Harta Karun Gunung Penanggungan Jejak Peninggalan Kerajaan Majapahit

Selasa, 18 Januari 2022 - 05:07 WIB
loading...
Harta Karun Gunung Penanggungan...
Harta Karun Gunung Penanggungan Jejak Peninggalan Kerajaan Majapahit/Ali Masduki/SindoNews
A A A
Gunung Penanggungan jejak peninggalan Kerajaan Majapahit yang menjadi bukti kemahsyuran kekuasaan Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Jejak peninggalan kekuasaan Kerajaan Majapahit pada abad 15 Masehi itu menjadi harta karun yang tiada ternilai harganya dalam sejarah Indonesia.

Cerita pagi kali ini menyuguhkan kisah harta karun Kerajaan Majapahit yang terpendam di Gunung Penanggungan berlokasi di Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Gunung Penanggungan yang nama kunonya disebut Gunung Pawitra berada di ketinggian 1.653 m dpl adalah gunung berapi kerucut dalam kondisi istirahat.

Baca Juga: Gayatri Rajapatni Istri Cantik Hayam Wuruk Wafat, Majapahit Gelar Perayaan Tujuh Hari 7 Malam

Posisi Gunung Penanggungan berada di perbatasan dua kabupaten, yaitu Kabupaten Mojokerto (sisi barat) dan Kabupaten Pasuruan (sisi timur) dan berjarak kurang lebih 55 km sebelah selatan kota Surabaya. Gunung Penanggungan merupakan gunung kecil yang berada pada satu klaster dengan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang yang jauh lebih besar.

Harta Karun Gunung Penanggungan Jejak Peninggalan Kerajaan Majapahit

Candi Guru menjadi jejak peninggalan Majapahit di Gunung Penanggungan/Ali Masduki/Sindonews

Kendati kecil, gunung ini diliputi aura kekeramatan mulai dari kaki sampai mendekati puncak. Banyak harta karun yang menajdi jejak peninggalan Kerajaan Majapahit yang dibangun pada periode Hindu-Buddha dalam sejarah Indonesia. Gunung Penanggungan dipandang sebagai gunung keramat yang merupakan jelmaan Mahameru, gunungnya para dewa di zaman kerajaan.

Tertulis di dalam kitab Tantu Panggelaran Saka 1557 atau 1635 M, konon, para dewa sepakat untuk menyetujui bahwa manusia dapat berkembang di Pulau Jawa, namun pulau itu tidak stabil, selalu berguncang diterpa ombak lautan. Alasan untuk menstabilkan kondisi Pulau Jawa, para dewa memindahkan Gunung Mahameru dari Jambhudwipa ke Jawadwipa.

Harta Karun Gunung Penanggungan Jejak Peninggalan Kerajaan Majapahit

Candi Gentong menjadi salah satu jejak peninggalan Majapahit di Gunung Penanggungan/Ali Masduki/Sindonews

Dalam perjalanan kepindahan tersebut, sebagian Mahameru ada yang rontok berjatuhan, maka menjelmalah gunung-gemunung yang ada di Pulau Jawa dari barat ke timur. Bagian terbesarnya jatuh menjelma menjadi Gunung Semeru, sedang puncak Mahameru dihempaskan oleh para dewa menjadi Pawitra yang sekarang disebut Gunung Penanggungan.

Gunung Pawitra menjadi gunung yang keramat dalam peninggalan Jawa masa Hindu-Buddha, karena puncak Mahameru yang dipindahkan ke Jawa. Gunung Pawitra yang kerap disebut sebagai Gunung Keramat ini menjadi bukti bagaimana peradaban Majapahit sangat dinamis dalam menjalankan sistem pemerintahan.

Harta Karun Gunung Penanggungan Jejak Peninggalan Kerajaan Majapahit

Candi kendalisada berdiri kokoh di ketinggian 1.253 mdpl/Ali MAsduki/Sindonews

Berada tidak jauh dari pusat keraton Majapahit di Trowulan, gunung dengan ketinggian 1.653 meter di atas permukaan laut tersebut seakan menjadi pusat spiritual kerajaan. Di setiap jengkal kaki melangkah, pecahan terakota berserakan ditanah. Ratusan Situs Purbakala berupa candi-candi yang dibangun pada abad 15 yang mengelilingi puncak Pawitra.

Gunung Penanggungan sendiri dikelilingi empat bukit di bawahnya yaitu Gajah Mungkur (1087 m), Bekel (1238 m), Kemuncup (1227m) dan Sarah Klopo (1275 m). Setiap bukit terdapat situs purbakala dengan ragam cerita yang melegenda di masyarakat. Entah mistos atau fakta, yang pasti situs purbakala peninggalan Majapahit itu menjadi harta karun warisan luhur Mapajapit yang layak dijaga dan dilestarikan.

Dari lereng Gunung Penanggungan, Candi Jedong berdiri megah dan kokoh. Candi ini punya dua bangunan gapura yaitu Candi Jedong 1 dan Jedong 2.Menurut para peneliti, di Desa Jedong terdapat tiga gapura, namun kini hanya tersisa dua gapura.

Harta Karun Gunung Penanggungan Jejak Peninggalan Kerajaan Majapahit

Candi Gapura I di Timur Gunung Penanggungan/Ali Masduki/Sindonews

Candi Jedong pertama bernama Candi Lanang (laki-laki), letaknya dekat pintu masuk. Sedangkan Candi Jedong kedua disebut Candi Wadon (perempuan). Kedua candi tersebut dihubungkan oleh tembok yang terbuat dari susunan batu sekitar sepanjang 50 meter. Meski nampak sama, namun rupanya kedua Candi ini memiliki tinggi dan ukiran yang berbeda.

Candi Jedong Lanang memiliki tinggi 9,75 meter, sedangkan Candi Wadon tinggi 7,19 meter. Pada bagian ambang pintu Candi I terdapat candrasengkala yang berbunyi Brahma Nora Kaya Bhumi yang berarti tahun 1307 Saka atau 1385 M. Sedangkan candi 2 terdapat hiasan kala dengan ukiran apik lainnya.

Ada dua bangunan berbentuk paduraksa, bangunan berbentuk gapura yang memiliki penutup. Paduraksa adalah sebuah pintu gerbang, yaitu terdiri atas tiga bagian; kaki atau landasan tempat tangga, tubuh bangunan tempat gawang pintu, dan atap bersusun yang dilengkapi kemuncak atau mastaka. Paduraksa dilengkapi dengan lawang (lubang gawang pintu) dan daun pintu.

Adanya gapura paduraksa menandakan bahwa kompleks bangunan yang memiliki gerbang seperti ini adalah bangunan penting, seperti tempat suci, atau istana. Kabarnya, dahulu Candi ini menjadi tempat peristirahatan para Raja Majapahit dan Singosari bersama permaisurinya.

Dilansir dari idsejarah.net, pendapat lain juga mengatakan Candi Jedong diperkirakan berfungsi sebagai pintu masuk menuju Desa Perdikan (Tanah Sima). Di mana Desa Perdikan merupakan daerah yang dibebaskan dari kewajiban pajak.

Jika dilihat lebih saksama pada bagian atas ambang pintu Candi 2 terdapat hiasan kala bagian kepala. Relief kala memang biasanya diletakkan di ambang atas pintu, jendela, atau relung pada candi. Relief kala bukan hanya sekedar hiasan semata, namun juga memiliki makna.

Dalam laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, bentuk dasar kala adalah Singga yang merupakan binatang lambing kekuatan dan keadilan serta penghancur kekuatan jahat. Kala juga merupakan perwujudan sebagai banaspati, penjaga hutan.

Baca Juga: Malapetaka Asal Usul Trowulan Jadi Ibu kota Kerajaan Majapahit

Karena bangunan candi melambangkan gunung (meru) yang dipenuhi dengan hutan lebat. Fungsi Kala digunakan untuk menangkal pengaruh jahat. Oleh karena itu, letak relief kala berada pada bagian atas ambang pintu.
Beradai di lereng Gunung Penanggungan, suasana di Candi Jedong masih tetap asri. Dilengkapi dengan tumbuhan rimbun di sekeliling candi. Walau usianya sudah ratusan tahun, namun candi inimasih berdiri kokoh dan terawat dengan baik.

Selain Candi Jedong, masih ada beberapa Candi di Mojokerto yang patut dikunjungi seperti Candi Trowulan, Candi Jolotundo, Candi Kesiman, Candi Bangkal dan lain sebagainya. Dari beberapa inkripsi tersebut, terlihat pembangunan bangunan suci di kawasan ini telah berlangsung sejak masa pemerintahan Mpu Sindok hingga Dyah Krtawijaya (Bhre Tumapel).

Ini artinya selama sekitar enam abad, wilayah Penanggungan menjadi tempat ritual keagamaan. Salah satu hal yang menarik dari situs ini adalah kepercayaan megalitik atau kepercayaan asli Majapahit yang tersingkir unsur agama Hindu-Buddha, muncul kembali dalam bentuk lain yakni bangunan candi.
(aww)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Indonesia di Antara...
Indonesia di Antara Quantum Warfare dan Multipolaritas
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka: Dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Urgensi Indonesia Maritime...
Urgensi Indonesia Maritime Policy
Rekomendasi
3 Lanud Naik Jadi Tipe...
3 Lanud Naik Jadi Tipe B, Ini Daftar Kolonel TNI AU yang Dilantik sebagai Danlanud
Pertamina NRE dan Koperasi...
Pertamina NRE dan Koperasi Kemenkop Bangun PLTS KDKMP Pulau Sembur, Progres Capai 80%
5 Fakta Iran Mampu Memecah...
5 Fakta Iran Mampu Memecah Aliansi Abadi AS dan Israel, Lebanon Jadi Alat Utamanya
Berita Terkini
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Diserahkan ke Kejaksaan Hari Ini
BMKG Peringatkan Siklon...
BMKG Peringatkan Siklon Tropis Mekkhala Menguat, Wilayah Ini Berpotensi Diterjang Gelombang Tinggi
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Saleh Husin, Retno Marsudi,...
Saleh Husin, Retno Marsudi, Triawan Munaf, Tantowi Yahya, hingga Mari Pangestu Latihan Menuju UI Green Marathon
Creavibe Fest 2026:...
Creavibe Fest 2026: Mahasiswa Desain Produk UMB Tampilkan Karya Fesyen Berkelanjutan
Festival Anak Pancasila...
Festival Anak Pancasila 2026 Perkuat Karakter Kebangsaan Generasi Muda
Infografis
Xi Mingze: Jejak Senyap...
Xi Mingze: Jejak Senyap Putri Tunggal Presiden China
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved