Sensasi Makan Ala Kapal Titanic di Genangan Air Bendungan Saguling

loading...
Sensasi Makan Ala Kapal Titanic di Genangan Air Bendungan Saguling
Restoran terapung Napak Sancang di Kabupaten Bandung Barat yang menawarkan sensasi makan di kapal Titanic. Foto: SINDOnews/Adi Haryanto
BANDUNG BARAT - Beragam kreasi dan inovasi unik dilakukan para pebisnis serta pelaku usaha untuk menarik konsumen datang. Bukan hanya di daratan, permukaan air pun celah pintu rezeki yang sangat menjanjikan ketika dikemas dengan konsep yang tepat.

Ide gila, pemikiran 'out of the box', membuat restoran terapung di genangan air bendungan Saguling awalnya dipandang sebagai hal yang mustahil. Namun berkat ketekunan, kerja keras, dan keyakinan akhirnya, restoranterapung dengan nama Napak Sancang bisa terwujud. (Pusat Kuliner Banyuasin Akan Dihidupkan Kembali)

"Awalnya banyak yang menyangsikan dan menganggap ide saya (restoran terapung) ini gila. Tapi saya tidak hiraukan itu, karena untuk maju selain butuh modal, diperlukan juga keyakinan," terang pemilik Napak Sancang, Aep Nurdin dalam perbincangannya dengan SINDOnews, Sabtu (21/11/2020).

Dirinya mulai merintis dari nol membangun dermaga dan restoran terapung di tahun 2013. Lahan yang dipakai adalah hamparan genangan bendungan Saguling di Kampung Sayuran, Desa Mekar Mukti, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat(KBB).



Idenya muncul saat dirinya sedang berdiri di tepian bendungan dan mandang luas hamparan air. Saat itu terpikir bagaimana memanfaatkan permukaan air menjadi ladang usaha dan membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Akhirnya tercetuslah membuat rumah makan terapung.(Wisata ke Bandung Barat, Awas Bahaya Longsor di Jalur Wisata)

Diawali dengan bangunan kecil sederhana, setapak demi setapak respons konsumen sangat positif. Akhirnya restoran terapung mengalami pelebaran dan perubahan bentuk menjadi seperti sebuah perahu yang sedang mengapung. Kini luas restoran terapung Napak Sancang sudah mencapai 5.000 meter persegi, dengan panjang 100 meter dan lebar 25 meter.

"Di sini kami menjual makanan khas ikan bakar/goreng, ayam bakar/goreng, nasi timbel, dan beragam menu khas sunda. Semuanya disajikan dadakan dan ikannya juga dijaring dadakan, pengunjung bisa milih," ucapnya.



Disinggung makna dari nama Napak Sancang, Aep menyebutkan jika filosopinya adalah mengambang di atas air. Jadi pengunjung yang datang ke sini mereka bisa merasakan seperti makan di sebuah kapal terapung dari mulai haluan, geladak, hingga buritan, sambil menikmati suasana alam sekitar.

"Memang tempatnya dibuat seperti kapal, mimpinya seperti Titanic, walaupun dalam versi sederhana. Targetnya bangunan kapal ini bisa mencapai luas hingga 10.000 meter persegi, dengan fasilitas restoran, ruang pertemuan, aula pernikahan, di dalamnya. Jadi menjadi restoran terapung terbesar di Bandung Barat," kata pria bersahaja ini.

Pengunjung yang datang ke tempat ini memang tidak hanya sekadar makan. Mereka bisa merasakan berlayar dengan perahu mulai dari tiba dan pulang. Sebab ketika datang, dari tempat parkir untuk menuju restoran terapung harus naik perahu sejauh kurang lebih 100 meter. Semua itu gratis tidak dipungut biaya, karena perahu selalu siap mengantarkan kapan pun juga.

Salah seorang pengunjung, Dian Yulianti mengaku, sangat senang bisa menikmati sensasi makan bersama keluarga di restoran terapung Napak Sancang. Selain harga makanan yang relatif terjangkau, suasana alam dan tempatnya juga sangat menyejukan. Apalagi ada spot-spot foto yang instagramable sehingga bisa berfoto dan jadi kenang-kenangan di media sosial.

"Suasananya enak dan pemandangannya asik. Makan di atas kapal jadi pengalaman pertama bagi keluarga, kerasa juga ada goyang-goyang dikit, seru aja," tutur warga Kota Bandung ini.
(end)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top