Kisah Heroik Kapten Muslihat Melawan Penjajah, Tetap Berdiri meski Peluru Sudah Menembus Perut
Minggu, 15 Agustus 2021 - 06:02 WIB
loading...
A
A
A
Berbagai pertempuran terjadi kala itu tidak hanya di satu wilayah Bogor, melainkan di berbagai wilayah. Seperti pertempuran di Kota Paris (Pasar Mawar) yang berlangsung pada malam hari, dimana di lokasi ini terdapat komplek hunian orang-orang Belanda (Kamp para interniran).
Selain itu terjadi juga pertempuran di daerah Cemplang pada 1945 antara pejuang RI melawan pasukan tentara Gurkha (tentara bayaran sekutu) yang berjumlah 12 orang. Pertempuran juga terjadi di daerah Maseng, Caringin Bogor pada 1945. Disana pejuang sampai membangun sebuah monumen untuk mengenang perjuangan para pahlawan.
Kapten Tubagus Muslihat lahir di Pandeglang, Banten, 26 Oktober 1926 dan meninggal dunia di Bogor 25 Desember 1945 pada usia 19 tahun. Tubagus Muslihat mengawali kiprahnya sebagai pejuang Bogor dengan bergabung di pasukan pembela tanah air (PETA).
Tubagus Muslihat berhasil lulus dan diterima sebagai tentara PETA dengan pangkat, ia dimasukan kedalam kategori pemuda-pemuda cakap dan berani, kemudian dipilih menjadi Shudanco (Komandan Seksi atau Peleton) bersamaan dengan Ibrahim Ajie, M Ishak Juarsa, Rahmat Padma, Tarmat, Suwardi, Abu Usman, Rujak, dan Bustami.
Tubagus Muslihat memulai karirnya di Bogor pada tahun 1942 di sebuah Balai Penelitian Kehutanan, Gunung Batu Bogor. Meskipun belum sebulan Tubagus Muslihat bekerja, dia lebih memilih untuk keluar dan bergabung dengan pasukan PETA.
Selain itu terjadi juga pertempuran di daerah Cemplang pada 1945 antara pejuang RI melawan pasukan tentara Gurkha (tentara bayaran sekutu) yang berjumlah 12 orang. Pertempuran juga terjadi di daerah Maseng, Caringin Bogor pada 1945. Disana pejuang sampai membangun sebuah monumen untuk mengenang perjuangan para pahlawan.
Kapten Tubagus Muslihat lahir di Pandeglang, Banten, 26 Oktober 1926 dan meninggal dunia di Bogor 25 Desember 1945 pada usia 19 tahun. Tubagus Muslihat mengawali kiprahnya sebagai pejuang Bogor dengan bergabung di pasukan pembela tanah air (PETA).
Tubagus Muslihat berhasil lulus dan diterima sebagai tentara PETA dengan pangkat, ia dimasukan kedalam kategori pemuda-pemuda cakap dan berani, kemudian dipilih menjadi Shudanco (Komandan Seksi atau Peleton) bersamaan dengan Ibrahim Ajie, M Ishak Juarsa, Rahmat Padma, Tarmat, Suwardi, Abu Usman, Rujak, dan Bustami.
Tubagus Muslihat memulai karirnya di Bogor pada tahun 1942 di sebuah Balai Penelitian Kehutanan, Gunung Batu Bogor. Meskipun belum sebulan Tubagus Muslihat bekerja, dia lebih memilih untuk keluar dan bergabung dengan pasukan PETA.
(thm)
Lihat Juga :