Fondasi Nasionalisme Bung Karno Dibangun dalam Ritual Meditasi Buku
Sabtu, 03 Juli 2021 - 05:01 WIB
loading...
A
A
A
Seluruh waktunya dipakai untuk membaca. Ketika teman sebayanya bermain, Bung Karno berselancar di perpustakaan perkumpulan Theosofi. Ia pun menyelami dunia kebathinan dan bertemu dengan orang-orang besar. Buah pikiran mereka menjadi buah pikiran Bung Karno dalam menata nasionalisme.
Bung Karno menegaskan kalau dirinya secara mental sering berbicara dengan Thomas Jefferson. Merasakan kedekatan dan bersahabat dengannya serta selalu berbicara tentang Declaration of Independence yang ditulis pada 1776. Baca juga: Napak Tilas Sejarah Bung Karno Merenungkan Pancasila di Pengasingan Ende
M Purwadi
Meditasi melalui buku itu pun mempertemukannya dengan George Washington. Serta berjalan-jalan bersama Paul Revere, dan sesekali mencari-cari kesalahan Abraham Lincoln untuk menyempurnakan nasionalismenya pada Tanah Air.
![Fondasi Nasionalisme Bung Karno Dibangun dalam Ritual Meditasi Buku]()
Pemikiranya semakin terbuka ketika meditasi dengan buku membawanya bertemu dengan Glad Stone serta Beatrice Webb yang mendirikan gerakan buruh di Inggris. “Aku pun berhadapan dengan Mazzini, Cavour dan Garibaldi dari Italia. Berhadapan dengan Karl Marx, Friederich Engels dan Lenin dari Rusia serta mengobrol dengan Jean Jacques Rousseau. Aku meneguk semua cerita itu, kualami kehidupan mereka,” jelas Bung Karno seperti yang ditulis Cindy Adams.
Bung Karno sendiri datang ke Surabaya di usia 15 tahun dan tinggal di rumah kos Tjokroaminoto. Ia merupakan indung semang yang dikenal dengan pidato yang menyentuh hati untuk menggerakan massa. Peracik siasat yang jitu, serta bapak pergerakan nasional yang ulung.
Tiap malam di rumah Peneleh gang VII itu selalu datang para tokoh pergerakan nasional untuk bertemu dengan Tjokroaminoto. Bung Karno kecil tak mau melewatkan momen tersebut untuk menambah kemampuannya dalam mengenal dunia pergerakan.
Bung Karno menegaskan kalau dirinya secara mental sering berbicara dengan Thomas Jefferson. Merasakan kedekatan dan bersahabat dengannya serta selalu berbicara tentang Declaration of Independence yang ditulis pada 1776. Baca juga: Napak Tilas Sejarah Bung Karno Merenungkan Pancasila di Pengasingan Ende
M Purwadi
Meditasi melalui buku itu pun mempertemukannya dengan George Washington. Serta berjalan-jalan bersama Paul Revere, dan sesekali mencari-cari kesalahan Abraham Lincoln untuk menyempurnakan nasionalismenya pada Tanah Air.

Pemikiranya semakin terbuka ketika meditasi dengan buku membawanya bertemu dengan Glad Stone serta Beatrice Webb yang mendirikan gerakan buruh di Inggris. “Aku pun berhadapan dengan Mazzini, Cavour dan Garibaldi dari Italia. Berhadapan dengan Karl Marx, Friederich Engels dan Lenin dari Rusia serta mengobrol dengan Jean Jacques Rousseau. Aku meneguk semua cerita itu, kualami kehidupan mereka,” jelas Bung Karno seperti yang ditulis Cindy Adams.
Bung Karno sendiri datang ke Surabaya di usia 15 tahun dan tinggal di rumah kos Tjokroaminoto. Ia merupakan indung semang yang dikenal dengan pidato yang menyentuh hati untuk menggerakan massa. Peracik siasat yang jitu, serta bapak pergerakan nasional yang ulung.
Tiap malam di rumah Peneleh gang VII itu selalu datang para tokoh pergerakan nasional untuk bertemu dengan Tjokroaminoto. Bung Karno kecil tak mau melewatkan momen tersebut untuk menambah kemampuannya dalam mengenal dunia pergerakan.
Lihat Juga :