Krisis Pangan Mangancam, Gardellive Kebun Komunitas Berbasis AI Bisa Jadi Solusi
Kamis, 21 Januari 2021 - 02:36 WIB
loading...
Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan membuat suatu aplikasi bernama Gardellive. Foto/Ist.
A
A
A
SURABAYA - Sektor perkebunan sebagai salah satu penopang perekonomian di Indonesia. Adanya sentuhan teknologi yang semakin canggih membawa sektor ini untuk terus bertahan dan berkembang.
Baca juga: Impor Bahan Pangan Butuh Solusi Serius
Salah satunya yang dilakukan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan membuat suatu aplikasi bernama Gardellive. Aplikasi ini merupakan inovasi yang mengintegrasikan telepon seluler dan kondisi kebun komunitas dengan memanfaatkan sensor berbasis artificial intelligence (AI).
Masyarakat urban memiliki kecenderungan daya beli yang rendah untuk menanam dan memanen kebutuhan pangannya sendiri. Padahal, dengan menanam dan memanen sendiri setidaknya masyarakat akan dapat meminimalisasi pengeluaran dan justru bisa menambah pemasukan.
Muhammad Nur Slamet, Ketua Tim Penggagas Gardellive menuturkan, masyarakat akan lebih mudah menanam sendiri dan mengonsumsi hasilnya ataupun memperjual belikannya menggunakan Gardellive.
"Selain latar belakang perekonomian, ide ini kami gagas dengan harapan dapat menunjang pemenuhan kebutuhan pangan empat sehat lima sempurna masyarakat urban," kata Omet, panggilan akrabnya.
Baca juga: Gempa Berpusat di Daratan Kembali Guncang Wilayah Sulawesi Barat
Ia melanjutkan, kebun komunitas dipilih sebagai objek penerima manfaat karena lahan yang dibutuhkan tidak cukup besar. Penggunaan lahan bersama sebagai kebun komunitas dirasa tepat untuk didorong lebih maju sehingga berkembang di perkotaan.
Gardellive menawarkan berbagai kemudahan dalam satu genggaman. Teknologi ini memudahkan upaya memaksimalkan sistem kebun komunitas berbasis hidroponik dengan menekan besar usaha pekebun untuk memantau tanamannya.
Omet menjelaskan, para pekebun akan dibantu merekap perkembangan tanaman dengan bantuan AI sebagai sensor pendeteksi di lapangan. "Mulai dari sistem pengairan, pengukuran pH, temperature, dan kelembapan, semua telah terintegrasi melalui Gardellive," jelasnya.
Baca juga: 1 Wartawan Dipanggil Ditreskrimum Polda Jabar, Klarifikasi Kasus Pencemaran Nama Baik
Mahasiswa Departemen Teknik Material dan Metalurgi ini menambahkan, dari pembacaan sensor berbasis AI itu, pekebun juga disuguhi berbagai solusi penanganan apabila terdapat gejala masalah yang menyerang kebun komunitasnya. Kemudahan-kemudahan itulah yang ditawarkan Gardellive pada fitur "Gardener" yang diharapkan dapat memberdayakan kemampuan produksi pangan sendiri.
Tak hanya memfasilitasi para pekebun melalui fitur Gardener, Omet dan timnya juga menaruh fitur Buyers sebagai pelengkap. Melalui fitur ini, masyarakat sekitar terhubung kepada para pekebun, dan pekebun pun akan lebih mudah menjajakan hasil panennya.
Jika disederhanakan, Gardellive adalah aplikasi yang memuat sistem aplikasi jual beli online, track recording, dan layanan antar-jemput. "Di luar itu, Gardellive menyuguhkan keunggulan berupa kelengkapan data, sistem koperasi dan jual beli, serta teknologi yang digunakan," ungkapnya.
Baca juga: Bantu Korban Bencana, Setiap Hari PMI Distribusikan 250 Liter Air Bersih
Dengan kelengkapan data yang disimpannya, rekomendasi-rekomendasi atas masalah perkebunan akan semakin beragam ditawarkan kepada para pekebun. Sementara sistem koperasi, dipasang untuk mempermudah penjaringan konsumen dan stakeholder yang mungkin terkait.
"Pada penyusunan teknologi Gardellive, kami memanfaatkan Artificial Neural Network agar automatisasi kerja sensor, CCTV, pH meter, arduino uno, dan material lain berjalan lancar," katanya.
Sebagai salah satu alat ukur efektivitas waktu dan langkah kerja, Gardellive pun menyediakan papan timeline dalam layanannya. Layanan ini bermaksud untuk merekomendasikan waktu tepat kapan langkah pemupukan sebaiknya dikerjakan, hingga kapan sebaiknya dipanen. "Jadwal yang direkomendasikan oleh papan timeline ini mengikuti sistem, berdasarkan potret tanaman yang ditangkap oleh detector di lapangan," jelasnya.
Baca juga: Sikka Gempar, Pria Tambun Tanpa Baju Nekad Bakar SPBU di Jalan Trans Flores
Penjelasan Omet itu diikuti dengan pernyataannya yang mengharapkan agar ide yang disusunnya selama empat bulanan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta. Sehingga, dampak di bidang pangan, kesehatan, hingga perekonomian dapat dirasakan oleh sebagian besar masyarakat urban secara khusus, dan masyarakat Indonesia secara umum.
Baca juga: Impor Bahan Pangan Butuh Solusi Serius
Salah satunya yang dilakukan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan membuat suatu aplikasi bernama Gardellive. Aplikasi ini merupakan inovasi yang mengintegrasikan telepon seluler dan kondisi kebun komunitas dengan memanfaatkan sensor berbasis artificial intelligence (AI).
Masyarakat urban memiliki kecenderungan daya beli yang rendah untuk menanam dan memanen kebutuhan pangannya sendiri. Padahal, dengan menanam dan memanen sendiri setidaknya masyarakat akan dapat meminimalisasi pengeluaran dan justru bisa menambah pemasukan.
Muhammad Nur Slamet, Ketua Tim Penggagas Gardellive menuturkan, masyarakat akan lebih mudah menanam sendiri dan mengonsumsi hasilnya ataupun memperjual belikannya menggunakan Gardellive.
"Selain latar belakang perekonomian, ide ini kami gagas dengan harapan dapat menunjang pemenuhan kebutuhan pangan empat sehat lima sempurna masyarakat urban," kata Omet, panggilan akrabnya.
Baca juga: Gempa Berpusat di Daratan Kembali Guncang Wilayah Sulawesi Barat
Ia melanjutkan, kebun komunitas dipilih sebagai objek penerima manfaat karena lahan yang dibutuhkan tidak cukup besar. Penggunaan lahan bersama sebagai kebun komunitas dirasa tepat untuk didorong lebih maju sehingga berkembang di perkotaan.
Gardellive menawarkan berbagai kemudahan dalam satu genggaman. Teknologi ini memudahkan upaya memaksimalkan sistem kebun komunitas berbasis hidroponik dengan menekan besar usaha pekebun untuk memantau tanamannya.
Omet menjelaskan, para pekebun akan dibantu merekap perkembangan tanaman dengan bantuan AI sebagai sensor pendeteksi di lapangan. "Mulai dari sistem pengairan, pengukuran pH, temperature, dan kelembapan, semua telah terintegrasi melalui Gardellive," jelasnya.
Baca juga: 1 Wartawan Dipanggil Ditreskrimum Polda Jabar, Klarifikasi Kasus Pencemaran Nama Baik
Mahasiswa Departemen Teknik Material dan Metalurgi ini menambahkan, dari pembacaan sensor berbasis AI itu, pekebun juga disuguhi berbagai solusi penanganan apabila terdapat gejala masalah yang menyerang kebun komunitasnya. Kemudahan-kemudahan itulah yang ditawarkan Gardellive pada fitur "Gardener" yang diharapkan dapat memberdayakan kemampuan produksi pangan sendiri.
Tak hanya memfasilitasi para pekebun melalui fitur Gardener, Omet dan timnya juga menaruh fitur Buyers sebagai pelengkap. Melalui fitur ini, masyarakat sekitar terhubung kepada para pekebun, dan pekebun pun akan lebih mudah menjajakan hasil panennya.
Jika disederhanakan, Gardellive adalah aplikasi yang memuat sistem aplikasi jual beli online, track recording, dan layanan antar-jemput. "Di luar itu, Gardellive menyuguhkan keunggulan berupa kelengkapan data, sistem koperasi dan jual beli, serta teknologi yang digunakan," ungkapnya.
Baca juga: Bantu Korban Bencana, Setiap Hari PMI Distribusikan 250 Liter Air Bersih
Dengan kelengkapan data yang disimpannya, rekomendasi-rekomendasi atas masalah perkebunan akan semakin beragam ditawarkan kepada para pekebun. Sementara sistem koperasi, dipasang untuk mempermudah penjaringan konsumen dan stakeholder yang mungkin terkait.
"Pada penyusunan teknologi Gardellive, kami memanfaatkan Artificial Neural Network agar automatisasi kerja sensor, CCTV, pH meter, arduino uno, dan material lain berjalan lancar," katanya.
Sebagai salah satu alat ukur efektivitas waktu dan langkah kerja, Gardellive pun menyediakan papan timeline dalam layanannya. Layanan ini bermaksud untuk merekomendasikan waktu tepat kapan langkah pemupukan sebaiknya dikerjakan, hingga kapan sebaiknya dipanen. "Jadwal yang direkomendasikan oleh papan timeline ini mengikuti sistem, berdasarkan potret tanaman yang ditangkap oleh detector di lapangan," jelasnya.
Baca juga: Sikka Gempar, Pria Tambun Tanpa Baju Nekad Bakar SPBU di Jalan Trans Flores
Penjelasan Omet itu diikuti dengan pernyataannya yang mengharapkan agar ide yang disusunnya selama empat bulanan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta. Sehingga, dampak di bidang pangan, kesehatan, hingga perekonomian dapat dirasakan oleh sebagian besar masyarakat urban secara khusus, dan masyarakat Indonesia secara umum.
(eyt)
Lihat Juga :