Sempat Menolak Anaknya Dirawat di RS, Kini Balita Penderita Gizi Buruk Asal Pidie Jaya Mulai Ditangani di RSUDZA
Rabu, 16 Februari 2022 - 16:00 WIB
loading...
A
A
A
BM juga mendapatkan imunisasi HBO setelah lahir, dan mendapatkan imunisasi BCG saat berusia tiga bulan. Sementara imunisasi DPT tidak bisa dilanjutkan lagi, karena berat badan kurang.
Sampai berusia enam bulan, pertumbuhan BM masih normal dan bayi diberikan ASI ekslusif. Baru pada usia tujuh bulan, berat badan mulai menurun, usai dilakukan pemantauan di Posyandu. Bidan desa kemudian melaporkan hal tersebut kepada Tenaga Gizi Puskesmas Ulim dan Tim Gizi berkolaborasi dengan dokter, serta kepala Puskesmas.
Baca juga: Suaminya Tewas di Tahanan Polsek Lubuklinggau Utara, Iin Minta Bantuan Presiden Jokowi
Puskesmas Ulim kemudian merujuk BM ke RSUD Pidie Jaya, dan balita tersebut ditangani oleh dokter spesialis anak dengan diaknosa specifik developmental disorder of motor function. Dokter menganjurkan fisioterapi, namun setelah beberapa kali dilakukan fisioterapi juga tidak ada perkembangan pada pertumbuhan BM.
Dokter kemudian menganjurkan rawat inap kepada orang tua BM, namun keluarga menolak untuk dirawat dengan alasan keterbatasan ekonomi dan anggapan dari ibu penyakit yang dialami oleh anaknya tidak terlalu serius. Ibu bocah itu juga lebih mementingkan pekerjaan lainnya walaupun sudah diberikan pemahaman oleh pihak Puskesmas Ulim.
BM kemudian hanya dilakukan rawat jalan sembari terus dipantau perkembangannya oleh tim dari Puskesmas Ulim. Tim Gizi Puskesmas Ulim juga telah melapor ke Dinas Kesehatan (SIE Gizi KIA) dan mereka telah melakukan kunjungan pada Agustus 2020 ke rumah balita tersebut.
Baca juga: Resahkan Warga, 155 Jukir Liar Diringkus Aparat Polrestabes Medan
Sampai berusia enam bulan, pertumbuhan BM masih normal dan bayi diberikan ASI ekslusif. Baru pada usia tujuh bulan, berat badan mulai menurun, usai dilakukan pemantauan di Posyandu. Bidan desa kemudian melaporkan hal tersebut kepada Tenaga Gizi Puskesmas Ulim dan Tim Gizi berkolaborasi dengan dokter, serta kepala Puskesmas.
Baca juga: Suaminya Tewas di Tahanan Polsek Lubuklinggau Utara, Iin Minta Bantuan Presiden Jokowi
Puskesmas Ulim kemudian merujuk BM ke RSUD Pidie Jaya, dan balita tersebut ditangani oleh dokter spesialis anak dengan diaknosa specifik developmental disorder of motor function. Dokter menganjurkan fisioterapi, namun setelah beberapa kali dilakukan fisioterapi juga tidak ada perkembangan pada pertumbuhan BM.
Dokter kemudian menganjurkan rawat inap kepada orang tua BM, namun keluarga menolak untuk dirawat dengan alasan keterbatasan ekonomi dan anggapan dari ibu penyakit yang dialami oleh anaknya tidak terlalu serius. Ibu bocah itu juga lebih mementingkan pekerjaan lainnya walaupun sudah diberikan pemahaman oleh pihak Puskesmas Ulim.
BM kemudian hanya dilakukan rawat jalan sembari terus dipantau perkembangannya oleh tim dari Puskesmas Ulim. Tim Gizi Puskesmas Ulim juga telah melapor ke Dinas Kesehatan (SIE Gizi KIA) dan mereka telah melakukan kunjungan pada Agustus 2020 ke rumah balita tersebut.
Baca juga: Resahkan Warga, 155 Jukir Liar Diringkus Aparat Polrestabes Medan
Lihat Juga :