Kisah Musdalifah Korban Penggusuran Kampung Akuarium: Tanpa Listrik, Kehujanan, hingga Digigit Tikus saat Tidur
Jum'at, 20 Agustus 2021 - 15:27 WIB
loading...
A
A
A
Musdalifah bercerita jika dirinya pernah merasakan pahitnya menjadi korban penggusuran yang terjadi pada 11 April 2016 silam tersebut, dimana tidak mendapatkan sosialisasi perihal penggusuran.
Akhirnya dirinya bersama suami serta anak dan tetangga yang bertahan, terpaksa bertahan di lokasi dengan tenda seadanya bahkan, sangat rapuh. “Karena bingung mau tinggal di mana. Tadinya numpang dulu ke rumah kakak saya, tapi pas di sini ada tenda ya sudah, saya tinggal di tenda sini aja, bareng sama warga lain,” ucapnya.
Baca juga: Pengamat: Kampung Susun Akuarium Bukti Anies Pro Wong Cilik
Hampir dua tahun lamanya, Musdalifah harus merasakan pahitnya dari sebuah kehidupan dengan tinggal di tenda yang beralaskan puing-puing sisa penggusuran. “Itu ngerasain panas, kehujanan, apalagi pas angin gede itu kita enggak bisa tidur, sama-sama pegangan tiang aja. Satu tenda itu kan ada yang enam keluarga, tujuh keluarga,” tuturnya.
Tidak sampai di situ, dirinya juga harus bertahan dengan minimnya fasilitas pendukung, seperti air dan listrik, yang hanya sebuah angan-angan belaka. "Jadi kalau malem ngandelinnya lampu minyak aja. Kita ngarepnya cepet subuh aja supaya bisa ada matahari,” ujarnya.
Musdalifah juga mengenang selama tinggal di tenda darurat tidak jarang banyak warga yang merasakan digigit tikus karena tidur di tempat yang bisa dikatakan tidak layak.
Beberapa kali ia terbangun karena mendapati tangan berdarah digigit tikus. Dua tahun lewat, akhirnya kehidupan mulai berangsur membaik usai pemerintah menyediakan shelter. Bahkan fasilitas pendukung lainnya kembali diaktifkan.
Akhirnya dirinya bersama suami serta anak dan tetangga yang bertahan, terpaksa bertahan di lokasi dengan tenda seadanya bahkan, sangat rapuh. “Karena bingung mau tinggal di mana. Tadinya numpang dulu ke rumah kakak saya, tapi pas di sini ada tenda ya sudah, saya tinggal di tenda sini aja, bareng sama warga lain,” ucapnya.
Baca juga: Pengamat: Kampung Susun Akuarium Bukti Anies Pro Wong Cilik
Hampir dua tahun lamanya, Musdalifah harus merasakan pahitnya dari sebuah kehidupan dengan tinggal di tenda yang beralaskan puing-puing sisa penggusuran. “Itu ngerasain panas, kehujanan, apalagi pas angin gede itu kita enggak bisa tidur, sama-sama pegangan tiang aja. Satu tenda itu kan ada yang enam keluarga, tujuh keluarga,” tuturnya.
Tidak sampai di situ, dirinya juga harus bertahan dengan minimnya fasilitas pendukung, seperti air dan listrik, yang hanya sebuah angan-angan belaka. "Jadi kalau malem ngandelinnya lampu minyak aja. Kita ngarepnya cepet subuh aja supaya bisa ada matahari,” ujarnya.
Musdalifah juga mengenang selama tinggal di tenda darurat tidak jarang banyak warga yang merasakan digigit tikus karena tidur di tempat yang bisa dikatakan tidak layak.
Beberapa kali ia terbangun karena mendapati tangan berdarah digigit tikus. Dua tahun lewat, akhirnya kehidupan mulai berangsur membaik usai pemerintah menyediakan shelter. Bahkan fasilitas pendukung lainnya kembali diaktifkan.
Lihat Juga :