Kisah Kekejaman Raja Amangkurat I Bunuh 6.000 Ulama, Termasuk Adik dan Ayah Mertuanya
Selasa, 30 November 2021 - 05:03 WIB
loading...
A
A
A
Keutamaan yang dimiliki mendiang ayahnya Sultan Agung, sedikit pun tidak diwariskan kepada Amangkurat I. Seperti ditulis Ricklefs dalam War, Culture, and Economy in Java 1677-1726 (1993) bahwa sebagai pemimpin, Amangkurat I tidak memiliki kreativitas.“Jika Sultan Agung menaklukkan, menggertak, membujuk, dan bermanuver, Amangkurat I menuntut dan membantai. ”
Amangkurat I, tulis Ricklefs, tidak memperhatikan keseimbangan dalam berpolitik, sesuatu yang amat dibutuhkan dalam pemerintahan Jawa abad ke-17. Dia membangun kekuasaan terpusat dengan tujuan menyenangkan kepentingannya sendiri. Akibat, dia terasing dari semua aparatus pemerintahan: para pangeran, patih, tumenggung, dan pemuka agama.
Dalam keterasingan itu, raja mencurigai setiap orang yang berada di dekatnya. Hasrat kekuasaan membuat dia gelap mata dan membunuh semua ulama yang sesungguhnya basis yang kokoh dalam kerajaannya.Dalam babad-babad tradisional, tindakan gelap mata seorang penguasa adalah pertanda datangnya periode dekadensi sebuah negara.
Bagi masyarakat Jawa, perilaku demikian dianggap sangat tidak pantas. Pujangga Yasadipura dalam Serat Rama (1770) menjelaskan bahwa seorang raja yang menuruti nafsu amarah yang tak terkendali, hanya karena ingin dipatuhi dan ditakuti, akan dikutuk.
Mataram akhirnya memang terkutuk hingga runtuh. Kekuasaannya semakin melemah seiring menguatnya pengaruh VOC yang menggerus basis ekonominya. Ketika seorang pangeran dari Madura, yaitu Trunajaya melancarkan serangan ke keraton Mataram pada awal 1677, Mataram pun berakhir. Amangkurat I dan keluarganya melarikan diri meminta perlindungan VOC.
Sumber: wikipedia, okezone.com, Tirto.id
Amangkurat I, tulis Ricklefs, tidak memperhatikan keseimbangan dalam berpolitik, sesuatu yang amat dibutuhkan dalam pemerintahan Jawa abad ke-17. Dia membangun kekuasaan terpusat dengan tujuan menyenangkan kepentingannya sendiri. Akibat, dia terasing dari semua aparatus pemerintahan: para pangeran, patih, tumenggung, dan pemuka agama.
Dalam keterasingan itu, raja mencurigai setiap orang yang berada di dekatnya. Hasrat kekuasaan membuat dia gelap mata dan membunuh semua ulama yang sesungguhnya basis yang kokoh dalam kerajaannya.Dalam babad-babad tradisional, tindakan gelap mata seorang penguasa adalah pertanda datangnya periode dekadensi sebuah negara.
Bagi masyarakat Jawa, perilaku demikian dianggap sangat tidak pantas. Pujangga Yasadipura dalam Serat Rama (1770) menjelaskan bahwa seorang raja yang menuruti nafsu amarah yang tak terkendali, hanya karena ingin dipatuhi dan ditakuti, akan dikutuk.
Mataram akhirnya memang terkutuk hingga runtuh. Kekuasaannya semakin melemah seiring menguatnya pengaruh VOC yang menggerus basis ekonominya. Ketika seorang pangeran dari Madura, yaitu Trunajaya melancarkan serangan ke keraton Mataram pada awal 1677, Mataram pun berakhir. Amangkurat I dan keluarganya melarikan diri meminta perlindungan VOC.
Sumber: wikipedia, okezone.com, Tirto.id
(don)
Lihat Juga :