Hadapi Banjir, Pemprov DKI Prioritaskan Pompa dan Pengerukan
Senin, 12 Oktober 2020 - 16:49 WIB
loading...
A
A
A
"Meski ukurannya lebih kecil dan bentuknya lebih sederhana, daya sedot Pompa Apung cukup besar, yakni mencapai 50 liter per detik. Kami berharap Pompa Apung ini dapat semakin memaksimalkan penanganan banjir di seluruh wilayah DKI Jakarta," ungkapnya. (Lihat video: Pasca Demo, Anies Baswedan Tinjau Fasilitas Umum yang Dirusak Massa )
Sementara itu, pengerukan secara masif juga masih terus dilakukan di sungai/waduk/embung/situ yang ada di DKI Jakarta melalui program Gerebek Lumpur. Tak hanya mengerahkan alat berat, pembersihan lumpur dan sampah juga dilakukan di saluran-saluran mikro secara manual oleh Satgas Dinas SDA. Kolaborasi dengan kelurahan untuk menggerakkan warga juga dilakukan untuk meningkatkan kepedulian warga terkait kebersihan saluran di sekitar tempat tinggalnya.
Gerebek Lumpur sendiri secara masif telah dilakukan di dua lokasi dengan mengerahkan hingga 3 kali lipat alat berat. Pada tahap pertama telah dilaksanakan di Waduk Ria Rio, Jakarta Timur pada 21 September 2020 lalu, dengan menggunakan 15 unit ekskavator. Selanjutnya tahap kedua telah dilakukan di Kali Baru Barat segmen Jl. Dr Saharjo, Setiabudi, Jakarta Selatan pada 30 September 2020. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria turut meninjau langsung kegiatan Gerebek Lumpur tahap kedua tersebut.
"Ini merupakan program berkelanjutan yang telah dilakukan sejak Maret 2020 dan akan berakhir pada Desember 2020. Program Gerebek Lumpur ini bertujuan untuk memaksimalkan daya tampung saluran dan kali, sehingga diharapkan dapat mencegah luapan air dari kali dan saluran ke permukiman warga," jelasnya. (Baca infografis: Lawan Covid-19, Jaga Jempol )
Sayangnya, Juaini tidak menjelaskan bagaimana mengantisipasi tanggul yang rawan jebol di bantaran kali.Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta pada awal tahun ini, sedikitnya ada dua wilayah sungai rawan jebol, yaitu di kawasan Jakarta Timur dan Selatan. Baru baru ini, tanggul jebol dan longsor terjadi di kawasan Ciganjur hingga menekan korban.
Sementara itu, pengerukan secara masif juga masih terus dilakukan di sungai/waduk/embung/situ yang ada di DKI Jakarta melalui program Gerebek Lumpur. Tak hanya mengerahkan alat berat, pembersihan lumpur dan sampah juga dilakukan di saluran-saluran mikro secara manual oleh Satgas Dinas SDA. Kolaborasi dengan kelurahan untuk menggerakkan warga juga dilakukan untuk meningkatkan kepedulian warga terkait kebersihan saluran di sekitar tempat tinggalnya.
Gerebek Lumpur sendiri secara masif telah dilakukan di dua lokasi dengan mengerahkan hingga 3 kali lipat alat berat. Pada tahap pertama telah dilaksanakan di Waduk Ria Rio, Jakarta Timur pada 21 September 2020 lalu, dengan menggunakan 15 unit ekskavator. Selanjutnya tahap kedua telah dilakukan di Kali Baru Barat segmen Jl. Dr Saharjo, Setiabudi, Jakarta Selatan pada 30 September 2020. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria turut meninjau langsung kegiatan Gerebek Lumpur tahap kedua tersebut.
"Ini merupakan program berkelanjutan yang telah dilakukan sejak Maret 2020 dan akan berakhir pada Desember 2020. Program Gerebek Lumpur ini bertujuan untuk memaksimalkan daya tampung saluran dan kali, sehingga diharapkan dapat mencegah luapan air dari kali dan saluran ke permukiman warga," jelasnya. (Baca infografis: Lawan Covid-19, Jaga Jempol )
Sayangnya, Juaini tidak menjelaskan bagaimana mengantisipasi tanggul yang rawan jebol di bantaran kali.Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta pada awal tahun ini, sedikitnya ada dua wilayah sungai rawan jebol, yaitu di kawasan Jakarta Timur dan Selatan. Baru baru ini, tanggul jebol dan longsor terjadi di kawasan Ciganjur hingga menekan korban.
(mhd)
Lihat Juga :