Demokrat Sulsel Butuh Sosok Pendongkrak Perolehan Kursi
Senin, 05 Juli 2021 - 12:14 WIB
loading...
Ilham Arief Sirajuddin dan Ni’matullah. Foto: Istimewa
A
A
A
MAKASSAR - Dua figur terus bersaing memperebutkan kursi ketua DPD Demokrat Sulsel menjelang musyawarah daerah (musda). Sekali pun DPP belum menerbitkan jadwal pelaksanaan agenda tersebut.
Dua nama yang bersaing ialah Ni’matullah dan Ilham Arief Sirajuddin. Baik Ulla dan IAS sapaan keduanya, sama-sama memiliki kans yang kuat untuk memimpin Partai Demokrat Sulsel .
Baca juga:Musda Demokrat, Loyalitas Ulla Saat KLB Menjadi Nilai Plus bagi DPC
Pengamat politik Sulsel, Firdaus Muhammad mengatakan, kedua kandidat ini sudah memiliki rekam jejak yang baik dalam membesarkan partai. IAS pernah sukses memimpin Golkar sebelum pindah ke Demokrat, juga Ulla yang mampu mempertahankan Demokrat tetap berada di kursi pimpinan DPRD Sulsel .
“Sebenarnya kan Pak IAS sudah terukur dalam membesarkan partai saat dia menjadi ketua partai. Begitu juga dengan Pak Ulla yang sudah menunjukkan prestasi-prestasi. Tentu daerah sudah bisa mengukur itu, siapa yang memiliki kompetensi. Keduanya sudah berhasil membesarkan Demokrat, baik Pak IAS dan Pak Ulla,” jelasnya.
Firdaus bilang, soal loyalitas keduanya juga sudah terjamin. Ulla yang memasang badan di Sulsel saat Partai Demokrat diterpa masalah kongres luar biasa (KLB). Membuat Sulsel tak banyak pengaruhnya saat gerakan pengambilalihan partai tersebut.
“Memang Pak Ulla itu sudah tepat sikapnya ketika itu, meski agak sedikit berlebihan, ketika menyebutkan kata baku tikam itu. Tapi itu membuktikan bahwa dia loyal,” paparnya.
Baca juga:IAS Bertekad Jaga Musda Agar Tidak Lahirkan Perpecahan Internal
Begitu juga IAS, kata Firdaus, tak adanya gerakan mantan Wali Kota Makassar itu saat KLB dianggap IAS tak ikut bermain dan mendukung KLB, sehingga loyalitasnya patut diacungi jempol.
“Ketika Pak IAS juga memilih diam, bagi saya itu langkah yang tepat. Karena kalau dia bereaksi soal KLB waktu itu, mungkin juga dianggap mencari panggung dan tidak pada kapasitasnya,” ucapnya.
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar ini menyatakan, calon ketua Demokrat Sulsel ke depan tak lagi berkutat pada persoalan loyalitas, melainkan siapa tokoh yang bisa membawa Demokrat menambah perolehan suara dan kursi di pemilu selanjutnya.
Menurutnya, DPP harus mempertimbangkan siapa di antara dua tokoh ini yang lebih cocok mengembangkan Partai Demokrat ke depan, melihat partai besutan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ini merupakan partai oposisi di pemerintahan saat ini.
“Kita harus melihat bahwa Demokrat hari ini sudah berbeda saat masanya SBY, ketika jadi partai penguasa. Untuk itu, bagaimana cara menghidupkannya, bagaimana cara membesarkan partai ini. Itu lah yang jadi pertimbangan DPP. Jadi bukan hanya loyalitas, tapi sangat tergantung pada kemampuannya memanage partai untuk menjadikannya partai besar,” ungkapnya.
Baca juga:Jumlah Pemilih di Toraja Utara Bertambah Setelah PDPB
Dalam petunjuk pelaksanaan dan peraturan organisasi musda Demokrat, DPP memang yang akan jadi penentu. Sehingga siapa figur yang inginkan DPP untuk menjadi ketua, maka jalannya dipastikan mulus.
Sekretaris Bappilu DPP Demoktat, Kamhar Lakumani mengatakan, pihaknya sangat berhati-hati menentukan ketua Demokrat Sulsel. DPP menganggap baik Ulla dan IAS sebagai kader yang punya penilaian baik di partai.
"Sulsel itu kan menjadi barometer Indonesia timur. Bagi Partai Demokrat Sulsel menjadi titik strategis. Dua tokoh Sulsel ini punya reputasi yang baik bagi Partai Demokrat . Jadi DPP harus secara matang dan hati-hati memilih ketua DPD," pungkasnya.
Lanjut Kamhar, karena kehati-hatian tersebut, DPP akan menentukan calon ketua DPD setelah kandidat melalui berbagai tahapan. Pertama ialah melihat berapa jumlah dukungan pemilik suara yang dikantonginya, dan wajib melewati fit and proper test.
Baca juga:Partai Hanura Ingin Uji Kelayakan Calon Wakil Bupati Luwu Timur
Hanja saja, Kamhar mengaku bahwa hasil pemungutan suara saat musda tak mutlak memilih ketua. Melainkan hanya menjadi pertimbangan bagi DPP untuk menentukan ketua DPD.
“Belum otomatis (dia jadi ketua) karena masih ada fase selanjutnya. Tapi memang itu menjadi perhitungan, dan sifatnya tidak mutlak. Setelah itu, dilakukan fit and proper oleh DPP. Baru kemudian diputuskan nantinya. Indikator penilaian DPP dalam memutuskan calon ketua DPD," tandasnya.
Dua nama yang bersaing ialah Ni’matullah dan Ilham Arief Sirajuddin. Baik Ulla dan IAS sapaan keduanya, sama-sama memiliki kans yang kuat untuk memimpin Partai Demokrat Sulsel .
Baca juga:Musda Demokrat, Loyalitas Ulla Saat KLB Menjadi Nilai Plus bagi DPC
Pengamat politik Sulsel, Firdaus Muhammad mengatakan, kedua kandidat ini sudah memiliki rekam jejak yang baik dalam membesarkan partai. IAS pernah sukses memimpin Golkar sebelum pindah ke Demokrat, juga Ulla yang mampu mempertahankan Demokrat tetap berada di kursi pimpinan DPRD Sulsel .
“Sebenarnya kan Pak IAS sudah terukur dalam membesarkan partai saat dia menjadi ketua partai. Begitu juga dengan Pak Ulla yang sudah menunjukkan prestasi-prestasi. Tentu daerah sudah bisa mengukur itu, siapa yang memiliki kompetensi. Keduanya sudah berhasil membesarkan Demokrat, baik Pak IAS dan Pak Ulla,” jelasnya.
Firdaus bilang, soal loyalitas keduanya juga sudah terjamin. Ulla yang memasang badan di Sulsel saat Partai Demokrat diterpa masalah kongres luar biasa (KLB). Membuat Sulsel tak banyak pengaruhnya saat gerakan pengambilalihan partai tersebut.
“Memang Pak Ulla itu sudah tepat sikapnya ketika itu, meski agak sedikit berlebihan, ketika menyebutkan kata baku tikam itu. Tapi itu membuktikan bahwa dia loyal,” paparnya.
Baca juga:IAS Bertekad Jaga Musda Agar Tidak Lahirkan Perpecahan Internal
Begitu juga IAS, kata Firdaus, tak adanya gerakan mantan Wali Kota Makassar itu saat KLB dianggap IAS tak ikut bermain dan mendukung KLB, sehingga loyalitasnya patut diacungi jempol.
“Ketika Pak IAS juga memilih diam, bagi saya itu langkah yang tepat. Karena kalau dia bereaksi soal KLB waktu itu, mungkin juga dianggap mencari panggung dan tidak pada kapasitasnya,” ucapnya.
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar ini menyatakan, calon ketua Demokrat Sulsel ke depan tak lagi berkutat pada persoalan loyalitas, melainkan siapa tokoh yang bisa membawa Demokrat menambah perolehan suara dan kursi di pemilu selanjutnya.
Menurutnya, DPP harus mempertimbangkan siapa di antara dua tokoh ini yang lebih cocok mengembangkan Partai Demokrat ke depan, melihat partai besutan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ini merupakan partai oposisi di pemerintahan saat ini.
“Kita harus melihat bahwa Demokrat hari ini sudah berbeda saat masanya SBY, ketika jadi partai penguasa. Untuk itu, bagaimana cara menghidupkannya, bagaimana cara membesarkan partai ini. Itu lah yang jadi pertimbangan DPP. Jadi bukan hanya loyalitas, tapi sangat tergantung pada kemampuannya memanage partai untuk menjadikannya partai besar,” ungkapnya.
Baca juga:Jumlah Pemilih di Toraja Utara Bertambah Setelah PDPB
Dalam petunjuk pelaksanaan dan peraturan organisasi musda Demokrat, DPP memang yang akan jadi penentu. Sehingga siapa figur yang inginkan DPP untuk menjadi ketua, maka jalannya dipastikan mulus.
Sekretaris Bappilu DPP Demoktat, Kamhar Lakumani mengatakan, pihaknya sangat berhati-hati menentukan ketua Demokrat Sulsel. DPP menganggap baik Ulla dan IAS sebagai kader yang punya penilaian baik di partai.
"Sulsel itu kan menjadi barometer Indonesia timur. Bagi Partai Demokrat Sulsel menjadi titik strategis. Dua tokoh Sulsel ini punya reputasi yang baik bagi Partai Demokrat . Jadi DPP harus secara matang dan hati-hati memilih ketua DPD," pungkasnya.
Lanjut Kamhar, karena kehati-hatian tersebut, DPP akan menentukan calon ketua DPD setelah kandidat melalui berbagai tahapan. Pertama ialah melihat berapa jumlah dukungan pemilik suara yang dikantonginya, dan wajib melewati fit and proper test.
Baca juga:Partai Hanura Ingin Uji Kelayakan Calon Wakil Bupati Luwu Timur
Hanja saja, Kamhar mengaku bahwa hasil pemungutan suara saat musda tak mutlak memilih ketua. Melainkan hanya menjadi pertimbangan bagi DPP untuk menentukan ketua DPD.
“Belum otomatis (dia jadi ketua) karena masih ada fase selanjutnya. Tapi memang itu menjadi perhitungan, dan sifatnya tidak mutlak. Setelah itu, dilakukan fit and proper oleh DPP. Baru kemudian diputuskan nantinya. Indikator penilaian DPP dalam memutuskan calon ketua DPD," tandasnya.
(luq)
Lihat Juga :