Kelenteng Ancol, Simbol Kerukunan Umat Konghucu, Budha, Tao, dan Muslim
Kamis, 25 November 2021 - 17:47 WIB
loading...
A
A
A
Ruangan tersebut berada di bagian belakang vihara, tepat di makam Mbah Said Areli Dato Kembang dan Ibu Enneng. Karena keempatnya adalah seorang muslim, vihara ini pun tak hanya menjadi milik umat Konghuchu, Budha, atau Tao saja. Beberapa umat Islam, secara rutin juga datang untuk berziarah ke makam.
Menurut salah seorang pengurus Vihara Bahtera Bhakti, Apriyanto, sepanjang perjalanannya, bangunan ini telah berganti nama beberapa kali. Awalnya, dikenal dengan nama Kelenteng Da Bo Gong, lalu berganti menjadi Kelenteng Ancol, dan kemudian menggunakan nama sekarang.
"Dulu dikenal dengan nama Da Bo Gong, penyembah Dewa Bumi. Terus berganti jadi Kelenteng Ancol karena letaknya di daerah Ancol. Tahun 1984, kita berubah lagi jadi Vihara Bahtera Bhakti," jelas Apriyanto.
Kelenteng ini mulai banyak dikunjungi umat sejak abad ke-17. Tak hanya umat Konghucu, Buddha, atau Tao, tetapi umat Islam pun datang melakukan ziarah untuk mendoakan keempat orang muslim, Sampo Soei Soe, Siti Wati, Mbah Areli Dato Kembang, dan Ibu Enneng. Baca: 10 Restoran dan Tempat Ngopi Asyik di Tangerang, Pokoknya Nggak Bakal Mengecewakan
Khusus untuk altar pemujaan Ibu Siti Wati dan Sampo Soei Soe, serta makam Mbah Areli Dato Kembang dan Ibu Enneng, umat tidak diperkenankan untuk membawa sajian yang berbahan dasar daging babi. Umat Budha dan Konghucu di Kelenteng Ancol sangat menghormati empat orang muslim tersebut.
Juru kunci makam Mbah Areli dan Ibu Enneg, Suparto (30), banyak peziarah Kelenteng Ancol yang menghantar doa untuk kedua tokoh tersebut. Sebelum menuju ruang utama terdapat koridor beratap. Di kanan kiri koridor terdapat kolam dan sungai yang telah mati akibat penutupan aliran oleh pengembang fasilitas rekreasi di Ancol.
Sungai yang dahulu dipercaya tempat berlabuhnya kapal empunya Klenteng Ancol—Sampo Seoi Soe—kini telah menjadi kolam. Sebuah pompa air dipasang di ujung tembok kolam untuk mengantisipasi meluapnya air saat kolam tak mampu menampung banyaknya air hujan.
Menurut salah seorang pengurus Vihara Bahtera Bhakti, Apriyanto, sepanjang perjalanannya, bangunan ini telah berganti nama beberapa kali. Awalnya, dikenal dengan nama Kelenteng Da Bo Gong, lalu berganti menjadi Kelenteng Ancol, dan kemudian menggunakan nama sekarang.
"Dulu dikenal dengan nama Da Bo Gong, penyembah Dewa Bumi. Terus berganti jadi Kelenteng Ancol karena letaknya di daerah Ancol. Tahun 1984, kita berubah lagi jadi Vihara Bahtera Bhakti," jelas Apriyanto.
Kelenteng ini mulai banyak dikunjungi umat sejak abad ke-17. Tak hanya umat Konghucu, Buddha, atau Tao, tetapi umat Islam pun datang melakukan ziarah untuk mendoakan keempat orang muslim, Sampo Soei Soe, Siti Wati, Mbah Areli Dato Kembang, dan Ibu Enneng. Baca: 10 Restoran dan Tempat Ngopi Asyik di Tangerang, Pokoknya Nggak Bakal Mengecewakan
Khusus untuk altar pemujaan Ibu Siti Wati dan Sampo Soei Soe, serta makam Mbah Areli Dato Kembang dan Ibu Enneng, umat tidak diperkenankan untuk membawa sajian yang berbahan dasar daging babi. Umat Budha dan Konghucu di Kelenteng Ancol sangat menghormati empat orang muslim tersebut.
Juru kunci makam Mbah Areli dan Ibu Enneg, Suparto (30), banyak peziarah Kelenteng Ancol yang menghantar doa untuk kedua tokoh tersebut. Sebelum menuju ruang utama terdapat koridor beratap. Di kanan kiri koridor terdapat kolam dan sungai yang telah mati akibat penutupan aliran oleh pengembang fasilitas rekreasi di Ancol.
Sungai yang dahulu dipercaya tempat berlabuhnya kapal empunya Klenteng Ancol—Sampo Seoi Soe—kini telah menjadi kolam. Sebuah pompa air dipasang di ujung tembok kolam untuk mengantisipasi meluapnya air saat kolam tak mampu menampung banyaknya air hujan.
Lihat Juga :