Asal Usul Kali Angke, Tempat Pembantaian Massal VOC 1740
Jum'at, 25 Maret 2022 - 06:01 WIB
loading...
A
A
A
Mengapa peristiwa kelam itu bisa terjadi? Menurut informasi dalam Jurnal Wacana dengan tajuk ‘Pembantaian Etnis Cina di Batavia 1740, Dampak Konflik Golongan “Prinsgeziden” dan “Staatsgezinden” di Belanda?’, jumlah etnis Tionghoa yang mendiami wilayah Batavia per 1 Januari 1740 adalalah 10.574 orang. Angka ini jauh lebih tinggi ketimbang setahun sebelumnya yang hanya 4 ribu orang.
Ada data lain yang juga ditemukan dalam bentuk tulisan tangan. Di dalamnya, diketahui jika jumlah orang Tionghoa yang ada di dalam benteng Batavia adalah 14 ribu jiwa. Sementara itu, mereka yang tinggal di luar benteng berjumlah 60 ribu sampai 70 ribu. Jika ditotal, diperkirakan ada sekitar 80 ribu warga Tionghoa kala itu.
![Asal Usul Kali Angke, Tempat Pembantaian Massal VOC 1740]()
Dok:Buku Asal-usul Nama Tempat Di Jakarta milik Pemprov DKI Jakarta Dinas Kebudayaan dan Permuseuman 2004
Terkait mata pencaharian, warga yang tinggal di luar benteng atau tembok kota Batavia bekerja sebagai petani. Lebih spesifik, ada yang menggeluti profesi sebagai petani gula dan bambu. Sebagian dari mereka juga bekerja di bidang perkayuan dan arak untuk menyediakan kebutuhan bagi warga yang tinggal di dalam tembok kota.
Menjelang tahun 1740, keadaan di kota Batavia tidak menentu. Orang Tionghoa yang masuk ke Batavia harus memiliki kartu tanda masuk. Jika tidak dipatuhi, mereka akan ditangkap. Saat itu, diketahui banyak warga Tionghoa yang melanggar aturan tersebut yang berakibat pada penahanan oleh pihak berwajib.
Ada data lain yang juga ditemukan dalam bentuk tulisan tangan. Di dalamnya, diketahui jika jumlah orang Tionghoa yang ada di dalam benteng Batavia adalah 14 ribu jiwa. Sementara itu, mereka yang tinggal di luar benteng berjumlah 60 ribu sampai 70 ribu. Jika ditotal, diperkirakan ada sekitar 80 ribu warga Tionghoa kala itu.

Dok:Buku Asal-usul Nama Tempat Di Jakarta milik Pemprov DKI Jakarta Dinas Kebudayaan dan Permuseuman 2004
Terkait mata pencaharian, warga yang tinggal di luar benteng atau tembok kota Batavia bekerja sebagai petani. Lebih spesifik, ada yang menggeluti profesi sebagai petani gula dan bambu. Sebagian dari mereka juga bekerja di bidang perkayuan dan arak untuk menyediakan kebutuhan bagi warga yang tinggal di dalam tembok kota.
Menjelang tahun 1740, keadaan di kota Batavia tidak menentu. Orang Tionghoa yang masuk ke Batavia harus memiliki kartu tanda masuk. Jika tidak dipatuhi, mereka akan ditangkap. Saat itu, diketahui banyak warga Tionghoa yang melanggar aturan tersebut yang berakibat pada penahanan oleh pihak berwajib.
Lihat Juga :