Fenomena Aliran Hakekok, Mathla'ul Anwar Tangsel Siapkan Kader Tembus Pelosok
Jum'at, 19 Maret 2021 - 22:34 WIB
loading...
Ketua Bidang 1 PB Mathlaul Anwar, Mohammad Zein, di sela-sela deklarasi pencalonannya maju sebagai ketua umum di Situ Gintung, Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (19/3/2021). Foto: Hambali/MPI
A
A
A
TANGERANG SELATAN - Fenomena aliran Hakekok kembali mencuat setelah video viral yang menampilkan ritual sejumlah pria dan wanita mandi bareng tanpa busana di Pandeglang, Banten.
Pihak kepolisian sendiri telah menangkap 16 orang terkait kegiatan itu. Ajaran Hakekok telah ada dan timbul tenggelam sejak lama. Diyakini, paham aliran itu kembali mencuat lantaran syiar islam belum menyentuh sepenuhnya pelosok-pelosok yang ada di berbagai wilayah.
Sebagai salah satu Ormas Islam tertua di Indonesia, Mathla'ul Anwar, menganggap kemunculan aliran Hakekok di wilayah Banten disebabkan syiar Islam yang belum begitu kuat menembus pedalaman.
"Jadi ini adalah sisa-sisa dari kepercayaan-kepercayaan yang masih belum terberantas sepenuhnya. Mathla'ul Anwar salah s atu misi kelahirannya adalah memberantas 3 hal, yang disebut sebagai TBC, T itu Takhayul, B itu Bid'ah, dan C itu adalah churafat," terang Ketua Bidang 1 PB Mathla'ul Anwar, Mohammad Zein, di sela-sela deklarasi pencalonannya maju sebagai ketua umum di Situ Gintung, Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (19/3/2021).
Menurut Zein, wilayah Banten belum sepenuhnya terjangkau dengan teknologi informasi. Di sana masih banyak wilayah blankspot, yang sepi dari syiar islam baik secara langsung atau pun secara daring. Baca juga:MUI Banten Sebut Aliran Sesat Hakekok Tersebar di Beberapa Daerah
"Masih ada wilayah blankspot, yang belum terjangkau pendidikan. Sehingga kemudian, dakwah-dakwah yang dilakukan termasuk juga oleh Mathla'ul Anwar belum berhasil untuk memberantas hal-hal seperti itu," ungkapnya.
Menyikapi itu, Mathla'ul Anwar telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) guna mengirim kader ke wilayah pelosok. Sehingga ajaran Islam yang hakiki dapat dipahami secara nyata.
"Kami sudah melakukan langkah-langkah bekerjasama dengan kementerian agama, seperti salah satu penyuluh yang datang ke lokasi itu adalah kader atau warga Mathla'ul Anwar. Kita berharap ke depan, aliran itu tidak muncul lagi, karena menyimpang dari ajaran islam," ucapnya. Baca juga: Prof Agus Purwanto Ungkap Ini Mengapa Negara Islam Kalah dengan Barat
Mathla'ul Anwar sendiri didirikan di Menes, Pandeglang, pada tahun 1916. Beberapa tokoh pentingnya adalah KH Entol Yasin, KH Tb Sholeh dan KH Mas Abdurrahman. Kini, posisi Mathla'ul Anwar berada pada peringkat 3 Ormas Islam terbesar di Indonesia dengan kepengurusan hampir di seluruh provinsi.
Mathla'ul Anwar sendiri tengah bersiap menjalani proses pemilihan ketua umum baru yang akan menjabat pada periode 2021 hingga 2026. Ada 3 hal yang menjadi catatan tugas bagi Ormas ini ke depan, yakni soal kualitas pendidikan, soal kepemimpinan, dan bagaimana cara memperkuat peran guna menata umat dan merekatkan bangsa.
Pihak kepolisian sendiri telah menangkap 16 orang terkait kegiatan itu. Ajaran Hakekok telah ada dan timbul tenggelam sejak lama. Diyakini, paham aliran itu kembali mencuat lantaran syiar islam belum menyentuh sepenuhnya pelosok-pelosok yang ada di berbagai wilayah.
Sebagai salah satu Ormas Islam tertua di Indonesia, Mathla'ul Anwar, menganggap kemunculan aliran Hakekok di wilayah Banten disebabkan syiar Islam yang belum begitu kuat menembus pedalaman.
"Jadi ini adalah sisa-sisa dari kepercayaan-kepercayaan yang masih belum terberantas sepenuhnya. Mathla'ul Anwar salah s atu misi kelahirannya adalah memberantas 3 hal, yang disebut sebagai TBC, T itu Takhayul, B itu Bid'ah, dan C itu adalah churafat," terang Ketua Bidang 1 PB Mathla'ul Anwar, Mohammad Zein, di sela-sela deklarasi pencalonannya maju sebagai ketua umum di Situ Gintung, Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (19/3/2021).
Menurut Zein, wilayah Banten belum sepenuhnya terjangkau dengan teknologi informasi. Di sana masih banyak wilayah blankspot, yang sepi dari syiar islam baik secara langsung atau pun secara daring. Baca juga:MUI Banten Sebut Aliran Sesat Hakekok Tersebar di Beberapa Daerah
"Masih ada wilayah blankspot, yang belum terjangkau pendidikan. Sehingga kemudian, dakwah-dakwah yang dilakukan termasuk juga oleh Mathla'ul Anwar belum berhasil untuk memberantas hal-hal seperti itu," ungkapnya.
Menyikapi itu, Mathla'ul Anwar telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) guna mengirim kader ke wilayah pelosok. Sehingga ajaran Islam yang hakiki dapat dipahami secara nyata.
"Kami sudah melakukan langkah-langkah bekerjasama dengan kementerian agama, seperti salah satu penyuluh yang datang ke lokasi itu adalah kader atau warga Mathla'ul Anwar. Kita berharap ke depan, aliran itu tidak muncul lagi, karena menyimpang dari ajaran islam," ucapnya. Baca juga: Prof Agus Purwanto Ungkap Ini Mengapa Negara Islam Kalah dengan Barat
Mathla'ul Anwar sendiri didirikan di Menes, Pandeglang, pada tahun 1916. Beberapa tokoh pentingnya adalah KH Entol Yasin, KH Tb Sholeh dan KH Mas Abdurrahman. Kini, posisi Mathla'ul Anwar berada pada peringkat 3 Ormas Islam terbesar di Indonesia dengan kepengurusan hampir di seluruh provinsi.
Mathla'ul Anwar sendiri tengah bersiap menjalani proses pemilihan ketua umum baru yang akan menjabat pada periode 2021 hingga 2026. Ada 3 hal yang menjadi catatan tugas bagi Ormas ini ke depan, yakni soal kualitas pendidikan, soal kepemimpinan, dan bagaimana cara memperkuat peran guna menata umat dan merekatkan bangsa.
(mhd)
Lihat Juga :