Di Masa Gubernur Jenderal Hindia Belanda Ini Banyak Prestasi juga Marak Korupsi
Sabtu, 18 September 2021 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Tapi, mengingat jasa yang diberikan van Diemen saat itu sangat besar bagi VOC akhirnya Heeren XVII memberi persetujuannya. Dan pada 10 Oktober 1646 van der Lijn resmi diangkat menjadi Gubernur Jenderal.
Kepemimpinan van der Lijn berbeda jauh dengan van Diemen. Pengaruhnya di VOC tidak sebesar saat van Diemen menjadi Gubernur Jenderal, tetapi walaupun demikian ada beberapa prestasi yang bisa dicapai selama kepemimpinannya.
Yang dilakukannya pertama memperkuat posisi VOC di Semenanjung Malaya dengan mendirikan pos di Perak. Van der Lijn juga dengan jeli melihat peluang menguasai Jawa saat mengetahui pemimpin Mataram meninggal dunia (Sultan Agung) pada tahun 1646 dan digantikan Amangkurat I.
Mengetahui pemimpin Mataram yang baru ini tidak sekeras Sultan Agung, maka pada 24 September 1646, dia mengajak Mataram berdamai dan diberi imbalan bahwa Mataram berhak berdagang di semua pelabuhan VOC kecuali Ambon, Ternate, dan Banda. Juga dengan membawa surat pas dari VOC, Mataram diperbolehkan berdagang ke Malaka atau daerah yang lebih jauh di utara Hindia.
Kemudian, untuk menjaga kestabilan VOC di Pulau Jawa van der Lijn membuat perjanjian perdamaian dengan Banten. Untuk memperkuat posisi VOC di Maluku, van der Lijn merebut Solor dari Portugis dan menduduki Hitu sepenuhnya setelah dapat membunuh Kakiali, pemimpin Hitu saat itu.
Baca juga: Jembatan Merah Bogor, Tempat Kongkow Gubernur Jenderal Hindia Belanda Sambil Makan Doclang
Kepemimpinan van der Lijn berbeda jauh dengan van Diemen. Pengaruhnya di VOC tidak sebesar saat van Diemen menjadi Gubernur Jenderal, tetapi walaupun demikian ada beberapa prestasi yang bisa dicapai selama kepemimpinannya.
Yang dilakukannya pertama memperkuat posisi VOC di Semenanjung Malaya dengan mendirikan pos di Perak. Van der Lijn juga dengan jeli melihat peluang menguasai Jawa saat mengetahui pemimpin Mataram meninggal dunia (Sultan Agung) pada tahun 1646 dan digantikan Amangkurat I.
Mengetahui pemimpin Mataram yang baru ini tidak sekeras Sultan Agung, maka pada 24 September 1646, dia mengajak Mataram berdamai dan diberi imbalan bahwa Mataram berhak berdagang di semua pelabuhan VOC kecuali Ambon, Ternate, dan Banda. Juga dengan membawa surat pas dari VOC, Mataram diperbolehkan berdagang ke Malaka atau daerah yang lebih jauh di utara Hindia.
Kemudian, untuk menjaga kestabilan VOC di Pulau Jawa van der Lijn membuat perjanjian perdamaian dengan Banten. Untuk memperkuat posisi VOC di Maluku, van der Lijn merebut Solor dari Portugis dan menduduki Hitu sepenuhnya setelah dapat membunuh Kakiali, pemimpin Hitu saat itu.
Baca juga: Jembatan Merah Bogor, Tempat Kongkow Gubernur Jenderal Hindia Belanda Sambil Makan Doclang
Lihat Juga :