Cerita Penyintas COVID-19 Blitar, Setelah Sembuh Tubuh Menjadi Cepat Lelah
Kamis, 28 Januari 2021 - 06:00 WIB
loading...
A
A
A
"Serasa menjadi tahanan rumah adalah siksaan tersendiri. Merasa menjadi makhluk yang berbeda. Karenanya sangat senang ketika ada yang menyapa, baik via WA maupun dari jauh," kata Edi. Untuk memastikan kesembuhan, isolasi mandiri tersebut, ditambah empat hari.
Kecuali ayah mertuanya yang meninggal dunia, semuanya dinyatakan sembuh. "Alhamdulillah kami sekeluarga bisa melewati masa sulit itu," papar Edi. Sejak dinyatakan pulih, dan itu diumumkan Ketua RT melalui grup WA di lingkungan, Edi sudah tidak lagi merasa demam.
Keluhan pilek, batuk kering, serta nyeri kepala yang sempat membuatnya nyaris tidak sadarkan diri, telah lenyap. Namun staminanya berubah. Edi merasakan tubuhnya tidak sekuat dulu. Dibanding sebelum terpapar COVID-19, ia merasa mudah lelah. Kemudian juga kerap mengantuk, dan hanya nyaman jika dipakai rebahan.
"Misalnya senam ringan menggerakkan tangan dan kaki saja, tidak bisa kuat lama," kata Edi mencontohkan. Sebelum terpapar COVID-19, Edi bisa kuat melakukan senam ringan sampai seratus gerakan. Namun saat ini, dirinya tidak sanggup lagi melakukan hal yang sama. Ia juga menjadi mudah batuk ketika udara dingin.
Edi yang memelihara ayam di Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok, juga tidak kuat lagi jika harus beraktifitas di kebun. "Kalau mencangkul jelas sudah tidak kuat," katanya. Meski dinyatakan sembuh, satu keluarga ini dianjurkan tetap melakukan rutinitas olahraga. Setiap pagi juga masih rutin berjemur.
Menurut Edi, kondisi perubahan stamina tersebut juga dialami istri dan ibu mertuanya. Sama seperti dirinya. Mudah lemas serta mengantuk. Bahkan indra pengecap istrinya, belum sepenuhnya pulih. Paska terpapar COVID-19, kata Edi, lidah istrinya sempat berwarna putih. Entah karena faktor itu atau tidak, istrinya sulit membedakan rasa.
"Dulu sebelum kena COVID-19, selalu nunggu anaknya belajar sampai jam 9 malam. Sekarang tidak bisa lagi, karena tidak bisa menahan kantuk dan lemas," papar Edi. Entah karena masih berusia anak anak, dua orang putra Edi tidak merasakan keluhan paska sembuh dari COVID-19.
Kecuali ayah mertuanya yang meninggal dunia, semuanya dinyatakan sembuh. "Alhamdulillah kami sekeluarga bisa melewati masa sulit itu," papar Edi. Sejak dinyatakan pulih, dan itu diumumkan Ketua RT melalui grup WA di lingkungan, Edi sudah tidak lagi merasa demam.
Keluhan pilek, batuk kering, serta nyeri kepala yang sempat membuatnya nyaris tidak sadarkan diri, telah lenyap. Namun staminanya berubah. Edi merasakan tubuhnya tidak sekuat dulu. Dibanding sebelum terpapar COVID-19, ia merasa mudah lelah. Kemudian juga kerap mengantuk, dan hanya nyaman jika dipakai rebahan.
"Misalnya senam ringan menggerakkan tangan dan kaki saja, tidak bisa kuat lama," kata Edi mencontohkan. Sebelum terpapar COVID-19, Edi bisa kuat melakukan senam ringan sampai seratus gerakan. Namun saat ini, dirinya tidak sanggup lagi melakukan hal yang sama. Ia juga menjadi mudah batuk ketika udara dingin.
Edi yang memelihara ayam di Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok, juga tidak kuat lagi jika harus beraktifitas di kebun. "Kalau mencangkul jelas sudah tidak kuat," katanya. Meski dinyatakan sembuh, satu keluarga ini dianjurkan tetap melakukan rutinitas olahraga. Setiap pagi juga masih rutin berjemur.
Menurut Edi, kondisi perubahan stamina tersebut juga dialami istri dan ibu mertuanya. Sama seperti dirinya. Mudah lemas serta mengantuk. Bahkan indra pengecap istrinya, belum sepenuhnya pulih. Paska terpapar COVID-19, kata Edi, lidah istrinya sempat berwarna putih. Entah karena faktor itu atau tidak, istrinya sulit membedakan rasa.
"Dulu sebelum kena COVID-19, selalu nunggu anaknya belajar sampai jam 9 malam. Sekarang tidak bisa lagi, karena tidak bisa menahan kantuk dan lemas," papar Edi. Entah karena masih berusia anak anak, dua orang putra Edi tidak merasakan keluhan paska sembuh dari COVID-19.
Lihat Juga :