Manfaatkan Lahan Sempit, Jurnalis TV Ini Bangun Bisnis Budi Daya Jamur Tiram
Minggu, 11 Oktober 2020 - 20:02 WIB
loading...
A
A
A
Sebelum terjun ke bisnis budi daya jamur tiram Fachmi terlebih dahulu mengunjungi beberapa lokasi budi daya jamur di sekitar tempat tinggalnya, hingga terbesit dibenaknya untuk belajar berwirausaha melalui bisnis jamur tiram.
"Awalnya memang belajar besik dulu sejak Juni lalu. Beberapa lokasi tempat budi daya jamur saya kunjungi, banyak ilmu yang berhasil saya dapat dari petani jamur di tempat saya belajar. Terus baru benar-benar mulai jalan budi daya di bulan Juli. Nekat saja karena saya yakin bisnis ini bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah bagi saya karena peluang pasarnya cukup baik dan panennya itu bisa tiap hari kita lakukan," terang Fachmi.
Baca juga: Jamur Tiram Tak Terpengaruh Covid-19, Duta Petani Milenial Raup Puluhan Juta
Awal memulai bisnis tersebut, Fachmi mengaku mengeluarkan modal hingga Rp7 juta untuk berbagai peralatan budi daya jamur tiram, seperti pembuatan kumbung, rak, baglog, media tanam, dan berbagai kebutuhan tanam lainnya.
"Sekali panen dari satu baglog itu rata-rata setengah sampai satu kilogram. Kalau dari awal budi daya, total yang sudah dipanen 70 sampai 75 kilogram. Masih terbilang sedikit sih," ucapnya.
Ditambahkan Fachmi, minat konsumen untuk memesan jamur tiram di Maros cukup tinggi, dalam sehari biasanya hasil panen dari jamur tiramnya laris terjual hingga 6 kg, satu kilo jamur miliknya dihargai Rp22 ribu rupiah.
Selama wabah COVID-19, Fachmi memanfaatkan teknologi digital media sosial untuk memasarkan hasil panen jamur tiram miliknya, terkadang pula ada warga yang sengaja datang ke rumahnya untuk memesan secara langsung jamur tiram, sembari melihat suasana rumah jamur miliknya.
"Awalnya memang belajar besik dulu sejak Juni lalu. Beberapa lokasi tempat budi daya jamur saya kunjungi, banyak ilmu yang berhasil saya dapat dari petani jamur di tempat saya belajar. Terus baru benar-benar mulai jalan budi daya di bulan Juli. Nekat saja karena saya yakin bisnis ini bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah bagi saya karena peluang pasarnya cukup baik dan panennya itu bisa tiap hari kita lakukan," terang Fachmi.
Baca juga: Jamur Tiram Tak Terpengaruh Covid-19, Duta Petani Milenial Raup Puluhan Juta
Awal memulai bisnis tersebut, Fachmi mengaku mengeluarkan modal hingga Rp7 juta untuk berbagai peralatan budi daya jamur tiram, seperti pembuatan kumbung, rak, baglog, media tanam, dan berbagai kebutuhan tanam lainnya.
"Sekali panen dari satu baglog itu rata-rata setengah sampai satu kilogram. Kalau dari awal budi daya, total yang sudah dipanen 70 sampai 75 kilogram. Masih terbilang sedikit sih," ucapnya.
Ditambahkan Fachmi, minat konsumen untuk memesan jamur tiram di Maros cukup tinggi, dalam sehari biasanya hasil panen dari jamur tiramnya laris terjual hingga 6 kg, satu kilo jamur miliknya dihargai Rp22 ribu rupiah.
Selama wabah COVID-19, Fachmi memanfaatkan teknologi digital media sosial untuk memasarkan hasil panen jamur tiram miliknya, terkadang pula ada warga yang sengaja datang ke rumahnya untuk memesan secara langsung jamur tiram, sembari melihat suasana rumah jamur miliknya.
Lihat Juga :