Pendataan Keluarga di Sulsel Terbaik Ketiga Nasional
Jum'at, 31 Desember 2021 - 13:54 WIB
loading...
Kepala Perwakilan BKKBN Sulsel, Andi Rita Mariani. Foto: SINDOnews/Luqman Zainuddin
A
A
A
MAKASSAR - Pendataan keluarga 2021 yang dilakukan Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sulsel jadi yang terbaik ketiga nasional. Jumlah keluarga yang disentuh mencapai 2.145.260 atau 99,37 persen dari target.
"Pendataan keluarga Sulsel berada di urutan ketiga dari 34 provinsi, karena dapat menyelesaikan tepat waktu dan sesuai target. Sulsel terbaik setelah Yogyakarta dan Bangka Belitung," ucap Kepala Perwakilan BKKBN Sulsel, Andi Ritamariani saat diseminasi hasil pendataan keluarga 2021, Jumat (31/12).
Baca juga:BKKBN Sulsel Gandeng 26 Perguruan Tinggi untuk Atasi Stunting
Andi Ritamariani menjelaskan, pendataan keluarga 2021 dilakukan pada periode 1 April hingga 31 Mei 2021. Tenaga yang digunakan untuk melakukan pendataan ini adalah warga lokal, yang mengetahui persis kondisi keluarga di daerahnya.
Pendataan keluarga ini kataKepala BKKBN Sulsel merupakan hal penting bagi pemerintah dalam menyediakan basis data keluarga untuk intervensi program pembangunan keluarga, kependudukan, keluarga berencana (bangga kencana), dan program pembangunan lain.
"Ini adalah dasar untuk menyusun perencanaan, apa sebenarnya yang harus dilakukan oleh pemerintah. Ini adalah peta kerja. Bukan hanya bagi internal BKKBN , tapi data ini juga bisa digunakan instansi terkait," tambah Kepala BKKBN Sulsel.
Baca juga:BKKBN Sulsel Terus Dorong Peningkatan KB dan Penurunan Stunting
Ada sejumlah indikator dalam pendataan keluarga ini. Seperti, kepala keluarga berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur. Kemudian individu dalam keluarga menurut jenis kelamin dan kelompok umur, kepala keluarga berdasarkan jenis pekerjaan.Disajikan pula data terkait kepala keluarga berdasarkan pendidikan terakhir, hingga indikator keluarga berencana.
Dari hasil pendataan keluarga ini, diketahui ada 17% kepala keluarga perempuan di Sulsel. Artinya kata Andi Ritamariani, ada 17% keluarga di Sulsel yang dikepalai oleh seorang perempuan atau janda.
Sementara dari indikator pekerjaan, terdapat 12,36 persen KK yang tidak atau belum bekerja. Kabupaten Barru menjadi daerah peringkat pertama dalam persentase KK yang tidak atau belum bekerja. Sementara Kota Makassar peringkat pertama dalam KK pekerja lepas.
Baca juga:KKB Papua Ditetapkan Jadi Teroris, Komnas HAM: Perpanjang Siklus Kekerasan
Sementara khusus indikator keluarga berencana, BKKBN Sulsel menemukan 55,84% dari total keluarga yang terdata sebagai pasangan usia subur. Dari jumlah itu, hanya setengah yang menjadi peserta keluarga berencana (KB), dengan penggunaan kontrasepsi jenis suntik paling dominan.
"Dari data ini juga ditemukan bahwa 1.942.950 dari keseluruhan keluarga yang didata tinggal di rumah layak huni, atau 90,57%. Hanya 9,43% keluarga yang tinggal di rumah tidak layak huni," urai Andi Ritamariani.
Sementara soal sumber air minum, 1.959.674 keluarga di Sulsel memiliki sumber air minum utama layak. Adapun sumber air minum layak memenuhisalah satu kriteria berikut, yakni air kemasan/isi ulang, ledeng/PAM, sumur BOR, dan sumur terlindungi.
Baca juga:152 Ribu Keluarga di Maros Bakal Didata, Kelarga Wabup jadi Pertama
Soal urusan sanitasi layak, ada 1.848.066 atau 86.15% dari 2.145.260 keluarga di Sulsel yang terdata telah memiliki jamban dengan septic tank. Sementara 13.85% keluarga lainnya memiliki jamban yang tidak layak.
Dari 2.145.260 keluarga yang didata itu pula, diketahui 572.419 keluarga yang memiliki anggota keluarga lanjut usia (lansia), serta 557.432 keluarga yang memiliki bayi.
"Pendataan keluarga Sulsel berada di urutan ketiga dari 34 provinsi, karena dapat menyelesaikan tepat waktu dan sesuai target. Sulsel terbaik setelah Yogyakarta dan Bangka Belitung," ucap Kepala Perwakilan BKKBN Sulsel, Andi Ritamariani saat diseminasi hasil pendataan keluarga 2021, Jumat (31/12).
Baca juga:BKKBN Sulsel Gandeng 26 Perguruan Tinggi untuk Atasi Stunting
Andi Ritamariani menjelaskan, pendataan keluarga 2021 dilakukan pada periode 1 April hingga 31 Mei 2021. Tenaga yang digunakan untuk melakukan pendataan ini adalah warga lokal, yang mengetahui persis kondisi keluarga di daerahnya.
Pendataan keluarga ini kataKepala BKKBN Sulsel merupakan hal penting bagi pemerintah dalam menyediakan basis data keluarga untuk intervensi program pembangunan keluarga, kependudukan, keluarga berencana (bangga kencana), dan program pembangunan lain.
"Ini adalah dasar untuk menyusun perencanaan, apa sebenarnya yang harus dilakukan oleh pemerintah. Ini adalah peta kerja. Bukan hanya bagi internal BKKBN , tapi data ini juga bisa digunakan instansi terkait," tambah Kepala BKKBN Sulsel.
Baca juga:BKKBN Sulsel Terus Dorong Peningkatan KB dan Penurunan Stunting
Ada sejumlah indikator dalam pendataan keluarga ini. Seperti, kepala keluarga berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur. Kemudian individu dalam keluarga menurut jenis kelamin dan kelompok umur, kepala keluarga berdasarkan jenis pekerjaan.Disajikan pula data terkait kepala keluarga berdasarkan pendidikan terakhir, hingga indikator keluarga berencana.
Dari hasil pendataan keluarga ini, diketahui ada 17% kepala keluarga perempuan di Sulsel. Artinya kata Andi Ritamariani, ada 17% keluarga di Sulsel yang dikepalai oleh seorang perempuan atau janda.
Sementara dari indikator pekerjaan, terdapat 12,36 persen KK yang tidak atau belum bekerja. Kabupaten Barru menjadi daerah peringkat pertama dalam persentase KK yang tidak atau belum bekerja. Sementara Kota Makassar peringkat pertama dalam KK pekerja lepas.
Baca juga:KKB Papua Ditetapkan Jadi Teroris, Komnas HAM: Perpanjang Siklus Kekerasan
Sementara khusus indikator keluarga berencana, BKKBN Sulsel menemukan 55,84% dari total keluarga yang terdata sebagai pasangan usia subur. Dari jumlah itu, hanya setengah yang menjadi peserta keluarga berencana (KB), dengan penggunaan kontrasepsi jenis suntik paling dominan.
"Dari data ini juga ditemukan bahwa 1.942.950 dari keseluruhan keluarga yang didata tinggal di rumah layak huni, atau 90,57%. Hanya 9,43% keluarga yang tinggal di rumah tidak layak huni," urai Andi Ritamariani.
Sementara soal sumber air minum, 1.959.674 keluarga di Sulsel memiliki sumber air minum utama layak. Adapun sumber air minum layak memenuhisalah satu kriteria berikut, yakni air kemasan/isi ulang, ledeng/PAM, sumur BOR, dan sumur terlindungi.
Baca juga:152 Ribu Keluarga di Maros Bakal Didata, Kelarga Wabup jadi Pertama
Soal urusan sanitasi layak, ada 1.848.066 atau 86.15% dari 2.145.260 keluarga di Sulsel yang terdata telah memiliki jamban dengan septic tank. Sementara 13.85% keluarga lainnya memiliki jamban yang tidak layak.
Dari 2.145.260 keluarga yang didata itu pula, diketahui 572.419 keluarga yang memiliki anggota keluarga lanjut usia (lansia), serta 557.432 keluarga yang memiliki bayi.
(luq)
Lihat Juga :