Kota Gorontalo Menjadi Bagian dari Proyek Ketahanan Iklim
Selasa, 13 Oktober 2020 - 19:11 WIB
loading...
Kepala Bapppeda Kota Gorontalo Meidy N. Silangen
A
A
A
KOTA GORONTALO -
Kota Gorontalo dipilih sebagai satu dari sepuluh kota percontohan Proyek CRIC (Climate Resilient and Inclusive Cities/Kota Berketahanan Iklim yang Inklusif) yang didanai oleh Uni Eropa. Proyek ini disiapkan dalam merumuskan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Kota yang dipilih akan mendapatkan dukungan teknis dan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan peningkatan kapasitas berskala internasional.
Sepuluh kota percontohan itu yakni Pangkal Pinang, Pekanbaru, Bandar Lampung, Cirebon, Banjarmasin, Samarinda, Mataramg, Kupang, Ternate dan Gorontalo. Program cric merupakan kolaborasi antara UCLG ASPAC, dengan lembaga-lembaga di Eropa (Pilot4Dev, ACR, Ecolise, Universitas Gustave Eiffel) dan India (AIILSG).
Proyek yang akan berlangsung dari 2020 hingga 2024 ini, turut menggandeng Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan APEKSI selaku mitra strategisnya.
Koordinator Proyek CRIC, Putra Dwitama mengatakan bahwa ada enam kriteria yang menentukan pemilihan kota percontohan CRIC. Keenam kriteria tersebut adalah kota memiliki sumber daya untuk melaksanakan kegiatan, dukungan pemimpin daerah, kota yang mewakili zona iklim dan wilayah tertentu agar proyek dapat menerapkan pendekatan berbeda sesuai dengan karakterstik lokal, pelibatan Kelompok akademisi dan riset, tidak ada tumpang tindih dengan inisiatif/proyek lain serta peluang kemitraan dengan kota lain di Asia Tenggara dan Asia Selatan menjadi syarat program tersebut.
“Komitmen dari kepala daerah menjadi salah satu faktor kunci pemilihan kota percontohan. Mengingat ini proyek jangka panjang, diharapkan kota dapat berperan aktif melalui modalitas saat ini yang dimiliki dan memaksimalkan CRIC untuk perbaikan kualitas perencanaan iklim dan kebijakan, serta aksi nyata di tingkat tapak. Salah satu bentuk dukungannya seperti pembentukan kelompok kerja selaku penerima manfaat utama kegiatan, untuk mendorong koordinasi antar pemangku kepentingan yang lebih efektif,” ujar Putra, Senin (12/10/2020).
Kepala Bapppeda Kota Gorontalo Meidy N. Silangen mengungkapkan, setelah terpilih kota percontohan akan menandatangani Komitmen bersama. Walikota yang menyatakan kesiapan terlibat aktif dalam seluruh kegiatan CRIC hingga 2024 akan difasilitasi dalam pembentukan Kelompok Kerja (Pokja). Pokja inilah yang akan menjadi wadah multipihak dan untuk merumuskan, melembagakan dan mengkoordinasikan kebijakan dan aksi untuk perubahan iklim di kota.
“Banyak manfaat yang akan diperoleh melalui Proyek CRIC. Pertama, adalah peningkatan kapasitas teknis bagi perangkat daerah. Setiap tahun, perwakilan kota akan mengikuti pelatihan berskala internasional. sejak bulan juli kemarin secara virtual, kita diundang sharing pada Perencanaan dan Pembangunan Kota yang Berkelanjutan” ucapnya.
Kota Gorontalo dipilih sebagai satu dari sepuluh kota percontohan Proyek CRIC (Climate Resilient and Inclusive Cities/Kota Berketahanan Iklim yang Inklusif) yang didanai oleh Uni Eropa. Proyek ini disiapkan dalam merumuskan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Kota yang dipilih akan mendapatkan dukungan teknis dan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan peningkatan kapasitas berskala internasional.
Sepuluh kota percontohan itu yakni Pangkal Pinang, Pekanbaru, Bandar Lampung, Cirebon, Banjarmasin, Samarinda, Mataramg, Kupang, Ternate dan Gorontalo. Program cric merupakan kolaborasi antara UCLG ASPAC, dengan lembaga-lembaga di Eropa (Pilot4Dev, ACR, Ecolise, Universitas Gustave Eiffel) dan India (AIILSG).
Proyek yang akan berlangsung dari 2020 hingga 2024 ini, turut menggandeng Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan APEKSI selaku mitra strategisnya.
Koordinator Proyek CRIC, Putra Dwitama mengatakan bahwa ada enam kriteria yang menentukan pemilihan kota percontohan CRIC. Keenam kriteria tersebut adalah kota memiliki sumber daya untuk melaksanakan kegiatan, dukungan pemimpin daerah, kota yang mewakili zona iklim dan wilayah tertentu agar proyek dapat menerapkan pendekatan berbeda sesuai dengan karakterstik lokal, pelibatan Kelompok akademisi dan riset, tidak ada tumpang tindih dengan inisiatif/proyek lain serta peluang kemitraan dengan kota lain di Asia Tenggara dan Asia Selatan menjadi syarat program tersebut.
“Komitmen dari kepala daerah menjadi salah satu faktor kunci pemilihan kota percontohan. Mengingat ini proyek jangka panjang, diharapkan kota dapat berperan aktif melalui modalitas saat ini yang dimiliki dan memaksimalkan CRIC untuk perbaikan kualitas perencanaan iklim dan kebijakan, serta aksi nyata di tingkat tapak. Salah satu bentuk dukungannya seperti pembentukan kelompok kerja selaku penerima manfaat utama kegiatan, untuk mendorong koordinasi antar pemangku kepentingan yang lebih efektif,” ujar Putra, Senin (12/10/2020).
Kepala Bapppeda Kota Gorontalo Meidy N. Silangen mengungkapkan, setelah terpilih kota percontohan akan menandatangani Komitmen bersama. Walikota yang menyatakan kesiapan terlibat aktif dalam seluruh kegiatan CRIC hingga 2024 akan difasilitasi dalam pembentukan Kelompok Kerja (Pokja). Pokja inilah yang akan menjadi wadah multipihak dan untuk merumuskan, melembagakan dan mengkoordinasikan kebijakan dan aksi untuk perubahan iklim di kota.
“Banyak manfaat yang akan diperoleh melalui Proyek CRIC. Pertama, adalah peningkatan kapasitas teknis bagi perangkat daerah. Setiap tahun, perwakilan kota akan mengikuti pelatihan berskala internasional. sejak bulan juli kemarin secara virtual, kita diundang sharing pada Perencanaan dan Pembangunan Kota yang Berkelanjutan” ucapnya.