Antisipasi Bullying, Waspada Tindak Kekerasan oleh Anak
Senin, 20 April 2020 - 11:05 WIB
loading...
A
A
A
Belum Tentu Gangguan Psikologis
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pembunuhan oleh remaja ataupun anak tidak selalu pasti disebabkan oleh gangguan psikologis atau gangguan perkembangan emosi. Hal ini ditegaskan oleh Psikolog Klinis Theresia Michelle Alessandra, M.Psi.
“Belum tentu gangguan psikologis menjadi faktor utama seorang anak melakukan pembunuhan. Perlu pemeriksaan yang hati-hati dan teliti terhadap masalah yang dimiliki anak, faktor risiko, dan faktor pendukung baginya,” jelas Theresia.
Usia remaja memang identik dengan perkembangan emosi yang berada pada fase pencarian jati diri. Dengan demikian, lingkungan yang negatif akan sangat berisiko dalam perkembangan remaja, misalnya tayangan di media yang mengandung pornografi, kekerasan, dan lainnya. Theresia menjabarkan bahwa perilaku bisa muncul berdasarkan pengamatan, baik secara langsung ataupun tidak langsung, misalnya melalui media (tontonan atau bacaan).
Nah, untuk anak-anak yang proses berpikirnya masih sulit untuk membedakan fantasi dan realita, akan lebih rentan dan lebih mudah terpengaruh hal-hal yang ditampilkan di media. “Namun, remaja dan orang dewasa muda sekalipun yang kemampuan membedakan fantasi dan realitanya sudah berkembang lebih baik juga tetap dapat terpengaruh pada kekerasan yang ditampilkan,” ungkap Theresia. (Sri Noviarni)
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pembunuhan oleh remaja ataupun anak tidak selalu pasti disebabkan oleh gangguan psikologis atau gangguan perkembangan emosi. Hal ini ditegaskan oleh Psikolog Klinis Theresia Michelle Alessandra, M.Psi.
“Belum tentu gangguan psikologis menjadi faktor utama seorang anak melakukan pembunuhan. Perlu pemeriksaan yang hati-hati dan teliti terhadap masalah yang dimiliki anak, faktor risiko, dan faktor pendukung baginya,” jelas Theresia.
Usia remaja memang identik dengan perkembangan emosi yang berada pada fase pencarian jati diri. Dengan demikian, lingkungan yang negatif akan sangat berisiko dalam perkembangan remaja, misalnya tayangan di media yang mengandung pornografi, kekerasan, dan lainnya. Theresia menjabarkan bahwa perilaku bisa muncul berdasarkan pengamatan, baik secara langsung ataupun tidak langsung, misalnya melalui media (tontonan atau bacaan).
Nah, untuk anak-anak yang proses berpikirnya masih sulit untuk membedakan fantasi dan realita, akan lebih rentan dan lebih mudah terpengaruh hal-hal yang ditampilkan di media. “Namun, remaja dan orang dewasa muda sekalipun yang kemampuan membedakan fantasi dan realitanya sudah berkembang lebih baik juga tetap dapat terpengaruh pada kekerasan yang ditampilkan,” ungkap Theresia. (Sri Noviarni)
(ysw)
Lihat Juga :