Cegah Stunting, Arumi Bachsin Ingatkan Pentingnya Edukasi Gizi Sejak Remaja
Minggu, 11 April 2021 - 02:11 WIB
loading...
A
A
A
Pencegahan stunting harus diawali dengan memastikan calon ibu benar-benar siap menghadapi 1000 HPK.
Sementara, perkembangan kesehatan saat remaja sangat menentukan kualitas seseorang untuk menjadi individu dewasa.
Masalah gizi yang terjadi pada masa remaja akan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit di usia dewasa serta berisiko melahirkan generasi yang bermasalah gizi.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua TP PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin mengungkapkan, penanganan stunting di wilayahnya adalah prioritas yang langsung dipimpin oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.
“Intervensi stunting memang harus saat dalam kandungan namun itu saja sudah telat. Moment yang paling tepat adalah ketika remaja, sehingga mereka siap untuk menjadi ibu,” paparnya.
Arumi juga mengakui, saat ini penyumbang terbesar stunting adalah tingginya pernikahan diusia anak.
Penyebabnya adalah kemiskinan, putus sekolah, kurangnya pendidikan baik formal maupun non formal.
Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya edukasi tentang gizi disampaikan secara gamblang, salah satunya adalah edukasi mengenai konsumsi kental manis yang masih jamak diberikan masyarakat sebagai minuman untuk anak-anak.
“Terkait kental manis menjadi salah satu faktor penyebab stunting. Kita harus kedepankan fakta dan disampaikan dengan gamblang. Orang tua dalam hal ini ayah dan ibu harus bekerjasama menjaga anak dan mendidik orang tua (nenek) untuk tidak memberi kental manis kepada anak,” jelas Arumi.
Ketua Bidang VII PP Muslimat NU, Dr.Erna Yulia Soefihara, mengatakan sebagai bentuk partisipasi dalam pembangunan SDM unggul, PP Muslimat NU akan terus melakukan edukasi gizi untuk masyarakat.
"Sejak 2018 telah dilakukan kegiatan sosialisasi kebeberapa wiayah di Indonesia untuk mensosialisasikan pentingnya pengetahuan gizi dan peruntukan kental manis. Selain itu juga dilakukan penelitian di beberapa wilayah untuk memperkuat edukasi dan upaya advokasi fakta kental manis diberbagai kalangan,” jelas Erna.
Sementara, perkembangan kesehatan saat remaja sangat menentukan kualitas seseorang untuk menjadi individu dewasa.
Masalah gizi yang terjadi pada masa remaja akan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit di usia dewasa serta berisiko melahirkan generasi yang bermasalah gizi.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua TP PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin mengungkapkan, penanganan stunting di wilayahnya adalah prioritas yang langsung dipimpin oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.
“Intervensi stunting memang harus saat dalam kandungan namun itu saja sudah telat. Moment yang paling tepat adalah ketika remaja, sehingga mereka siap untuk menjadi ibu,” paparnya.
Arumi juga mengakui, saat ini penyumbang terbesar stunting adalah tingginya pernikahan diusia anak.
Penyebabnya adalah kemiskinan, putus sekolah, kurangnya pendidikan baik formal maupun non formal.
Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya edukasi tentang gizi disampaikan secara gamblang, salah satunya adalah edukasi mengenai konsumsi kental manis yang masih jamak diberikan masyarakat sebagai minuman untuk anak-anak.
“Terkait kental manis menjadi salah satu faktor penyebab stunting. Kita harus kedepankan fakta dan disampaikan dengan gamblang. Orang tua dalam hal ini ayah dan ibu harus bekerjasama menjaga anak dan mendidik orang tua (nenek) untuk tidak memberi kental manis kepada anak,” jelas Arumi.
Ketua Bidang VII PP Muslimat NU, Dr.Erna Yulia Soefihara, mengatakan sebagai bentuk partisipasi dalam pembangunan SDM unggul, PP Muslimat NU akan terus melakukan edukasi gizi untuk masyarakat.
"Sejak 2018 telah dilakukan kegiatan sosialisasi kebeberapa wiayah di Indonesia untuk mensosialisasikan pentingnya pengetahuan gizi dan peruntukan kental manis. Selain itu juga dilakukan penelitian di beberapa wilayah untuk memperkuat edukasi dan upaya advokasi fakta kental manis diberbagai kalangan,” jelas Erna.
Lihat Juga :