Kota Surabaya)
Semua karya mereka diciptakan di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini mengangkat tentang nilai kemanusiaan. Nada-nada dan liriknya sangat ramah di telinga semua umur. “Awalnya kan sebagai bentuk ekspresi kegelisahan, kemudian berkembang menjadi sebuah misi untuk mengingatkan tentang keindahan, solidaritas dan semangat hidup yang tetap bisa dijalani di masa apapun,” jelasnya.
Ada tujuh lagu yang dipersembahkan di album pertama mereka ini. Salah satunya adalah Nanti yang bercerita tentang kerinduan akan teman-teman karena pembatasan sosial masa pandemi COVID-19. Ada juga lagu berjudul Belajar yang bercerita tentang menjaga bahari. Lagu Berjudul Masa Kecil berkisah tentang keindahan alam dan budaya Indonesia, lagu berjudul Jembatan bertutur tentang perlindungan diri dan hak anak.
Selain itu, ada juga lagu berjudul Rindu yang bercerita suasana belajar di sekolah. “Kalau lagu berjudul Langit ceritanya tentang harapan dan semangat hidup baru dalam era new normal serta ada juga lagu berjudul Lintasan Waktu yang bercerita tentang perjuangan para atlit cilik,” katanya.
Mereka pun berkarya dalam jarak jauh dan menghasilkan tujuh lagu. Kojo berperan sebagai pencipta lagu, Henry memperkaya aransemennya dan Rilna memberikan nuansa yang lebih manis dalam vocal lagu-lagu mereka. (Baca: Cangkrukan Bareng Bonek, Cak Machfud Bahas Persebaya dan Kota Surabaya)
Semua karya mereka diciptakan di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ini mengangkat tentang nilai kemanusiaan. Nada-nada dan liriknya sangat ramah di telinga semua umur. “Awalnya kan sebagai bentuk ekspresi kegelisahan, kemudian berkembang menjadi sebuah misi untuk mengingatkan tentang keindahan, solidaritas dan semangat hidup yang tetap bisa dijalani di masa apapun,” jelasnya.
Ada tujuh lagu yang dipersembahkan di album pertama mereka ini. Salah satunya adalah Nanti yang bercerita tentang kerinduan akan teman-teman karena pembatasan sosial masa pandemi COVID-19. Ada juga lagu berjudul Belajar yang bercerita tentang menjaga bahari. Lagu Berjudul Masa Kecil berkisah tentang keindahan alam dan budaya Indonesia, lagu berjudul Jembatan bertutur tentang perlindungan diri dan hak anak.
Selain itu, ada juga lagu berjudul Rindu yang bercerita suasana belajar di sekolah. “Kalau lagu berjudul Langit ceritanya tentang harapan dan semangat hidup baru dalam era new normal serta ada juga lagu berjudul Lintasan Waktu yang bercerita tentang perjuangan para atlit cilik,” katanya.
(don)
Lihat Juga :