Kisah Pilu Pengidap Hemofilia; Rasakan Pendarahan Hebat, Impikan Obat Gratis dari Negara
Selasa, 05 April 2022 - 22:32 WIB
loading...
Foto: Ilustrasi/Kidspot
A
A
A
JAKARTA - Di tengah situasi pandemi Covid-19 ini, terdapat sebagian orang yang merasa sangat menderita akibat penyakit hemofilia . Tubuh tergeletak, sulit bergerak hingga darah sering mengucur mendadak dari tubuh. Tak terbayangkan, seperti apa rasa sakit yang dialami para penderita ini.
Penderita hemofilia sebenarnya sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah dengan pengobatan yang ditanggung BPJS Kesehatan. Namun, obat dari BPJS Kesehatan belum bisa mencukupi kebutuhan mereka.
Kondisi mereka mengharuskan untuk menyetok obat, tetapi kebijakan yang berlaku tidak mengizinkan demikian. Obat tak boleh distok dan baru boleh dimiliki sesuai kebutuhan pasien, serta pilihan terapi terbatas.
Pengidap hemofilia akut di antaranya Mas Pur (31) dan Aryo (13). Rani (41), kakak yang bertanggung jawab atas kondisi Mas Pur, mengatakan, sang adik baru diketahui menderita hemofilia saat usianya sekitar 5 tahun pada 1995. Di era itu, penyakit hemofilia belum ada obatnya.
Baca juga: Kolaborasi Berbagai Pihak Dibutuhkan untuk Tangani Hemofilia di Indonesia
"Jadi pengobatannya cuma dikasih yang ada pada saat itu. Secara otomatis, pendarahannya sulit berhenti karena penyakit hemofilia itu sakitnya pendarahan, tetapi tidak bisa berhenti atau sulit diberhentikan," papar Rani.
Pendarahan itu pun bisa terjadi setiap waktu. Terkadang berupa pendarahan kecil, kadang pendarahan besar, dan yang terjadi di dalam tubuh. Setiap kali darahnya keluar, Mas Pur merintih kesakitan. Bayangkan saja, rasanya darah mengucur dari dalam tubuh melalui kulit itu sakit sekali.
"Kita saja kalau lecet sedikit itu rasanya sakit. Kondisi adik saya ini kelihatan dari mukanya, ia sangat menahan rasa nyeri," katanya.
Kondisi ini terus berlangsung hingga Mas Pur beranjak dewasa. Seluruh anggota tubuh Mas Pur tak boleh terbentur. Bahkan, aktivitas sehari-hari yang menahan beban sampai terasa pegal juga dilarang keras. Dari pengalaman yang sudah-sudah, Mas Pur bisa mengalami bengkak yang sangat parah.
"Lalu pendarahan lagi. Otomatis kalau pendarahan itu tidak dihentikan maka akan terus makin membengkak," tuturnya.
Mungkin, jika di zaman itu obat hemofilia sudah ada di Indonesia, kondisi Mas Pur tak separah sekarang. Sekarang, Mas Pur mengalami kelumpuhan. Sehari-hari, ia hanya tergeletak di kasur dan sedikit bisa berjalan tetapi tidak boleh sampai pegal.
Yang makin membuat miris, kini Mas Pur hanya tinggal bersama ayah yang sudah lanjut usia serta ibunya yang mengalami stroke akibat kelelahan mengurus Mas Pur.
Sepenggal kisah masa lalu, sang ibu mengalami stroke saat mengurus Mas Pur di rumah sakit. Mas Pur memiliki bengkak yang amat besar di paha yang menyebabkan pendarahan hebat dan tidak kunjung berhenti. Karena kondisi tersebut, sang ibu mengalami kelelahan sekaligus syok berat yang membuatnya mengalami stroke.
Penderita hemofilia sebenarnya sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah dengan pengobatan yang ditanggung BPJS Kesehatan. Namun, obat dari BPJS Kesehatan belum bisa mencukupi kebutuhan mereka.
Kondisi mereka mengharuskan untuk menyetok obat, tetapi kebijakan yang berlaku tidak mengizinkan demikian. Obat tak boleh distok dan baru boleh dimiliki sesuai kebutuhan pasien, serta pilihan terapi terbatas.
Pengidap hemofilia akut di antaranya Mas Pur (31) dan Aryo (13). Rani (41), kakak yang bertanggung jawab atas kondisi Mas Pur, mengatakan, sang adik baru diketahui menderita hemofilia saat usianya sekitar 5 tahun pada 1995. Di era itu, penyakit hemofilia belum ada obatnya.
Baca juga: Kolaborasi Berbagai Pihak Dibutuhkan untuk Tangani Hemofilia di Indonesia
"Jadi pengobatannya cuma dikasih yang ada pada saat itu. Secara otomatis, pendarahannya sulit berhenti karena penyakit hemofilia itu sakitnya pendarahan, tetapi tidak bisa berhenti atau sulit diberhentikan," papar Rani.
Pendarahan itu pun bisa terjadi setiap waktu. Terkadang berupa pendarahan kecil, kadang pendarahan besar, dan yang terjadi di dalam tubuh. Setiap kali darahnya keluar, Mas Pur merintih kesakitan. Bayangkan saja, rasanya darah mengucur dari dalam tubuh melalui kulit itu sakit sekali.
"Kita saja kalau lecet sedikit itu rasanya sakit. Kondisi adik saya ini kelihatan dari mukanya, ia sangat menahan rasa nyeri," katanya.
Kondisi ini terus berlangsung hingga Mas Pur beranjak dewasa. Seluruh anggota tubuh Mas Pur tak boleh terbentur. Bahkan, aktivitas sehari-hari yang menahan beban sampai terasa pegal juga dilarang keras. Dari pengalaman yang sudah-sudah, Mas Pur bisa mengalami bengkak yang sangat parah.
"Lalu pendarahan lagi. Otomatis kalau pendarahan itu tidak dihentikan maka akan terus makin membengkak," tuturnya.
Mungkin, jika di zaman itu obat hemofilia sudah ada di Indonesia, kondisi Mas Pur tak separah sekarang. Sekarang, Mas Pur mengalami kelumpuhan. Sehari-hari, ia hanya tergeletak di kasur dan sedikit bisa berjalan tetapi tidak boleh sampai pegal.
Yang makin membuat miris, kini Mas Pur hanya tinggal bersama ayah yang sudah lanjut usia serta ibunya yang mengalami stroke akibat kelelahan mengurus Mas Pur.
Sepenggal kisah masa lalu, sang ibu mengalami stroke saat mengurus Mas Pur di rumah sakit. Mas Pur memiliki bengkak yang amat besar di paha yang menyebabkan pendarahan hebat dan tidak kunjung berhenti. Karena kondisi tersebut, sang ibu mengalami kelelahan sekaligus syok berat yang membuatnya mengalami stroke.
Lihat Juga :