Jejak Dewi Kilisuci, Putri Sulung Prabu Airlangga di Puncak Gunung Pegat Blitar
Kamis, 11 Maret 2021 - 20:15 WIB
loading...
A
A
A
Sementara mendaki puncak Gunung Pegat yang berketinggian 200 meter di atas permukaan laut tersebut, tidak ringan. "Medannya tergolong berat," tambahnya. Geovani pun ngos ngosan. Langkah langkah panjang dengan lutut terus menerus tertekuk nyaris 90 derajat, membuat kedua kakinya bergetar. Ia beberapa kali berhenti, untuk sekedar mengumpulkan napas.
Begitu juga dengan dua rekannya. Terbayang, seorang putri raja yang sepanjang waktunya biasa dilayani oleh para abdi istana, harus mendaki bukit terjal setinggi ratusan meter. "Apalagi dulu medannya lebih berat dari sekarang," kata Geovani membayangkan lokasi yang ia datangi dulunya hutan belantara. Sementara seiring berjalannya konsep desa wisata, semuanya telah berubah.
Di sekitar situs yang berlokasi di Desa Bagelenan dan diyakini sebagai peninggalan kerajaan kuno tersebut, disulap menjadi tempat wisata. Para pengelola menamainya bukit pertapaan. Jalan setapak menuju puncak, diubah menjadi jalan beton. Karena medan yang curam serta berliku, konstruksi jalur pendakian dibuat berundak. Untuk memperkuat daya tarik, di beberapa titik sepanjang perjalanan dibangun spot foto.
Tampak bangunan bambu, di mana ketika berdiri di atasnya akan terlihat wilayah Blitar barat dan utara dari atas udara. Adanya lapak pedagang makanan dan minuman di sepanjang jalan berundak, membuat suasana lebih semarak. Tiba di puncak dengan nafas yang masih terengah, Geovani langsung melepas lelah.
Di sebelah ia duduk dengan kaki terjuntai, terlihat arca kepala Kala. Bongkahan batu yang berukir muka raksasa dalam kondisi sudah tidak sempurna. Bagian atasnya terpancung. Di dekat kala, berdiri Yoni yang di bagian lubang berbentuk segi empat, berisi air. Yoni tersebut dililit ukiran ular naga. Tepat di bawah kepala naga terlihat bekas bakaran dupa yang masih baru.
"Sepertinya belum lama dipakai ritualan," kata Geovani. Tidak jauh dari Kala dan Yoni terdapat gundukan batu candi berbentuk persegi empat. Posisinya bertumpuk tidak beraturan. Diantara gundukan tersebut terselip umpak batu. Namun tidak terlihat adanya prasasti. Sementara yang disebut bangunan induk adalah sebuah cungkup berlantai batu candi. Konon, di situlah Dewi Kilisuci atau bernama lain Sanggramawijaya, bersemedi.
Begitu juga dengan dua rekannya. Terbayang, seorang putri raja yang sepanjang waktunya biasa dilayani oleh para abdi istana, harus mendaki bukit terjal setinggi ratusan meter. "Apalagi dulu medannya lebih berat dari sekarang," kata Geovani membayangkan lokasi yang ia datangi dulunya hutan belantara. Sementara seiring berjalannya konsep desa wisata, semuanya telah berubah.
Di sekitar situs yang berlokasi di Desa Bagelenan dan diyakini sebagai peninggalan kerajaan kuno tersebut, disulap menjadi tempat wisata. Para pengelola menamainya bukit pertapaan. Jalan setapak menuju puncak, diubah menjadi jalan beton. Karena medan yang curam serta berliku, konstruksi jalur pendakian dibuat berundak. Untuk memperkuat daya tarik, di beberapa titik sepanjang perjalanan dibangun spot foto.
Tampak bangunan bambu, di mana ketika berdiri di atasnya akan terlihat wilayah Blitar barat dan utara dari atas udara. Adanya lapak pedagang makanan dan minuman di sepanjang jalan berundak, membuat suasana lebih semarak. Tiba di puncak dengan nafas yang masih terengah, Geovani langsung melepas lelah.
Di sebelah ia duduk dengan kaki terjuntai, terlihat arca kepala Kala. Bongkahan batu yang berukir muka raksasa dalam kondisi sudah tidak sempurna. Bagian atasnya terpancung. Di dekat kala, berdiri Yoni yang di bagian lubang berbentuk segi empat, berisi air. Yoni tersebut dililit ukiran ular naga. Tepat di bawah kepala naga terlihat bekas bakaran dupa yang masih baru.
"Sepertinya belum lama dipakai ritualan," kata Geovani. Tidak jauh dari Kala dan Yoni terdapat gundukan batu candi berbentuk persegi empat. Posisinya bertumpuk tidak beraturan. Diantara gundukan tersebut terselip umpak batu. Namun tidak terlihat adanya prasasti. Sementara yang disebut bangunan induk adalah sebuah cungkup berlantai batu candi. Konon, di situlah Dewi Kilisuci atau bernama lain Sanggramawijaya, bersemedi.
Lihat Juga :