Beda Versi Soal Penembakan 6 Anggota FPI, Psikolog Forensik: Perlu Ada Kronologis Berkualitas
Kamis, 10 Desember 2020 - 07:22 WIB
loading...
A
A
A
Reza menambahkan, dalam psikologi forensik ada istilah penembakan yang menular (contagious shooting). Ketika satu personel menembak, hampir selalu bisa dipastikan dalam tempo cepat personil-personil lain juga akan melakukan penembakan."Seperti aba-aba, anggota pasukan tidak melakukan kalkulasi, tapi tinggal mengikuti saja," jelas dia.
Dia menilai, kemungkinan dalam peristiwa di KM 50 Tol Cikampek aksi menembak menjadi perilaku spontan (bukan aktivitas terukur). Terlebih, jika semakin besar ketika para petugas sudah mempersepsikan target sebagai pihak yang berbahaya.
"Jadi, dengan kata lain, dalam situasi semacam itu, personel bertindak dengan didorong oleh rasa takut," tutur Reza. Menurut Reza, peristiwa yang dipersepsikan kritis sering berlangsung pada malam hari. Data menunjukkan bahwa lebih dari 70% kasus penembakan terhadap target yang disangka bersenjata berlangsung pada malam hari.
"Saat pencahayaan minim sehingga mengganggu kejernihan penglihatan personel. Sempurnalah faktor luar dan faktor dalam memunculkan perilaku. Faktor luar adalah letusan pertama oleh personel pertama dan kondisi alam di TKP. Faktor dalam adalah rasa takut personil," ucap dia.
Reza menjelaskan, perbedaan versi peristiwa pemembakan laskar FPI membutuhkan investigasi dari kasus per kasus terhadap masing-masing dan antarpersonel kepolisian yang bertugas menguntit Habib Rizieq tersebut. "Investigasi oleh semacam shooting review board nantinya tidak hanya mengeluarkan simpulan apakah penembakan memang sesuai atau bertentangan dengan ketentuan. Lebih jauh, temuan tim investigasi bermanfaat sebagai masukan bagi unit-unit semacam SDM dan Diklat," ucapnya.
Dia menilai, kemungkinan dalam peristiwa di KM 50 Tol Cikampek aksi menembak menjadi perilaku spontan (bukan aktivitas terukur). Terlebih, jika semakin besar ketika para petugas sudah mempersepsikan target sebagai pihak yang berbahaya.
"Jadi, dengan kata lain, dalam situasi semacam itu, personel bertindak dengan didorong oleh rasa takut," tutur Reza. Menurut Reza, peristiwa yang dipersepsikan kritis sering berlangsung pada malam hari. Data menunjukkan bahwa lebih dari 70% kasus penembakan terhadap target yang disangka bersenjata berlangsung pada malam hari.
"Saat pencahayaan minim sehingga mengganggu kejernihan penglihatan personel. Sempurnalah faktor luar dan faktor dalam memunculkan perilaku. Faktor luar adalah letusan pertama oleh personel pertama dan kondisi alam di TKP. Faktor dalam adalah rasa takut personil," ucap dia.
Reza menjelaskan, perbedaan versi peristiwa pemembakan laskar FPI membutuhkan investigasi dari kasus per kasus terhadap masing-masing dan antarpersonel kepolisian yang bertugas menguntit Habib Rizieq tersebut. "Investigasi oleh semacam shooting review board nantinya tidak hanya mengeluarkan simpulan apakah penembakan memang sesuai atau bertentangan dengan ketentuan. Lebih jauh, temuan tim investigasi bermanfaat sebagai masukan bagi unit-unit semacam SDM dan Diklat," ucapnya.
(hab)
Lihat Juga :