Pengadaan Vaksin Covid-19 yang Dilakukan Pemerintah Disoroti
Sabtu, 12 Desember 2020 - 09:31 WIB
loading...
Pengadaan vaksin Covid-19 yang didatangka dari China disoroti karena belum uji klinis dan tak mendapat respons dari WHO. Foto: Ilustrasi
A
A
A
MAKASSAR - Pengadaan vaksin untuk Covid-19 disoroti karena belum lolos tahapan uji klinis. Bahkan, merek vaksin yang baru-baru ini didatangkan diketahui belum mendapat respons dan rekomendasi dari lembaga kesehatan dunia (WHO).
Anggota DPR RI Komisi IX, Aliyah Mustika Ilham mempertanyakan keputusan pemerintah yang dinilai sangat berani mendatangkan vaksin yang belum lolos tahap uji klinis dan belum ada rekomendasi dari pihak WHO.
"Dari 3 juta yang akan didatangkan, yang baru datang kan 1,2 juta. PKS bersuara, tolong 1,8 juta tahan dulu, karena pertimbangan yang datang ini barang belum lolos uji klinis . Hasil raker kemarin pemerintah membela diri, bilang kalau kita tidak beli sekarang, rebutan ini barang," sebut Aliyah, Jumat (11/12) malam.
Baca Juga: Ilmuwan Akan Campur Vaksin AstraZeneca dengan Sputnik V Rusia
Selain mengambil langkah cepat untuk membeli vaksin bahkan sebelum lolos tahap klinis, menurut Aliyah, pemerintah juga beralasan vaksin merek Sinovac asal China yang didatangkan tersebut dinilai akan cocok dengan Indonesia karena iklim negara Asia kurang lebih sama.
"Tapi saya pertanyakan, kok berani beli ini barang sementara rekomendasi dari WHO, Sinovac ini no respon. Tapi kalau pertimbangan mengambil ini barang dari China karena iklimnya sama yaitu Asia," urai Aliyah.
Tidak hanya vaksin merek Sinovac asal China, pemerintah juga telah melakukan pemesanan vaksin merek Novavac asal Amerika Serikat sebanyak 30 juta dosis. Padahal, yang direkomendasikan hanya ada enam jenis vaksin saja, yaitu produksi dari PT Bio Farma (Persero), AstraZeneca, China National Pharmaceutical Group Corporation (Sinopharm), Moderna, Pfizer Inc and BioNTech, dan Sinovac Biotech Ltd,
Anggota DPR RI Komisi IX, Aliyah Mustika Ilham mempertanyakan keputusan pemerintah yang dinilai sangat berani mendatangkan vaksin yang belum lolos tahap uji klinis dan belum ada rekomendasi dari pihak WHO.
"Dari 3 juta yang akan didatangkan, yang baru datang kan 1,2 juta. PKS bersuara, tolong 1,8 juta tahan dulu, karena pertimbangan yang datang ini barang belum lolos uji klinis . Hasil raker kemarin pemerintah membela diri, bilang kalau kita tidak beli sekarang, rebutan ini barang," sebut Aliyah, Jumat (11/12) malam.
Baca Juga: Ilmuwan Akan Campur Vaksin AstraZeneca dengan Sputnik V Rusia
Selain mengambil langkah cepat untuk membeli vaksin bahkan sebelum lolos tahap klinis, menurut Aliyah, pemerintah juga beralasan vaksin merek Sinovac asal China yang didatangkan tersebut dinilai akan cocok dengan Indonesia karena iklim negara Asia kurang lebih sama.
"Tapi saya pertanyakan, kok berani beli ini barang sementara rekomendasi dari WHO, Sinovac ini no respon. Tapi kalau pertimbangan mengambil ini barang dari China karena iklimnya sama yaitu Asia," urai Aliyah.
Tidak hanya vaksin merek Sinovac asal China, pemerintah juga telah melakukan pemesanan vaksin merek Novavac asal Amerika Serikat sebanyak 30 juta dosis. Padahal, yang direkomendasikan hanya ada enam jenis vaksin saja, yaitu produksi dari PT Bio Farma (Persero), AstraZeneca, China National Pharmaceutical Group Corporation (Sinopharm), Moderna, Pfizer Inc and BioNTech, dan Sinovac Biotech Ltd,
Lihat Juga :