Anggota DPRD DKI Kenneth Nilai Pembangunan Sumur Resapan Kurang Kajian Mendalam
Kamis, 09 Desember 2021 - 14:01 WIB
loading...
A
A
A
Kent juga menilai sumur resapan tak begitu cocok di DKI Jakarta yang daya serap tanahnya rendah. Hal itu tentu harus benar-benar melalui kajian yang matang supaya sumur resapan tidak berakhir sebagai kolam penampungan, karena gagal mengurangi genangan dan menambah cadangan air tanah.
Permasalahan banjir yang terjadi di Jakarta, lanjut dia, rata-rata adalah bagian dari pengelolaan tata ruang yang bermasalah, dan bencana banjir akan selesai jika sarana dan prasarana tertata dengan baik. Seluruh sistem yang dimiliki Pemprov DKI Jakarta harus terintegrasi dengan baik, seperti pompa air, sungai, dan aliran drainase.
"Menurut saya, yang paling cocok untuk penanganan banjir jangka panjang ya harus melakukan revitalisasi, perbaikan saluran air komunal di pemukiman padat dan perumahan yang salurannya tidak berfungsi dengan baik secara simultan dan terprogram. Sebab rata-rata drainase yang saya temukan di beberapa pemukiman padat penduduk, sangat buruk dan rata rata problematika yang saya lihat kebanyakan sama, setelah itu baru lakukan normalisasi kali atau sungai, mulai untuk memasang sheet pile di semua kali di Jakarta. Saya yakin jika sheet pile seluruhnya terpasang, baik di Kali Angke, Kali Pesanggarahan, dan Kali Ciliwung, banjir dikarenakan air kiriman dari Hulu akan bisa teratasi dengan tuntas," bebernya.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebelumnya sudah menginstruksikan seluruh jajaran dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk mengawasi kontraktor yang mengerjakan drainase vertikal (sumur resapan) di setiap titik Jakarta. Jajarannya diminta memanggil dan menegur para kontraktor untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul sesuai dengan prosedur sekaligus standar durasi waktu penuntasan permasalahan tersebut.
Sebenarnya, kata Kent, kesalahan tidak bisa juga sepenuhnya dibebankan kepada pihak penyedia. Menurut Kent, Gubernur Anies harusnya melakukan pengawasan dan paham segala kegiatan yang sifatnya prioritas. Apalagi program ini masuk dalam salah satu program unggulan. Hal itu dilakukan agar tidak sekadar menerima laporan dari anak buah yang 'Asal Bapak Senang'.
Permasalahan banjir yang terjadi di Jakarta, lanjut dia, rata-rata adalah bagian dari pengelolaan tata ruang yang bermasalah, dan bencana banjir akan selesai jika sarana dan prasarana tertata dengan baik. Seluruh sistem yang dimiliki Pemprov DKI Jakarta harus terintegrasi dengan baik, seperti pompa air, sungai, dan aliran drainase.
"Menurut saya, yang paling cocok untuk penanganan banjir jangka panjang ya harus melakukan revitalisasi, perbaikan saluran air komunal di pemukiman padat dan perumahan yang salurannya tidak berfungsi dengan baik secara simultan dan terprogram. Sebab rata-rata drainase yang saya temukan di beberapa pemukiman padat penduduk, sangat buruk dan rata rata problematika yang saya lihat kebanyakan sama, setelah itu baru lakukan normalisasi kali atau sungai, mulai untuk memasang sheet pile di semua kali di Jakarta. Saya yakin jika sheet pile seluruhnya terpasang, baik di Kali Angke, Kali Pesanggarahan, dan Kali Ciliwung, banjir dikarenakan air kiriman dari Hulu akan bisa teratasi dengan tuntas," bebernya.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebelumnya sudah menginstruksikan seluruh jajaran dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk mengawasi kontraktor yang mengerjakan drainase vertikal (sumur resapan) di setiap titik Jakarta. Jajarannya diminta memanggil dan menegur para kontraktor untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul sesuai dengan prosedur sekaligus standar durasi waktu penuntasan permasalahan tersebut.
Sebenarnya, kata Kent, kesalahan tidak bisa juga sepenuhnya dibebankan kepada pihak penyedia. Menurut Kent, Gubernur Anies harusnya melakukan pengawasan dan paham segala kegiatan yang sifatnya prioritas. Apalagi program ini masuk dalam salah satu program unggulan. Hal itu dilakukan agar tidak sekadar menerima laporan dari anak buah yang 'Asal Bapak Senang'.
(thm)
Lihat Juga :