Warga Jakarta Bangun Gerakan Bersama Perangi Polusi Udara
Selasa, 23 Juni 2026 - 20:28 WIB
loading...
Warga Jakarta bergerak menanggulangi polusi udara dengan berkumpul di Tebet Eco Park membahas berbagai upaya mengurai pencemaran pada Minggu (21/6/2026). Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Warga Jakarta bergerak menanggulangi polusi udara, di mana emisi dari kendaraan bermotor, industri, dan aktivitas rumah tangga membentuk lapisan polutan yang sulit diurai. Mereka ikut bergerak melakukan pemantauan polusi udara.
Langkah tersebut di antaranya diwujudkan saat berkumpul di Tebet Eco Park di Forum Udara Warga bertajuk 'Udara Kita, Suara Kita' pada Minggu (21/6/2026). Mereka datang untuk membahas polusi udara secara langsung.
Baca juga: Kualitas Udara Jakarta Terburuk di Dunia, Ini Respons Pramono
Selain berbagi pengalaman pribadi, warga juga bertukar pandangan tentang inisiatif yang lahir dari komunitas untuk mengurai polusi udara. Kegiatan ini dalam rangka kampanye yang menempatkan udara bersih sebagai hak kesehatan warga, bukan sekadar isu lingkungan.
Penggerak masyarakat dan penyuluh kesehatan dari Kebayoran Lama Selatan, Ajie mengatakan, forum seperti ini membuka ruang bagi warga untuk saling belajar dari praktik yang sudah dilakukan komunitas lain. Menurutnya, forum ini menjadi wadah mendengar pengalaman warga lain dalam menghadapi tantangan serupa dan cara masing-masing untuk mengatasinya.
“Harapannya, nanti semakin banyak anak muda yang ikut terlibat,” ujar Ajie, dikutip Selasa (23/6/2026).
Baca juga: Perubahan Iklim dan Polusi Udara Jadi Faktor Melonjaknya Kasus ISPA di Jakarta
Forum dibuka dengan sesi berbagi pengalaman dari penggerak komunitas yang selama ini bekerja di kelurahan masing-masing. Penggerak masyarakat dari Penjaringan, Kebayoran Lama Selatan, Kebon Kosong, hingga Semper Barat, membawa cerita inisiatif bank sampah, kebun komunitas, transisi energi rumah tangga, dan advokasi ruang terbuka hijau yang tumbuh dari kebutuhan warga yang paling nyata.
Kepala Sub-kelompok Pemantauan Kualitas Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Rahmawat mengapresiasi model partisipasi yang ditunjukkan komunitas. Sekaligus menegaskan komitmen pemerintah untuk memperluas dukungan terhadap inisiatif warga yang sudah terbukti berjalan.
“Apa yang komunitas lakukan ini bukan hanya melengkapi program pemerintah. Ini yang seharusnya menjadi fondasi kebijakan udara bersih kita ke depan,” ungkap Rahmawat.
Forum ini sekaligus menjadi momentum peluncuran kembali platform Jakarta Rendah Emisi atau JRE sebagai ruang diskusi yang terus hidup setelah forum selesai. Breathe Cities Jakarta yang mendukung kegiatan ini menegaskan bahwa platform ini dirancang sebagai kanal bersama antara warga, CSO, dan pemda untuk terus memantau, berbagi, dan mendorong aksi di tingkat lokal.
Indonesia Country Coordinator di Vital Strategies Imelda Maidir, selaku perwakilan Breathe Cities Jakarta berharap pertemuan dan perbincangan antarwarga ini terus berlanjut. "Forum ini tidak boleh berhenti di sini. JRE adalah tempat kita melanjutkan percakapan ini setiap hari," ujarnya.
Terpisah, di RW 004 Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, persoalan polusi udara bukan abstraksi. Kawasan ini berbatasan langsung dengan delapan titik kawasan bongkar muat Pelabuhan Tanjung Priok. Setiap hari lalu lintas kontainer berat memenuhi jalan-jalan permukiman dengan emisi diesel.
Paparan polutan di kawasan ini bersifat harian dan berlapis, menyebabkan kondisi udara buruk yang berdampak pada kesehatan seperti gangguan pernapasan. Ditambah lagi salah satu sumber yang kerap luput dari perhatian adalah pembakaran sampah terbuka yang menyumbang emisi PM2.5.
Nur Fiyah, penggerak Bank Sampah Kenanga di RW 004, menjelaskan bagaimana inisiatif yang bermula dari pemilahan sampah kini bergeser menjadi advokasi ruang hidup. "Kami tidak hanya ingin sampah tidak dibakar. Kami ingin warga sadar kalau kita berdaya mengurangi sumber polusi, dan itu juga memberi manfaat bagi warga sendiri," katanya.
Sejak 2017, Bank Sampah Kenanga berkembang hingga melayani lebih dari 600 nasabah aktif. Tabungan sampah dikonversi untuk biaya pendidikan, persalinan, dan modal usaha warga. Sanksi terhadap pembakaran sampah liar diterapkan bukan melalui peraturan formal, melainkan kesepakatan bersama warga.
Langkah tersebut di antaranya diwujudkan saat berkumpul di Tebet Eco Park di Forum Udara Warga bertajuk 'Udara Kita, Suara Kita' pada Minggu (21/6/2026). Mereka datang untuk membahas polusi udara secara langsung.
Baca juga: Kualitas Udara Jakarta Terburuk di Dunia, Ini Respons Pramono
Selain berbagi pengalaman pribadi, warga juga bertukar pandangan tentang inisiatif yang lahir dari komunitas untuk mengurai polusi udara. Kegiatan ini dalam rangka kampanye yang menempatkan udara bersih sebagai hak kesehatan warga, bukan sekadar isu lingkungan.
Penggerak masyarakat dan penyuluh kesehatan dari Kebayoran Lama Selatan, Ajie mengatakan, forum seperti ini membuka ruang bagi warga untuk saling belajar dari praktik yang sudah dilakukan komunitas lain. Menurutnya, forum ini menjadi wadah mendengar pengalaman warga lain dalam menghadapi tantangan serupa dan cara masing-masing untuk mengatasinya.
“Harapannya, nanti semakin banyak anak muda yang ikut terlibat,” ujar Ajie, dikutip Selasa (23/6/2026).
Baca juga: Perubahan Iklim dan Polusi Udara Jadi Faktor Melonjaknya Kasus ISPA di Jakarta
Forum dibuka dengan sesi berbagi pengalaman dari penggerak komunitas yang selama ini bekerja di kelurahan masing-masing. Penggerak masyarakat dari Penjaringan, Kebayoran Lama Selatan, Kebon Kosong, hingga Semper Barat, membawa cerita inisiatif bank sampah, kebun komunitas, transisi energi rumah tangga, dan advokasi ruang terbuka hijau yang tumbuh dari kebutuhan warga yang paling nyata.
Kepala Sub-kelompok Pemantauan Kualitas Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Rahmawat mengapresiasi model partisipasi yang ditunjukkan komunitas. Sekaligus menegaskan komitmen pemerintah untuk memperluas dukungan terhadap inisiatif warga yang sudah terbukti berjalan.
“Apa yang komunitas lakukan ini bukan hanya melengkapi program pemerintah. Ini yang seharusnya menjadi fondasi kebijakan udara bersih kita ke depan,” ungkap Rahmawat.
Forum ini sekaligus menjadi momentum peluncuran kembali platform Jakarta Rendah Emisi atau JRE sebagai ruang diskusi yang terus hidup setelah forum selesai. Breathe Cities Jakarta yang mendukung kegiatan ini menegaskan bahwa platform ini dirancang sebagai kanal bersama antara warga, CSO, dan pemda untuk terus memantau, berbagi, dan mendorong aksi di tingkat lokal.
Indonesia Country Coordinator di Vital Strategies Imelda Maidir, selaku perwakilan Breathe Cities Jakarta berharap pertemuan dan perbincangan antarwarga ini terus berlanjut. "Forum ini tidak boleh berhenti di sini. JRE adalah tempat kita melanjutkan percakapan ini setiap hari," ujarnya.
Terpisah, di RW 004 Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, persoalan polusi udara bukan abstraksi. Kawasan ini berbatasan langsung dengan delapan titik kawasan bongkar muat Pelabuhan Tanjung Priok. Setiap hari lalu lintas kontainer berat memenuhi jalan-jalan permukiman dengan emisi diesel.
Paparan polutan di kawasan ini bersifat harian dan berlapis, menyebabkan kondisi udara buruk yang berdampak pada kesehatan seperti gangguan pernapasan. Ditambah lagi salah satu sumber yang kerap luput dari perhatian adalah pembakaran sampah terbuka yang menyumbang emisi PM2.5.
Nur Fiyah, penggerak Bank Sampah Kenanga di RW 004, menjelaskan bagaimana inisiatif yang bermula dari pemilahan sampah kini bergeser menjadi advokasi ruang hidup. "Kami tidak hanya ingin sampah tidak dibakar. Kami ingin warga sadar kalau kita berdaya mengurangi sumber polusi, dan itu juga memberi manfaat bagi warga sendiri," katanya.
Sejak 2017, Bank Sampah Kenanga berkembang hingga melayani lebih dari 600 nasabah aktif. Tabungan sampah dikonversi untuk biaya pendidikan, persalinan, dan modal usaha warga. Sanksi terhadap pembakaran sampah liar diterapkan bukan melalui peraturan formal, melainkan kesepakatan bersama warga.
(shf)
Lihat Juga :