Dompet Dhuafa Ajak Sopir Pete-Pete di Makassar Belanja
Kamis, 30 September 2021 - 17:28 WIB
loading...
Dompet Dhuafa digital creator Makassar, Dian Syafira mengajak Daeng Mamma berbelanja di Supermarket Lotte Alauddin. Foto: Istimewa
A
A
A
MAKASSAR - Perkembangan teknologi membuat kebiasaan masyarakat berubah, termasuk dalam menggunakan jasa transportasi. Angkutan kota atau pete-pete yang biasanya banjir peminat, kini mulai sepi akibat beralihnya masyarakat ke transportasi online.
Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) akibat pandemi Covid-19 juga berpengaruh signifikan terhadap jumlah penumpang pete-pete, sehingga berdampak pada ekonomi sopir pete-pete.
Baca juga:Gandeng BNI Syariah, Dompet Dhuafa Luncurkan Layanan Chat Pay
Kondisi itu juga yang dirasakan pula oleh Daeng Mamma, sopir pete-pete yang terus berjuang bertahan di tengah pandemi. Pria berusia 67 ini bercerita bahwa selama pandemi ia sulit mendapatkan penumpang.
Dengan jam operasional tidak menentu, juga membuat Daeng Mamma mendapatkan sedikit penghasilan. Dikarenakan sistem pete-pete masih mengandalkan cara tradisi seperti ngetem atau menunggu giliran untuk pergi membuat angkutan kota ini semakin tertinggal.
Di jalan Mallengkeri ini Daeng Mamma juga berbagi cerita kalau ia dengan sejumlah sopir pete-pete mengadukan nasib mereka. Setiap pagi para sopir berdatangan satu persatu dan jam operasional dimulai pukul 10 pagi namun biasanya sopir yang terlebih dahulu datang akan mendapatkan penumpang lebih awal, dan apabila kuota penumpang dianggap mencukupi barulah mereka pergi sebab akan merugi bila hanya membawa satu atau dua penumpang saja.
Baca juga:Kampung Silat Jampang Dompet Dhuafa Berbagi 100 Parsel untuk Pelestari Budaya
Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) akibat pandemi Covid-19 juga berpengaruh signifikan terhadap jumlah penumpang pete-pete, sehingga berdampak pada ekonomi sopir pete-pete.
Baca juga:Gandeng BNI Syariah, Dompet Dhuafa Luncurkan Layanan Chat Pay
Kondisi itu juga yang dirasakan pula oleh Daeng Mamma, sopir pete-pete yang terus berjuang bertahan di tengah pandemi. Pria berusia 67 ini bercerita bahwa selama pandemi ia sulit mendapatkan penumpang.
Dengan jam operasional tidak menentu, juga membuat Daeng Mamma mendapatkan sedikit penghasilan. Dikarenakan sistem pete-pete masih mengandalkan cara tradisi seperti ngetem atau menunggu giliran untuk pergi membuat angkutan kota ini semakin tertinggal.
Di jalan Mallengkeri ini Daeng Mamma juga berbagi cerita kalau ia dengan sejumlah sopir pete-pete mengadukan nasib mereka. Setiap pagi para sopir berdatangan satu persatu dan jam operasional dimulai pukul 10 pagi namun biasanya sopir yang terlebih dahulu datang akan mendapatkan penumpang lebih awal, dan apabila kuota penumpang dianggap mencukupi barulah mereka pergi sebab akan merugi bila hanya membawa satu atau dua penumpang saja.
Baca juga:Kampung Silat Jampang Dompet Dhuafa Berbagi 100 Parsel untuk Pelestari Budaya
Lihat Juga :