Hujan Sering Jadi Kambing Hitam Saat Banjir, Ini Faktanya
Senin, 15 Februari 2021 - 16:28 WIB
loading...
A
A
A
“Perencanaan yang telah dilakukan pemerintah itu bisa berjalan sebagaimana mestinya jika masyarakat juga mendukung dan mematuhi peraturan yang dibuat untuk menjaga saluran air,” ungkap peneliti dari Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS ini.
Sayangnya, lanjut Amien, saluran air yang telah dibuat tidak terjaga dengan baik seiring dengan pesatnya laju pertumbuhan penduduk kota. Menurut keterangan dosen Teknik Geofisika ini, berkurangnya lahan membuat masyarakat mulai merambah dan bermukim di tepi sungai serta pinggiran sekeliling bozem. Mereka bahkan menjadikan sungai dan bozem tersebut sebagai tempat pembuangan sampah sehari-hari.
Baca juga: Jumlah Penduduk Miskin di Jatim Bertambah Menjadi 4,58 Juta Orang
Mirisnya, pembuangan sampah pada saluran air juga banyak dijumpai di pemukiman biasa maupun di pemukiman elit. “Ini sangat memprihatinkan karena hampir semua elemen masyarakat masih ada yang membuang sampah sembarangan, pada akhirnya saat hujan mengguyur mulai banyak saluran yang meluap dan membanjiri seluruh kota,” ungkapnya.
Tidak menutup kemungkinan, apabila hal ini terus menerus dibiarkan dapat mengakibatkan tanggul jebol. Seperti halnya pada kasus banjir Bandarkedungmulyo, Jombang yang baru-baru ini terjadi. Banyak desa terendam air selama berhari-hari termasuk jalan provinsi antara Surabaya - Madiun.
“Banjir Bandarkedungmulyo ini disebabkan jebolnya tanggul karena tidak kuat menahan luapan air, yang mana diakibatkan oleh debit air Sungai Konto Jombang yang tertahan oleh penumpukan kayu, pohon, dan sampah di pintu air Gudo,” jelas Amien.
Amien pun mengungkapkan bahwa sebenarnya sampah di pintu air Gudo sudah diketahui masyarakat beberapa hari sebelumny. Namun karena tidak segera dilakukan tindakan, maka terjadilah tanggul jebol. “Melalui kejadian ini, kita belajar bahwa perlunya dibangun jalur komunikasi khusus antara masyarakat di sekitar sungai dengan pihak pengelola sungai,” jelasnya.
Sayangnya, lanjut Amien, saluran air yang telah dibuat tidak terjaga dengan baik seiring dengan pesatnya laju pertumbuhan penduduk kota. Menurut keterangan dosen Teknik Geofisika ini, berkurangnya lahan membuat masyarakat mulai merambah dan bermukim di tepi sungai serta pinggiran sekeliling bozem. Mereka bahkan menjadikan sungai dan bozem tersebut sebagai tempat pembuangan sampah sehari-hari.
Baca juga: Jumlah Penduduk Miskin di Jatim Bertambah Menjadi 4,58 Juta Orang
Mirisnya, pembuangan sampah pada saluran air juga banyak dijumpai di pemukiman biasa maupun di pemukiman elit. “Ini sangat memprihatinkan karena hampir semua elemen masyarakat masih ada yang membuang sampah sembarangan, pada akhirnya saat hujan mengguyur mulai banyak saluran yang meluap dan membanjiri seluruh kota,” ungkapnya.
Tidak menutup kemungkinan, apabila hal ini terus menerus dibiarkan dapat mengakibatkan tanggul jebol. Seperti halnya pada kasus banjir Bandarkedungmulyo, Jombang yang baru-baru ini terjadi. Banyak desa terendam air selama berhari-hari termasuk jalan provinsi antara Surabaya - Madiun.
“Banjir Bandarkedungmulyo ini disebabkan jebolnya tanggul karena tidak kuat menahan luapan air, yang mana diakibatkan oleh debit air Sungai Konto Jombang yang tertahan oleh penumpukan kayu, pohon, dan sampah di pintu air Gudo,” jelas Amien.
Amien pun mengungkapkan bahwa sebenarnya sampah di pintu air Gudo sudah diketahui masyarakat beberapa hari sebelumny. Namun karena tidak segera dilakukan tindakan, maka terjadilah tanggul jebol. “Melalui kejadian ini, kita belajar bahwa perlunya dibangun jalur komunikasi khusus antara masyarakat di sekitar sungai dengan pihak pengelola sungai,” jelasnya.
Lihat Juga :