Makin Matang, Pengembangan Pesawat Haerul Masuk Tahap Uji Coba
Jum'at, 31 Desember 2021 - 09:30 WIB
loading...
A
A
A
Ketua Tim PPH FT Unhas, Nasaruddin Salam menjelaskan pengkajian desain pesawat ultralight telah dirancang sejak Agustus 2020 lalu. Pesawat ultralight model sport ini dirancang Tim PPH dengan menggabungkan beberapa disiplin ilmu. Namun, desain awalnya dimulai dari sisi aerodinamika.
Terkait proses penyelesaian pesawat, Nasaruddin mengatakan tantangan yang dihadapi pada kelengkapan komponen mesin yakni engine dan black box yang langsung didatangkan dari Amerika. Namun, secara menyeluruh komponen lainnya merupakan buatan langsung dari Unhas.
"Pesawat ini sudah selesai, tinggal dilakukan uji coba secara menyeluruh mulai dari sistem kontrol, uji coba terbang hingga daya dorong. Karena pesawat ini awalnya dari Pinrang, maka kita akan kembalikan lagi ke daerah asalnya. Seluruh pembiayaan merupakan dana internal dari Unhas dengan masa pengerjaan hingga selesai kurang lebih membutuhkan waktu satu tahun," ungkapnya.
Haerul menjadi viral di seluruh Indonesia menyusul keberhasilannya menerbangkan pesawat rakitan sendiri. Pesawat tersebut dibuat secara otodidak. Walaupun secara faktual dapat terbang, namun belum memiliki standarisasi keamanan dan kelayakan. Untuk mendukung inovasi Haerul, FT Unhas kemudian berkolaborasi mengembangkan desain dan standarisasi pesawat rakitannya.
Pesawat Haerul yang dikembangkan oleh Tim PPH Unhas memiliki maksimal kecepatan terbang hingga 160 km/jam, serta jarak tempuh 482,7 kilometer dengan ketinggian jelajah 1.524 meter.
Pesawat yang memuat dua penumpang tersebut mampu menerima beban hingga 596 kilogram. Setiap penumpang memiliki maksimal berat rata-rata 65 kilogram.
Terkait proses penyelesaian pesawat, Nasaruddin mengatakan tantangan yang dihadapi pada kelengkapan komponen mesin yakni engine dan black box yang langsung didatangkan dari Amerika. Namun, secara menyeluruh komponen lainnya merupakan buatan langsung dari Unhas.
"Pesawat ini sudah selesai, tinggal dilakukan uji coba secara menyeluruh mulai dari sistem kontrol, uji coba terbang hingga daya dorong. Karena pesawat ini awalnya dari Pinrang, maka kita akan kembalikan lagi ke daerah asalnya. Seluruh pembiayaan merupakan dana internal dari Unhas dengan masa pengerjaan hingga selesai kurang lebih membutuhkan waktu satu tahun," ungkapnya.
Haerul menjadi viral di seluruh Indonesia menyusul keberhasilannya menerbangkan pesawat rakitan sendiri. Pesawat tersebut dibuat secara otodidak. Walaupun secara faktual dapat terbang, namun belum memiliki standarisasi keamanan dan kelayakan. Untuk mendukung inovasi Haerul, FT Unhas kemudian berkolaborasi mengembangkan desain dan standarisasi pesawat rakitannya.
Pesawat Haerul yang dikembangkan oleh Tim PPH Unhas memiliki maksimal kecepatan terbang hingga 160 km/jam, serta jarak tempuh 482,7 kilometer dengan ketinggian jelajah 1.524 meter.
Pesawat yang memuat dua penumpang tersebut mampu menerima beban hingga 596 kilogram. Setiap penumpang memiliki maksimal berat rata-rata 65 kilogram.
Lihat Juga :