PVMBG Duga Tol Cipali Ambles Akibat Material Timbunan yang Kurang Padu
Jum'at, 12 Februari 2021 - 19:24 WIB
loading...
A
A
A
Tidak hanya itu, Andiani juga mengatakan bahwa berdasarkan Peta Prakiraan Terjadinya Gerakan Tanah Bulan Februari 2021 di Kabupaten Subang, ruas Jalan Tol Cipali km 122 juga berada pada wilayah dengan potensi gerakan tanah rendah.
"Artinya, pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah, kecuali pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai dan gawir atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama (di sekitar lokasi bencana) pun telah mantap kembali," paparnya.
Baca juga: Tol Cipali Ambles 30 Meter, Kakorlantas Mabes Polri: Atasi Macet Contra Flow Dipangkas
Berdasarkan hasil analisa tersebut, Andiani menduga, salah satu penyebab bencana gerakan tanah tersebut akibat material timbunan yang belum padu yang menyebabkan lokasi bencana mudah erosi.
"Faktor penyebab gerakan tanah itu kemungkinan (akibat) material timbunan yang kurang padu atau mudah erosi," katanya.
Selain kurang padunya material timbunan, Andiani pun menyebutkan tiga faktor lainnya yang diperkirakan menjadi penyebab peristiwa tersebut, yakni kemiringan lereng yang tidak tercantum curam, sehingga gerakan tanah relatif lambat dan pengaruh dari erosi air permukaan (air hujan maupun aliran sungai) di kaki lereng mengingat lokasi bencana berada tidak jauh dari sungai besar.
"Terakhir, curah hujan yang tinggi menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah," kata Andiani.
"Artinya, pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah, kecuali pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai dan gawir atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama (di sekitar lokasi bencana) pun telah mantap kembali," paparnya.
Baca juga: Tol Cipali Ambles 30 Meter, Kakorlantas Mabes Polri: Atasi Macet Contra Flow Dipangkas
Berdasarkan hasil analisa tersebut, Andiani menduga, salah satu penyebab bencana gerakan tanah tersebut akibat material timbunan yang belum padu yang menyebabkan lokasi bencana mudah erosi.
"Faktor penyebab gerakan tanah itu kemungkinan (akibat) material timbunan yang kurang padu atau mudah erosi," katanya.
Selain kurang padunya material timbunan, Andiani pun menyebutkan tiga faktor lainnya yang diperkirakan menjadi penyebab peristiwa tersebut, yakni kemiringan lereng yang tidak tercantum curam, sehingga gerakan tanah relatif lambat dan pengaruh dari erosi air permukaan (air hujan maupun aliran sungai) di kaki lereng mengingat lokasi bencana berada tidak jauh dari sungai besar.
"Terakhir, curah hujan yang tinggi menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah," kata Andiani.
Lihat Juga :