1.000 Lebih Klaster Gowa Belum Terlacak di Kalimantan Selatan
Minggu, 07 Juni 2020 - 16:32 WIB
loading...
Ketua Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Nasional Letjen TNI Doni Monardo bersama Menkes Letjen TNI Terawan Agus Putranto dan Menko PMK Muhadjir Effendy saat berkunjung ke Kalsel, Minggu (7/6/2020). Foto/iNews TV/Deny M Yunus
A
A
A
BANJARBARU - Dari dua ribu warga Kalimantan Selatan ( Kalsel ) yang punya riwayat perjalanan ke Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu, baru sekitar 900 orang yang melapor dan memeriksakan diri untuk tes COVID-19. Banyak di antara mereka yang sudah melapor tersebut dinyatakan positif terinfeksi COVID-19 bahkan meninggal dunia.
Hal ini diungkapkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo saat berkunjung ke Kalsel, Minggu (7/6/2020). Doni yang juga Ketua Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Nasional berkunjung ke Kalsel bersama Menteri Kesehatan Letjen TNI Terawan Agus Putranto dan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy. (Baca juga: BIN Perpanjang Rapid Test Massal di Surabaya hingga 15 Juni)
Rombongan mengawali kunjungan ke Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Banjarbaru yang memiliki alat uji swab PCR untuk mendeteksi COVID-19. Kunjungan dilanjutkan pertemuan dengan Gubernur Kalsel Sahbirin Noor dan bupati serta wali kota di Gedung KH Idham Chalid diperkantoran Sekdaprov Kalsel di Banjarbaru. (Baca juga: Kasus WNI di Luar Negeri Positif COVID-19 Tembus 1.010 Orang)
Doni meminta, seribu lebih warga Kalsel yang punya riwayat perjalanan ke Gowa itu secara sukarela melaporkan ke petugas untuk memeriksakan diri apakah terinfeksi virus corona atau tidak. "Hal ini sangat penting untuk memutus mata rantai penularan virus corona. Karena apabila belum ditemukan, berpotensi menularkan ke masyarakat lainnya. Mungkin bagi yang usia muda atau imunnya kuat, tidak akan berpengaruh. Tapi bagi yang beresiko tinggi, dampaknya akan fatal," ujarnya.
Informasi berikutnya, ujar Doni, dari seluruh angka kematian di Kalsel, sebanyak 60% merupakan pasien positif yang punya riwayat perjalanan dari Gowa. Karena itu, pemerintah daerah diminta untuk menangani pandemi COVID-19 ini dengan pendekatan kearifan lokal. Seperti melibatkan tokoh masyarakat, agama, adat dan kepemudaan.
Hal ini diungkapkan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo saat berkunjung ke Kalsel, Minggu (7/6/2020). Doni yang juga Ketua Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Nasional berkunjung ke Kalsel bersama Menteri Kesehatan Letjen TNI Terawan Agus Putranto dan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy. (Baca juga: BIN Perpanjang Rapid Test Massal di Surabaya hingga 15 Juni)
Rombongan mengawali kunjungan ke Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Banjarbaru yang memiliki alat uji swab PCR untuk mendeteksi COVID-19. Kunjungan dilanjutkan pertemuan dengan Gubernur Kalsel Sahbirin Noor dan bupati serta wali kota di Gedung KH Idham Chalid diperkantoran Sekdaprov Kalsel di Banjarbaru. (Baca juga: Kasus WNI di Luar Negeri Positif COVID-19 Tembus 1.010 Orang)
Doni meminta, seribu lebih warga Kalsel yang punya riwayat perjalanan ke Gowa itu secara sukarela melaporkan ke petugas untuk memeriksakan diri apakah terinfeksi virus corona atau tidak. "Hal ini sangat penting untuk memutus mata rantai penularan virus corona. Karena apabila belum ditemukan, berpotensi menularkan ke masyarakat lainnya. Mungkin bagi yang usia muda atau imunnya kuat, tidak akan berpengaruh. Tapi bagi yang beresiko tinggi, dampaknya akan fatal," ujarnya.
Informasi berikutnya, ujar Doni, dari seluruh angka kematian di Kalsel, sebanyak 60% merupakan pasien positif yang punya riwayat perjalanan dari Gowa. Karena itu, pemerintah daerah diminta untuk menangani pandemi COVID-19 ini dengan pendekatan kearifan lokal. Seperti melibatkan tokoh masyarakat, agama, adat dan kepemudaan.
Lihat Juga :