Bau Anyir Luweng Grubuk, Saksi Sejarah Penumpasan Ribuan Gerombolan PKI di Jogja

Jum'at, 01 Oktober 2021 - 05:00 WIB
loading...
Bau Anyir Luweng Grubuk,...
Bau Anyir Luweng Grubuk, Saksi Sejarah Penumpasan Ribuan Gerombolan PKI di Jogja/Suharjono/Sindonews
A A A
Cerita pagi kali ini menyajikan sebuah penggalan cerita bau anyir Luweng Grubuk, saksi sejarah penumpasan ribuan anggota gerombolan PKI di Jogja . Sebuah kisah yang akan selalu dikenang untuk mengingatkan betapa kejinya PKI.

Suara gemuruh sungai bawah tanah terdengar jelas dari sebuah areal lahan yang jauh dari penduduk. Di tengah lokasi hutan jati terdapat sebuah lubang besar yang dikenal warga Gunungkidul dengan sebutan Luweng.

Tidak nampak jalan khusus menuju lokasi yang dikenal warga sangat angker karena masih sering terdengar jeritan manusia serta bau anyir yang menyengat hingga pemukiman warga. Untuk mendekati luweng yang dinamakan luweng Grubuk ini, ada sebuah jalur jalan petani sekitar di musim kemarau menuju tegalan.

Baca Juga: Kisah Kolonel Masturi Tumpas Gerombolan Pasukan PKI di Pengalengan

Namun ketika musim penghujan tidak nampak lagi jalur sempit itu lantaran digunakan untuk lahan bertani. Semakin dekat suara gemuruh air semakin keras terdengar. Nampak luweng besar atau disebut sinkhole menganga dengan tumbuhan di tengah yang menjulang.

Luweng Grubuk merupakan saksi bisu yang menjadi neraka bagi anggota PKI. Puluhan ribu anggota partai terlarang di Indonesia ini ditumpas oleh rezim Suharto kala itu. Luweng Grubuk terletak di dusun Jetis Wetan, Kalurahan Pacarejo Semanu.
"Dulu para anggota PKI dibawa pakai truk dan parkir di peremapatan jalan dan berjajar. Kemudian mereka dirantai dan diminta berjalan menuju Luweng Grubuk," tutur Santoso warga Kuwangen Lor , Pacarejo Semanu kepada MNC Portal Indonesia, Kamis (30/9/2021).

Diceritakannya, para anggota PKI tiba di lokasi tengah malam. Suara rantai yang mengikat kaki anggota PKI terdengar dari pemukiman warga. Begitu pula dengan jeritan ketika satu persatu mereka masuk ke luweng dan di bawahnya mengalir sungai bawah tanah.

"Ini cerita simbok saya waktu itu warga takut dan hanya mengintip dari dinding bambu rumah. Jumlahnya banyak karena tiap malam datangnya, lebih dari 10 ribu karena bertahun-tahun," tuturnya.

Dilanjutkannya, kejadian pembunuhan ribuan anggota PKI terjadi selama beberapa tahun. Semua dilakukan tengah malam oleh anggota tentara dengan seragam dan senjata lengkap. Pemberantasan PKI ini terjadi sejak tahun 1966 hingga 1969. Bahkan ada yang sampai pagi hari sehingga warga takut keluar rumah untuk ke pasar. Mereka dihentikan tidsk beraktivitas sebelum aksi tentara selesai.

Hingga saat ini warga sekitar masih sering mendengar suara jeritan dari luweng tersebut. Bahkan bau anyir sering muncul. "Ini tadi ada asap kan keluar dan bau anyir,"lanjutnya.

Baca Juga: Ibu dan Anaknya Dibunuh Tanpa Pakaian, Polisi Ungkap Fakta Mencengangkan

Memang benar. Saat reporter MNC Portal Indonesia mendekat, kepulan asap keluar disertai bau anyir. Perlahan lahan asap hilang dan hanya suara derasanya air di bawah tanah dengan kedalaman sekitar 90 meter.

Hingga saat ini tidak ada ada catatan resmi berapa para anggota PKI yang dieksekusi secara massal di Luweng Grubuk. Namun warga percaya jika jumlahnya mencapai puluhan ribu. Kepercayaan ini karena pembantaian selama beberapa tahun dan tiap malam dilakukan.

Meskipun keramat, namun Luweng Grubuk menyimpan eksotisme luar biasa lewat cahaya surga. Sejak dibuka menjadi destinasi wisata minat khusus Gua Jomblang. Wisatawan bisa menikmati keindahan siluet sinar matahari dari dasar gua.
(aww)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Di Balik Kesaktian Pangeran...
Di Balik Kesaktian Pangeran Diponegoro, Ada Keris Pusaka Bernama Kiai Bondoyudo
Kedipan Mata Komandan...
Kedipan Mata Komandan Brimob Bikin Tawanan Tewas Ditembak dari Jarak 5 Meter
Kisah Cinta Sutan Sjahrir...
Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda
196 Tahun Keris Kanjeng...
196 Tahun Keris Kanjeng Kiai Nogo Siluman, Pusaka Pangeran Diponegoro Simbol Kepemimpinan Tanah Jawa
Kisah Jenderal Kopassus...
Kisah Jenderal Kopassus Soegito Pertaruhkan Nyawa saat Hadapi Pemberontak Fretilin
Kisah Pasukan Legiun...
Kisah Pasukan Legiun Mangkunegaran Mampu Menandingi Kekuatan Militer Eropa
Bali Ditinggal, Jogja...
Bali Ditinggal, Jogja Jadi Primadona Wisatawan Lokal
UMP Jogja 2026 Naik...
UMP Jogja 2026 Naik 6,78% Jadi Rp2,41 Juta, Ini Daftar Lengkap Upah Minimum di Tiap Provinsi
Mengulas Kembali Tragedi...
Mengulas Kembali Tragedi Kelam Lubang Buaya: Fakta yang Terjadi
Rekomendasi
Hadapi Ketidakpastian...
Hadapi Ketidakpastian Global, Gajah Tunggal Andalkan Efisiensi dan Inovasi
Prabowo: Selat Hormuz...
Prabowo: Selat Hormuz Ditutup, Kita Percaya Diri Mampu Mengatasi
Eksekusi Vonis 4,5 Penjara,...
Eksekusi Vonis 4,5 Penjara, KPK Jebloskan Noel ke Lapas Sukamiskin
Berita Terkini
Mantan Kapolres Bima...
Mantan Kapolres Bima Terima Dana dari Bandar Narkoba, Pengacara: Tuduhan Mengada-ada
DPC Rampung di 9 Kecamatan,...
DPC Rampung di 9 Kecamatan, Partai Perindo Tubaba Tancap Gas Bentuk DPRt
Digugat Roy Suryo soal...
Digugat Roy Suryo soal Penggeledahan, Polda Metro Jaya Siap Hadir
BNPP Perkuat Pengawasan...
BNPP Perkuat Pengawasan Perbatasan RI-Timor Leste via Survei Pengendalian Jalur Tak Resmi di Belu
Taufik Hidayat Pelaku...
Taufik Hidayat Pelaku Penganiayaan Pacar Ditahan di Sel Khusus
Prakiraan Cuaca Jakarta...
Prakiraan Cuaca Jakarta Rabu 24 Juni 2026: Berawan Sejak Pagi, Berpotensi Hujan Ringan Sore Hari
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved