Kisah Heroik Kapten Muslihat Melawan Penjajah, Tetap Berdiri meski Peluru Sudah Menembus Perut
Minggu, 15 Agustus 2021 - 06:02 WIB
loading...
A
A
A
Ketika mendengar kabar bahwa kota Hirosima dan Nagasaki dibom oleh sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945, tentara Jepang membubarkan PETA dan menyuruh anggota PETA yang ada di asrama untuk kembali ke kampung masing- masing. Hampir dua bulan setelah proklamasi, setelah banyaknya kekacauan dimana-mana.
Baca juga: Kisah Preman Paling Ditakuti di Jakarta dan Dua Jagoan Penguasa Pelabuhan Tanjung Priok
Di Kota Bogor, banyak peristiwa berdarah yang terjadi. Salah satu veteran Kota Bogor Ma’mun Permadi (86), sebagaimana dikutip dari kotabogor.go.id, menceritakan, tepatnya 25 Desember 1945 pertempuran besar terjadi antara rakyat Bogor dengan penjajah yang dipimpin Kapten Muslihat. Dengan menggunakan persenjataan seadaanya, seperti bambu runcing, golok, pedang, mereka menyerang markas-markas yang diduduki Inggris.
Kontak senjata pecah, suara tembakan dan pekikan "Merdeka" terdengar di setiap pertempuran. Pasukan Inggris dan para pejuang saling tembak-menembak. Kapten Muslihat dengan sangat berani keluar dari tempat persembunyiannya untuk melakukan penyerangan terbuka. Dia menembaki para penjajah yang membuat sebagian tentara Inggris tumbang.
Dalam baku tembak itu, timah panas musuh menembus perut Kapten Muslihat. Sang Kapten tetap berdiri menembaki para penjajah. Timah panas kedua kembali menembus pinggang membuat Kapten Muslihat tumbang hingga tersungkur. Darah bercucuran dan mengalir membuat kaos putih yang dikenakan berubah menjadi merah.
“Kapten Muslihat gugur di usia 19 tahun dan meninggalkan istri yang tengah mengandung. Saat itu teringat sekali pesannya, harta yang dimilikinya agar diberikan kepada yang tidak mampu dan jika istrinya melahirkan anak laki-laki agar diberi nama Tubagus Merdeka,” ujar Ma’mun.
Baca juga: Kisah Preman Paling Ditakuti di Jakarta dan Dua Jagoan Penguasa Pelabuhan Tanjung Priok
Di Kota Bogor, banyak peristiwa berdarah yang terjadi. Salah satu veteran Kota Bogor Ma’mun Permadi (86), sebagaimana dikutip dari kotabogor.go.id, menceritakan, tepatnya 25 Desember 1945 pertempuran besar terjadi antara rakyat Bogor dengan penjajah yang dipimpin Kapten Muslihat. Dengan menggunakan persenjataan seadaanya, seperti bambu runcing, golok, pedang, mereka menyerang markas-markas yang diduduki Inggris.
Kontak senjata pecah, suara tembakan dan pekikan "Merdeka" terdengar di setiap pertempuran. Pasukan Inggris dan para pejuang saling tembak-menembak. Kapten Muslihat dengan sangat berani keluar dari tempat persembunyiannya untuk melakukan penyerangan terbuka. Dia menembaki para penjajah yang membuat sebagian tentara Inggris tumbang.
Dalam baku tembak itu, timah panas musuh menembus perut Kapten Muslihat. Sang Kapten tetap berdiri menembaki para penjajah. Timah panas kedua kembali menembus pinggang membuat Kapten Muslihat tumbang hingga tersungkur. Darah bercucuran dan mengalir membuat kaos putih yang dikenakan berubah menjadi merah.
“Kapten Muslihat gugur di usia 19 tahun dan meninggalkan istri yang tengah mengandung. Saat itu teringat sekali pesannya, harta yang dimilikinya agar diberikan kepada yang tidak mampu dan jika istrinya melahirkan anak laki-laki agar diberi nama Tubagus Merdeka,” ujar Ma’mun.
Lihat Juga :