Tingkatan Deteksi Corona, Jawa Tengah Pesan 100 GeNose UGM
Senin, 25 Januari 2021 - 22:39 WIB
loading...
Pemprov Jawa Tengah memesan 100 unit GeNose C19 untuk dipakai di sejumlah fasilitas kesehatan dan layanan publik karena efektif dan efisien mendeteksi COVID-19. Foto/Ist
A
A
A
SEMARANG - Pemprov Jawa Tengah memesan 100 unit GeNose C19 untuk dipakai di sejumlah fasilitas kesehatan dan tempat layanan publik. Inovasi dari Universitas Gadjah Mada ( UGM ) Yogyakarta itu dinilai efektif dan efisien untuk mendeteksi COVID-19.
Baca juga: Mulai 5 Februari 2021, GeNoSe C19 Didistribusikan ke Terminal Terpadu Pulogebang
"Saya sih berharap bisa cepat, tapi kemarin Wakil Rektor UGM datang ke sini, katanya lagi on going, tapi belum bisa memastikan kapan pesanan saya akan datang karena produksinya lagi berjalan. Saya sih pengen cepet," kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Senin (25/1/2021).
Baca juga: PT KAI Siap Gunakan GeNose C19 untuk Deteksi COVID-19 Penumpang Kereta
Politikus PDIP itu mengaku tak khawatir dampak tingginya angka kasus COVID-19 dengan peningkatan tracing dan testing menggunakan GeNose. Sebab, kalau meningkatnya kasus itu karena hasil testing, maka penanganan akan jauh lebih baik.
"Buat saya biasa saja, kalau meningkatnya itu karena mereka ketahuan dan kemudian sejak dini dia OTG begitu, maka penanganan jauh lebih cepat," tegasnya.
Menurutnya, justru berbahaya jika testing tidak dilakukan secara masif. Orang yang terkena COVID-19 tidak terdeteksi dan berkeliaran menularkan pada yang lain.
"Kalau dites kan kita cepat tahu, terus dilakukan tindakannya. Kalau tidak tahu dan berkeliaran kan bahaya. Maka jangan pernah takut kalau nanti itu melonjak tinggi, karena memang hasil tes. Testing itu penting untuk kita mengetahui faktanya seperti apa," tuturnya.
Dia pun mengapresiasi alat pendeteksi COVID-19 buatan UGM, GeNose C19 sebagai alat uji resmi oleh Pemerintah Pusat. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan menggunakan GeNose C19 sebagai alat uji resmi COVID-19 bagi penumpang kereta api di stasiun dan penumpang bus di terminal-terminal.
Kemenhub telah memesan 200 GeNose yang akan digunakan di 44 titik stasiun di Jawa dan Sumatera, serta beberapa lokasi terminal mulai 5 Februari. "Saya kira bagus, kalau itu bisa dilakukan di seluruh instansi publik yang lain, tentu akan sangat membantu untuk bisa lebih cepat mengetes dan melakukan tindakannya," kata Ganjar.
Dia berharap, GeNose dapat digunakan di banyak tempat lain untuk meningkatkan testing dan tracing COVID-19. Misalnya seluruh puskesmas dan layanan publik lain menggunakan GeNose, maka akan sangat membantu.
"Di perhubungan itu penting, pasar saya kira penting juga, termasuk mal dan lainnya, sehingga orang yang masuk benar-benar aman. Suka tidak suka, harus ada memang cara menjaga preventifnya bisa berjalan," ucapnya.
Sebelumnya, Ganjar mengusulkan pada pemerintah pusat untuk menggunakan GeNose C19 sebagai alat uji resmi COVID-19 di Indonesia. Alat buatan UGM tersebut dinilai sangat efektif dan membantu proses tracing serta testing, karena cepat, murah, dan hasilnya sudah teruji.
Baca juga: Mulai 5 Februari 2021, GeNoSe C19 Didistribusikan ke Terminal Terpadu Pulogebang
"Saya sih berharap bisa cepat, tapi kemarin Wakil Rektor UGM datang ke sini, katanya lagi on going, tapi belum bisa memastikan kapan pesanan saya akan datang karena produksinya lagi berjalan. Saya sih pengen cepet," kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Senin (25/1/2021).
Baca juga: PT KAI Siap Gunakan GeNose C19 untuk Deteksi COVID-19 Penumpang Kereta
Politikus PDIP itu mengaku tak khawatir dampak tingginya angka kasus COVID-19 dengan peningkatan tracing dan testing menggunakan GeNose. Sebab, kalau meningkatnya kasus itu karena hasil testing, maka penanganan akan jauh lebih baik.
"Buat saya biasa saja, kalau meningkatnya itu karena mereka ketahuan dan kemudian sejak dini dia OTG begitu, maka penanganan jauh lebih cepat," tegasnya.
Menurutnya, justru berbahaya jika testing tidak dilakukan secara masif. Orang yang terkena COVID-19 tidak terdeteksi dan berkeliaran menularkan pada yang lain.
"Kalau dites kan kita cepat tahu, terus dilakukan tindakannya. Kalau tidak tahu dan berkeliaran kan bahaya. Maka jangan pernah takut kalau nanti itu melonjak tinggi, karena memang hasil tes. Testing itu penting untuk kita mengetahui faktanya seperti apa," tuturnya.
Dia pun mengapresiasi alat pendeteksi COVID-19 buatan UGM, GeNose C19 sebagai alat uji resmi oleh Pemerintah Pusat. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan menggunakan GeNose C19 sebagai alat uji resmi COVID-19 bagi penumpang kereta api di stasiun dan penumpang bus di terminal-terminal.
Kemenhub telah memesan 200 GeNose yang akan digunakan di 44 titik stasiun di Jawa dan Sumatera, serta beberapa lokasi terminal mulai 5 Februari. "Saya kira bagus, kalau itu bisa dilakukan di seluruh instansi publik yang lain, tentu akan sangat membantu untuk bisa lebih cepat mengetes dan melakukan tindakannya," kata Ganjar.
Dia berharap, GeNose dapat digunakan di banyak tempat lain untuk meningkatkan testing dan tracing COVID-19. Misalnya seluruh puskesmas dan layanan publik lain menggunakan GeNose, maka akan sangat membantu.
"Di perhubungan itu penting, pasar saya kira penting juga, termasuk mal dan lainnya, sehingga orang yang masuk benar-benar aman. Suka tidak suka, harus ada memang cara menjaga preventifnya bisa berjalan," ucapnya.
Sebelumnya, Ganjar mengusulkan pada pemerintah pusat untuk menggunakan GeNose C19 sebagai alat uji resmi COVID-19 di Indonesia. Alat buatan UGM tersebut dinilai sangat efektif dan membantu proses tracing serta testing, karena cepat, murah, dan hasilnya sudah teruji.
(shf)
Lihat Juga :