Siasat PSK Online Pemain Baru Rangkul Pelanggan
Kamis, 14 Oktober 2021 - 15:09 WIB
loading...
Aida (21), PSK online yang mengaku baru 3 bulan berkecimpung di bisnis prostitusi punya siasat atau trik merangkul pelanggan. Foto: Ist
A
A
A
JAKARTA - Sebagai pemain baru di dunia prostitusi online , Aida (21) harus pintar-pintar menjajakan diri. PSK online yang mengaku baru 3 bulan berkecimpung di bisnis esek-esek ini punya siasat atau trik merangkul pelanggan.
Seperti teman-teman lainnya yang lebih dulu terjun di prostitusi online, dia ikut menyewa apartemen di kawasan Kembangan, Jakarta Barat. Sebagai pendatang baru, Aida hanya mematok tarif Rp300 ribu sekali kencan.
“Saya hanya mengandalkan tawaran murah dan rayuan melalui chatting. Di situlah pelanggan mulai berdatangan,” ujar Aida, Kamis (14/10/2021).
Baca juga: PSK Online dan Pengguna Jasa Tak Bisa Pidana, Kok Bisa?
Sebelum terjun sebagai PSK online, dia mengadu nasib sebagai SPG minuman kemasan. Namun, tak berapa lama lantaran tagihan bulanan yang besar tak diimbangi upah yang layak. Dia pun terpaksa menjajakan diri karena tuntutan ekonomi. “Saya bisa kantongi bersih Rp1 juta sebulan. Sisanya sudah saya pisahkan untuk sewa kamar, beli alat kontrasepsi hingga kiriman orang tua ke kampung,” kata Aida.
PSK online lainnya, Wita (25) juga merasakan perjuangan saat baru pertama kali terjun ke bisnis prostitusi. Bedanya, wanita asal Subang, Jawa Barat ini sudah berpengalaman sebagai PSK di salah satu klub malam di Grogol, Jakarta Barat.
Imbas pandemi menyebabkan klub malam tempatnya bekerja tidak beroperasi membuat Wita bekerja mandiri tanpa mami atau mucikari. Sempat menumpang bersama temannya, dia kemudian nekat mengontak sejumlah pelanggannya di tempat bekerja dulu. “Di situlah pelanggan saya kemudian menyarankan untuk freelance,” ujarnya.
Wita lalu mencoba peruntungan dengan mengontrak harian salah satu hotel di Mangga Besar, Taman Sari, Jakarta Barat selama sepekan. Tak kuat biaya yang dikeluarkan, Wita beralih menyewa harian satu unit apartemen di Hayam Wuruk. “Dari Grogol sebulan, saya pindah ke Cempaka Putih dan akhirnya di Cengkareng,” tuturnya.
Baca juga: PSK Online Apartemen, Beni: Tak Sebagus Alexis, tapi Ngga Buruk Kayak Kalijodo
Seperti teman-teman lainnya yang lebih dulu terjun di prostitusi online, dia ikut menyewa apartemen di kawasan Kembangan, Jakarta Barat. Sebagai pendatang baru, Aida hanya mematok tarif Rp300 ribu sekali kencan.
“Saya hanya mengandalkan tawaran murah dan rayuan melalui chatting. Di situlah pelanggan mulai berdatangan,” ujar Aida, Kamis (14/10/2021).
Baca juga: PSK Online dan Pengguna Jasa Tak Bisa Pidana, Kok Bisa?
Sebelum terjun sebagai PSK online, dia mengadu nasib sebagai SPG minuman kemasan. Namun, tak berapa lama lantaran tagihan bulanan yang besar tak diimbangi upah yang layak. Dia pun terpaksa menjajakan diri karena tuntutan ekonomi. “Saya bisa kantongi bersih Rp1 juta sebulan. Sisanya sudah saya pisahkan untuk sewa kamar, beli alat kontrasepsi hingga kiriman orang tua ke kampung,” kata Aida.
PSK online lainnya, Wita (25) juga merasakan perjuangan saat baru pertama kali terjun ke bisnis prostitusi. Bedanya, wanita asal Subang, Jawa Barat ini sudah berpengalaman sebagai PSK di salah satu klub malam di Grogol, Jakarta Barat.
Imbas pandemi menyebabkan klub malam tempatnya bekerja tidak beroperasi membuat Wita bekerja mandiri tanpa mami atau mucikari. Sempat menumpang bersama temannya, dia kemudian nekat mengontak sejumlah pelanggannya di tempat bekerja dulu. “Di situlah pelanggan saya kemudian menyarankan untuk freelance,” ujarnya.
Wita lalu mencoba peruntungan dengan mengontrak harian salah satu hotel di Mangga Besar, Taman Sari, Jakarta Barat selama sepekan. Tak kuat biaya yang dikeluarkan, Wita beralih menyewa harian satu unit apartemen di Hayam Wuruk. “Dari Grogol sebulan, saya pindah ke Cempaka Putih dan akhirnya di Cengkareng,” tuturnya.
Baca juga: PSK Online Apartemen, Beni: Tak Sebagus Alexis, tapi Ngga Buruk Kayak Kalijodo
Lihat Juga :