Manipulasi Data Vaksinasi COVID-19, Oknum Perawat di Makassar Terancam 12 Tahun Penjara
Senin, 25 Oktober 2021 - 23:51 WIB
loading...
A
A
A
Dia menerangkan, ada sebanyak 179 orang warga yang berhasil dimasukan datanya oleh FT, tanpa pernah melakukan vaksinasi COVID-19.
“Saudara WD ini memungut uang dari korban sebesar Rp50.000 untuk bisa diterbitkan sertifikat vaksinnya," ungkap perwira pertama Polri tiga balok ini.
Baca juga: Oknum Perawat di Bitung Ditangkap Polisi Palsukan Surat Swab Antigen
Jufri menyebutkan dalam aksinya, WD bertugas mencari warga yang ingin terbitkan surat vaksin COVID-19, tapi tidak mau ikut vaksinasi. Kebanyakan warganya tinggal di Kota Makassar.
“Jadi NIK sama nomor handphone dikumpulkan oleh lelaki WD. Kemudian disetor ke FT untuk diinput ke aplikasi P-Care,” tuturnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, Nursaidah Sirajuddin menjelaskan, kasus ini diketahui setelah menelusuri perbandingan data 179 orang yang punya kartu vaksin dengan jumlah dosis vaksin yang tersedia. “Di bulan September kami cek, kenapa ada yang tidak sesuai datanya,” imbuhnya.
Sebagian besar warga korban suket vaksin palsu berasal dari wilayah Paccerakkang. Nursaidah bilang, data itu kemudian dia laporkan ke Wali Kota Makassar, lalu ditindak lanjuti dengan pengecekan ulang.
“Saudara WD ini memungut uang dari korban sebesar Rp50.000 untuk bisa diterbitkan sertifikat vaksinnya," ungkap perwira pertama Polri tiga balok ini.
Baca juga: Oknum Perawat di Bitung Ditangkap Polisi Palsukan Surat Swab Antigen
Jufri menyebutkan dalam aksinya, WD bertugas mencari warga yang ingin terbitkan surat vaksin COVID-19, tapi tidak mau ikut vaksinasi. Kebanyakan warganya tinggal di Kota Makassar.
“Jadi NIK sama nomor handphone dikumpulkan oleh lelaki WD. Kemudian disetor ke FT untuk diinput ke aplikasi P-Care,” tuturnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, Nursaidah Sirajuddin menjelaskan, kasus ini diketahui setelah menelusuri perbandingan data 179 orang yang punya kartu vaksin dengan jumlah dosis vaksin yang tersedia. “Di bulan September kami cek, kenapa ada yang tidak sesuai datanya,” imbuhnya.
Sebagian besar warga korban suket vaksin palsu berasal dari wilayah Paccerakkang. Nursaidah bilang, data itu kemudian dia laporkan ke Wali Kota Makassar, lalu ditindak lanjuti dengan pengecekan ulang.
Lihat Juga :