Metamorfosis Jakarta, Berawal dari Pesisir dan Upaya Meninggalkan Corak Kolonial (2-tamat)
Jum'at, 12 November 2021 - 05:59 WIB
loading...
A
A
A
Beberapa pembangunan yang dilakukan era jenderal angkatan laut itu adalah Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian jaya Ancol, dan kota satelit Pluit. Bang Ali pun menjadikan Condet sebagai kawasan pelestarian kebudayaan Betawi. Ary mengatakan Ali Sadikin tidak hanya fokus pada hal-hal yang bersifat fisik.
baca juga: Monas, Pembangunan Tugu yang Memakan Waktu hingga 3 Periode
Saat menjabat, ia juga memperbaiki kampung-kampung kumuh melalui program Kampung Improvement Project (IKP). Di masa lalu, ada program sejenis yang bernama kampong verbetering. Pemerintah saat itu berusaha untuk menyediakan air bersih dan perbaikan sarana dan prasarana, seperti jalan. Kemudian, Ali Sadikin pun melakukan pemugaran bangunan-bangunan peninggalan kolonial.
![Metamorfosis Jakarta, Berawal dari Pesisir dan Upaya Meninggalkan Corak Kolonial (2-tamat)]()
Pelabuhan Sunda Kelapa
“Pada waktu itu, investor sudah banyak datang. Kebijakan-kebijakan beliau, pajak-pajak untuk pembangunan dan kebutuhan masyarakat Jakarta, termasuk (meraup) devisa. Kemudian, (beliau) melakukan penanaman pulau di Kepulauan Seribu, termasuk Pulau Bidadari. Tujuan beliau adalah untuk menarik devisa dari pariwisata,” jelasnya.
baca juga: Anies Ceritakan 76 Tahun Lalu Separuh Warga Jakarta Pernah Berkumpul di Monas
Sementara itu, Sejarawan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Humaidi Syariati mengungkapkan fakta yang jarang diungkapkan ke publik bahwa Soekarno pada masa awal sudah merancang Jakarta sebagai kota pendidikan. Pada tahun 1952, Soekarno meletakkan pembangunan Prasasti Kota Mahasiswa di Rawamangun, Jakarta Timur, yang sekarang menjadi UNJ. Kawasan ini awalnya sebagai perluasan kampus UI Salemba.
Dia menduga Soekarno ingin meninggalkan Salemba karena masih terlalu kuat nuansa kolonialnya. “Jakarta di-setting Soekarno tidak hanya kota warisan kolonial, tapi dia memiliki tempat dan titik baru untuk pendidikan. Pembangunan kemerdekaan, bangunan yang wajah baru agar tidak terlalu menostalgiakan bangunan Belanda,” pungkasnya.
baca juga: Monas, Pembangunan Tugu yang Memakan Waktu hingga 3 Periode
Saat menjabat, ia juga memperbaiki kampung-kampung kumuh melalui program Kampung Improvement Project (IKP). Di masa lalu, ada program sejenis yang bernama kampong verbetering. Pemerintah saat itu berusaha untuk menyediakan air bersih dan perbaikan sarana dan prasarana, seperti jalan. Kemudian, Ali Sadikin pun melakukan pemugaran bangunan-bangunan peninggalan kolonial.

Pelabuhan Sunda Kelapa
“Pada waktu itu, investor sudah banyak datang. Kebijakan-kebijakan beliau, pajak-pajak untuk pembangunan dan kebutuhan masyarakat Jakarta, termasuk (meraup) devisa. Kemudian, (beliau) melakukan penanaman pulau di Kepulauan Seribu, termasuk Pulau Bidadari. Tujuan beliau adalah untuk menarik devisa dari pariwisata,” jelasnya.
baca juga: Anies Ceritakan 76 Tahun Lalu Separuh Warga Jakarta Pernah Berkumpul di Monas
Sementara itu, Sejarawan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Humaidi Syariati mengungkapkan fakta yang jarang diungkapkan ke publik bahwa Soekarno pada masa awal sudah merancang Jakarta sebagai kota pendidikan. Pada tahun 1952, Soekarno meletakkan pembangunan Prasasti Kota Mahasiswa di Rawamangun, Jakarta Timur, yang sekarang menjadi UNJ. Kawasan ini awalnya sebagai perluasan kampus UI Salemba.
Dia menduga Soekarno ingin meninggalkan Salemba karena masih terlalu kuat nuansa kolonialnya. “Jakarta di-setting Soekarno tidak hanya kota warisan kolonial, tapi dia memiliki tempat dan titik baru untuk pendidikan. Pembangunan kemerdekaan, bangunan yang wajah baru agar tidak terlalu menostalgiakan bangunan Belanda,” pungkasnya.
(hdr)
Lihat Juga :