Kesaktian Mbah Boncolono, Robin Hood Kediri Menjarah Harta Orang Kaya Belanda
Senin, 04 April 2022 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Kesaktian rawa rontek tidak akan berfungsi selama tubuh yang terpotong tersebut, dipisahkan oleh sungai.
Dalam catatannya, George Quinn, penulis “Wali Berandal Tanah Jawa” mendatangi bukit Maskumambang. Sebuah kawasan perbukitan bukit yang cukup tinggi, yang berada di wilayah Kecamatan Mojoroto, ujung barat Kota Kediri.
Kawasan ini berlokasi di sebelah barat Sungai Brantas. Di puncak bukit yang berketinggian sekitar 350 meter itu, kompeni Belanda konon memakamkan jasad Mbah Boncolono tanpa kepala.
“Makam Mbah Boncolono terbujur dari utara ke selatan, bersebelahan dengan makam Tumenggung Poncolono yang diduga adik Mbah Boncolono dan Tumenggung Mojoroto, penghuni awal (cikal bakal) kawasan Kediri,” tulis George Quinn. Pada tahun 2004 situs makam Mbah Boncolono di Maskumambang sempat dipugar.
Renovasi bangunan diikuti dengan pembetonan sebanyak 555 anak tangga menuju puncak bukit Maskumambang. Dalam buku “Wali Berandal Tanah Jawa”, pemugaran dilakukan setelah keturunan keluarga besar Mbah Boncolono menyerahkan situs Boncolono kepada Pemkot Kediri.
Penyerahan ditandai dengan prasasti di gapura makam Mbah Boncolono yang ditandatangani oleh kepala keluarga besar keturunan Mbah Boncolono, Japto Soerjosoemarno. Japto merupakan pimpinan tertinggi ormas Pemuda Pancasila (PP).
“Pak Japto adalah keturunan Mbah Boncolono angkatan ketujuh”. Lalu di mana kompeni Belanda menguburkan kepala Ki Boncolono?
Di sebuah tempat yang kemudian dikenal bernama punden (makam) Ringin Sirah, Kota Kediri, Kompeni Belanda konon menguburkan kepala Mbah Boncolono. Nama Ringin Sirah merujuk pada pohon beringin tua yang tumbuh di sana.
Lokasi tersebut berada di timur Sungai Brantas, posisinya di perempatan jalan antara Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Joyo Boyo Kota Kediri. Peneliti asing George Quinn mendapatkan asumsi dari sejumlah warga Kediri yang berada di punden Ringin Sirah.
Bahwa pemisahan tubuh dan kepala Mbah Boncolono di sisi Sungai Brantas yang berseberangan merupakan simbol pemisahan pemimpin dengan rakyatnya. Pemisahan antara kawula dan gustinya.
"Dengan cara begitu mereka melumpuhkan rakyat Indonesia. Diceraikannya pemimpin dari rakyat dengan tujuan untuk menjajah kami dan merampok kami," pungkasnya.
Dalam catatannya, George Quinn, penulis “Wali Berandal Tanah Jawa” mendatangi bukit Maskumambang. Sebuah kawasan perbukitan bukit yang cukup tinggi, yang berada di wilayah Kecamatan Mojoroto, ujung barat Kota Kediri.
Kawasan ini berlokasi di sebelah barat Sungai Brantas. Di puncak bukit yang berketinggian sekitar 350 meter itu, kompeni Belanda konon memakamkan jasad Mbah Boncolono tanpa kepala.
“Makam Mbah Boncolono terbujur dari utara ke selatan, bersebelahan dengan makam Tumenggung Poncolono yang diduga adik Mbah Boncolono dan Tumenggung Mojoroto, penghuni awal (cikal bakal) kawasan Kediri,” tulis George Quinn. Pada tahun 2004 situs makam Mbah Boncolono di Maskumambang sempat dipugar.
Renovasi bangunan diikuti dengan pembetonan sebanyak 555 anak tangga menuju puncak bukit Maskumambang. Dalam buku “Wali Berandal Tanah Jawa”, pemugaran dilakukan setelah keturunan keluarga besar Mbah Boncolono menyerahkan situs Boncolono kepada Pemkot Kediri.
Penyerahan ditandai dengan prasasti di gapura makam Mbah Boncolono yang ditandatangani oleh kepala keluarga besar keturunan Mbah Boncolono, Japto Soerjosoemarno. Japto merupakan pimpinan tertinggi ormas Pemuda Pancasila (PP).
“Pak Japto adalah keturunan Mbah Boncolono angkatan ketujuh”. Lalu di mana kompeni Belanda menguburkan kepala Ki Boncolono?
Di sebuah tempat yang kemudian dikenal bernama punden (makam) Ringin Sirah, Kota Kediri, Kompeni Belanda konon menguburkan kepala Mbah Boncolono. Nama Ringin Sirah merujuk pada pohon beringin tua yang tumbuh di sana.
Lokasi tersebut berada di timur Sungai Brantas, posisinya di perempatan jalan antara Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Joyo Boyo Kota Kediri. Peneliti asing George Quinn mendapatkan asumsi dari sejumlah warga Kediri yang berada di punden Ringin Sirah.
Bahwa pemisahan tubuh dan kepala Mbah Boncolono di sisi Sungai Brantas yang berseberangan merupakan simbol pemisahan pemimpin dengan rakyatnya. Pemisahan antara kawula dan gustinya.
"Dengan cara begitu mereka melumpuhkan rakyat Indonesia. Diceraikannya pemimpin dari rakyat dengan tujuan untuk menjajah kami dan merampok kami," pungkasnya.
(shf)
Lihat Juga :