Ngamuk Hingga Melukai Perawat RSUD Ambarawa, Keluarga Pasien Diringkus Polisi
Sabtu, 24 Juli 2021 - 10:14 WIB
loading...
A
A
A
"Pukul 02.00 WIB, keluarga menerobos masuk, marah-marah ingin menunggui pasien dan memaksa agar dipindahkan ke IGD lagi. Setelah koordinasi dengan IGD dan supervisi, kemudian pasien dibawa ke IGD lagi," ujarnya.
Selang satu jam kemudian, keluarga meminta agar pasien dipindahkan ke ruang Anyelir. Petugas pun melakukan edukasi ulang kepada adik pasien di ruang Anyelir terkait dengan kesanggupan mematuhi tata tertib atau aturan di ruang isolasi. Keluarga menyatakan sanggup mematuhi
Selanjutnya pada pukul 03.30 WIB, petugas kembali melakukan edukasi kepada suami pasien dan adik di ruang IGD dan mengabarkan bahwa kondisi pasien kritis. Mendengar hal itu, keluarga tampak bimbang. Selanjutnya petugas mempersilahkan untuk berdiskusi sampai ditemukan kesepakatan antar anggota keluarga.
"Jam 04.30 WIB, adik pasien beserta anggota keluarga meminta ke tim medis agar pasien dirawat di ruang isolasi kembali jikalau pasien sudah sadarkan diri dan meminta dr DPJP untuk rutin memeriksa pasien ke IGD," katanya.
Kemudian 10.10 WIB, pasien dibawa lagi ke ruang isolasi dan perawat kembali memberi edukasi kepada keluarga tentang kondisi pasien dan tata tertib di ruang isolasi. Pada pukul 12.30 WIB, perawat mengabarkan kondisi pasien yang semakin menurun, SpO2 40 persen-50 persen dan suami pasien memahami dan menerima.
Sekitar pukul 13.45 WIB, kondisi pasien menurun dan perawat mencari keluarga di ruang tunggu tapi tidak ketemu. Perawat Krisna menghubungi keluarga melalui telepon seluler dan informasi tersebut diterima oleh adik pasien. Pada pukul 14.00 WIB, pasien dinyatakan meninggal.
Tak lama kemudian, suami pasien datang dan dokter serta perawat memberitahukan bahwa pasien tidak bisa tertolong dan memberi penjelasan tentang prosedur pemulasaraan jenazah secara protokol COVID-19. Suami pasien bisa menerima penjelasan dokter.
Selang satu jam kemudian, keluarga meminta agar pasien dipindahkan ke ruang Anyelir. Petugas pun melakukan edukasi ulang kepada adik pasien di ruang Anyelir terkait dengan kesanggupan mematuhi tata tertib atau aturan di ruang isolasi. Keluarga menyatakan sanggup mematuhi
Selanjutnya pada pukul 03.30 WIB, petugas kembali melakukan edukasi kepada suami pasien dan adik di ruang IGD dan mengabarkan bahwa kondisi pasien kritis. Mendengar hal itu, keluarga tampak bimbang. Selanjutnya petugas mempersilahkan untuk berdiskusi sampai ditemukan kesepakatan antar anggota keluarga.
"Jam 04.30 WIB, adik pasien beserta anggota keluarga meminta ke tim medis agar pasien dirawat di ruang isolasi kembali jikalau pasien sudah sadarkan diri dan meminta dr DPJP untuk rutin memeriksa pasien ke IGD," katanya.
Kemudian 10.10 WIB, pasien dibawa lagi ke ruang isolasi dan perawat kembali memberi edukasi kepada keluarga tentang kondisi pasien dan tata tertib di ruang isolasi. Pada pukul 12.30 WIB, perawat mengabarkan kondisi pasien yang semakin menurun, SpO2 40 persen-50 persen dan suami pasien memahami dan menerima.
Sekitar pukul 13.45 WIB, kondisi pasien menurun dan perawat mencari keluarga di ruang tunggu tapi tidak ketemu. Perawat Krisna menghubungi keluarga melalui telepon seluler dan informasi tersebut diterima oleh adik pasien. Pada pukul 14.00 WIB, pasien dinyatakan meninggal.
Tak lama kemudian, suami pasien datang dan dokter serta perawat memberitahukan bahwa pasien tidak bisa tertolong dan memberi penjelasan tentang prosedur pemulasaraan jenazah secara protokol COVID-19. Suami pasien bisa menerima penjelasan dokter.
Lihat Juga :