Tunggak Utang Rp7 M, Layanan di RSUD Ryacudu Lampung Utara Tersendat
Sabtu, 29 Mei 2021 - 06:47 WIB
loading...
RSUD Mayjend. HM. Ryacudu di Kabupaten Lampung Utara. Foto/MPI/Jimi Irawan
A
A
A
LAMPUNG UTARA - Layanan kesehatan di RSUD Mayjend HM. Ryacudu, di Kabpaten Lampung Utara, tersendat. Mereka juga kekurangan obat-obatan. Kondisi ini disebabkan rumah sakit milik pemerintah ini, masih menunggak utang Rp7 miliar.
Baca juga: Anak Buah Sri Mulyani Terus Kejar Utang Bambang Tri dan Aburizal Bakrie
Direktur RSUD Mayjend. HM. Ryacudu, Sri Haryati menyebutkan, pihaknya sangat membutuhkan bantuan Pemkab Lampung Utara. Sebab, rumah sakit rujukan nasional itu mengalami kekurangan obat-obatan lantaran tak memiliki cukup dana untuk membelinya. "Persediaan obat-obatan dan sejenisnya, saat ini masih sangat kurang karena keterbatasan anggaran untuk membelinya," katanya, Jumat (28/5/2021).
Dia melanjutkan, kekurangan persediaan obat dan sejenisnya untuk para pasien ini, disebabkan oleh besarnya utang yang masih dimiliki oleh rumah sakit pada 23 penyedia atau vendor obat-obatan. Besaran utang yakni mencapai Rp7 miliar.
Baca juga: Wanita-wanita Seksi dan Belasan Pasangan Terjaring Razia Saat Asyik Mesum
Dengan utang sebesar itu, pihaknya tidak bisa berbuat banyak untuk menambah persediaan obat-obatan dan sejenisnya. Pihak penyedia obat baru dapat memenuhi permintaan obat-obatan, jika pihak manajemen rumah sakit membayar setengah dari utangnya . Sedangkan pendapatan rumah sakit hanya Rp1,3 miliar/bulan.
Baca juga: Anak Buah Sri Mulyani Terus Kejar Utang Bambang Tri dan Aburizal Bakrie
Direktur RSUD Mayjend. HM. Ryacudu, Sri Haryati menyebutkan, pihaknya sangat membutuhkan bantuan Pemkab Lampung Utara. Sebab, rumah sakit rujukan nasional itu mengalami kekurangan obat-obatan lantaran tak memiliki cukup dana untuk membelinya. "Persediaan obat-obatan dan sejenisnya, saat ini masih sangat kurang karena keterbatasan anggaran untuk membelinya," katanya, Jumat (28/5/2021).
Dia melanjutkan, kekurangan persediaan obat dan sejenisnya untuk para pasien ini, disebabkan oleh besarnya utang yang masih dimiliki oleh rumah sakit pada 23 penyedia atau vendor obat-obatan. Besaran utang yakni mencapai Rp7 miliar.
Baca juga: Wanita-wanita Seksi dan Belasan Pasangan Terjaring Razia Saat Asyik Mesum
Dengan utang sebesar itu, pihaknya tidak bisa berbuat banyak untuk menambah persediaan obat-obatan dan sejenisnya. Pihak penyedia obat baru dapat memenuhi permintaan obat-obatan, jika pihak manajemen rumah sakit membayar setengah dari utangnya . Sedangkan pendapatan rumah sakit hanya Rp1,3 miliar/bulan.
Lihat Juga :