Pariwisata Akan Dibuka, Emil: Hanya Jika Tak Ada Lonjakan COVID-19
Rabu, 03 Juni 2020 - 16:00 WIB
loading...
A
A
A
Diketahui, penerapan new normal di Jabar dilakukan secara bertahap yang dimulai dengan pembukaan tempat-tempat ibadah dengan kapasitas yang dibatasi sejak 1 Juni 2020 lalu.
Selain tempat ibadah, aktivitas ekonomi pun dapat mulai dibuka dengan tahap awal perkantoran dan industri yang dinilai berisiko kecil dalam penyebaran COVID-19, namun berdampak besar terhadap aktivitas ekonomi.
(Baca: Jika Mal di Kota Bandung Boleh Buka, Tiga Gerai Ini Dilarang Beroperasi)
Tahap selanjutnya, yakni pembukaan aktivitas ritel, mal, serta tempat-tempat usaha lainnya dengan protokol kesehatan yang ketat. Daerah yang menerapkan new normal juga dapat mulai membuka sektor pariwisata, meski secara bertahap dan dengan kapasitas yang terbatas.
Terkait teknis tahapan, new normal akan dipantau selama 14 hari ke depan sesuai dengan masa inkubasi COVID-19. Meski begitu, berdasarkan kesepakatan dengan bupati/wali kota, evaluasi akan dilakukan setiap tujuh hari.
"Contohnya, kita mulai industri dan perkantoran. Nanti dievaluasi tujuh hari, oh ternyata tidak ada macam-macam, tidak ada gejolak. Baru masuk yang namanya ke high risk, ke ritel, mal, dan pariwisata," jelas Kang Emil.
Selain tempat ibadah, aktivitas ekonomi pun dapat mulai dibuka dengan tahap awal perkantoran dan industri yang dinilai berisiko kecil dalam penyebaran COVID-19, namun berdampak besar terhadap aktivitas ekonomi.
(Baca: Jika Mal di Kota Bandung Boleh Buka, Tiga Gerai Ini Dilarang Beroperasi)
Tahap selanjutnya, yakni pembukaan aktivitas ritel, mal, serta tempat-tempat usaha lainnya dengan protokol kesehatan yang ketat. Daerah yang menerapkan new normal juga dapat mulai membuka sektor pariwisata, meski secara bertahap dan dengan kapasitas yang terbatas.
Terkait teknis tahapan, new normal akan dipantau selama 14 hari ke depan sesuai dengan masa inkubasi COVID-19. Meski begitu, berdasarkan kesepakatan dengan bupati/wali kota, evaluasi akan dilakukan setiap tujuh hari.
"Contohnya, kita mulai industri dan perkantoran. Nanti dievaluasi tujuh hari, oh ternyata tidak ada macam-macam, tidak ada gejolak. Baru masuk yang namanya ke high risk, ke ritel, mal, dan pariwisata," jelas Kang Emil.
Lihat Juga :