BMKG: Indonesia Bagian Selatan Makin Kering, Musim Kemarau Meluas
Kamis, 18 Juni 2026 - 07:03 WIB
loading...
A
A
A
Lihat video: Kementan Siapkan Program Pompanisasi, Bantu Petani Hadapi Musim Kemarau
"Kondisi ini dipengaruhi oleh aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial yang terpantau aktif di sebagian wilayah Sumatra, Sulawesi, dan Papua, serta Gelombang Kelvin di sebagian wilayah Sumatra," jelas BMKG.
Selain itu, BMKG membeberkan bahwa adanya sirkulasi siklonik di Samudera Hindia sebelah barat Sumatera dan di sekitar Selat Makassar turut mendukung terbentuknya daerah konvergensi dan belokan angin, terutama di sebagian wilayah Sumatra dan sekitarnya. "Pengaruh gelombang atmosfer dan dinamika regional tersebut memicu pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan."
Dengan demikian, ungkap BMKG, meskipun sudah memasuki musim kemarau, potensi hujan masih tetap perlu diwaspadai, terutama di wilayah-wilayah yang dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer, konvergensi, dan belokan angin.
Jumlah wilayah yang mengalami musim kemarau diprediksi mengalami peningkatan pada Dasarian III Juni 2026, dengan sifat hujan musim kemarau yang cenderung dibawah normal pada sebagian besar wilayah Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.
Kondisi ini didukung oleh indikator El-Niño Southern Oscillation (ENSO) yang diprediksi menunjukkan kecenderungan fase hangat dengan intensitas moderate di Samudra Pasifik tropis bagian tengah hingga timur, ditandai dengan indeks Niño 3.4 sebesar +0,81 dan Southern-Oscillation Index (SOI) sebesar -24,3.
"Kondisi tersebut mendukung pengurangan potensi hujan di sebagian wilayah Indonesia. Meski demikian, hujan masih tetap berpeluang terjadi karena dinamika atmosfer regional dan faktor lokal masih dapat mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah," papar BMKG.
Untuk periode sepekan mendatang, BMKG mengungkapkan bahwa Madden-Jullian Oscillation (MJO) diperkirakan masih berada pada fase 1 atau di wilayah Western Hemisphere-Africa, sehingga pengaruh langsungnya terhadap Indonesia relatif tidak dominan.
"Kondisi ini dipengaruhi oleh aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial yang terpantau aktif di sebagian wilayah Sumatra, Sulawesi, dan Papua, serta Gelombang Kelvin di sebagian wilayah Sumatra," jelas BMKG.
Selain itu, BMKG membeberkan bahwa adanya sirkulasi siklonik di Samudera Hindia sebelah barat Sumatera dan di sekitar Selat Makassar turut mendukung terbentuknya daerah konvergensi dan belokan angin, terutama di sebagian wilayah Sumatra dan sekitarnya. "Pengaruh gelombang atmosfer dan dinamika regional tersebut memicu pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan."
Dengan demikian, ungkap BMKG, meskipun sudah memasuki musim kemarau, potensi hujan masih tetap perlu diwaspadai, terutama di wilayah-wilayah yang dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer, konvergensi, dan belokan angin.
Jumlah wilayah yang mengalami musim kemarau diprediksi mengalami peningkatan pada Dasarian III Juni 2026, dengan sifat hujan musim kemarau yang cenderung dibawah normal pada sebagian besar wilayah Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.
Kondisi ini didukung oleh indikator El-Niño Southern Oscillation (ENSO) yang diprediksi menunjukkan kecenderungan fase hangat dengan intensitas moderate di Samudra Pasifik tropis bagian tengah hingga timur, ditandai dengan indeks Niño 3.4 sebesar +0,81 dan Southern-Oscillation Index (SOI) sebesar -24,3.
"Kondisi tersebut mendukung pengurangan potensi hujan di sebagian wilayah Indonesia. Meski demikian, hujan masih tetap berpeluang terjadi karena dinamika atmosfer regional dan faktor lokal masih dapat mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah," papar BMKG.
Untuk periode sepekan mendatang, BMKG mengungkapkan bahwa Madden-Jullian Oscillation (MJO) diperkirakan masih berada pada fase 1 atau di wilayah Western Hemisphere-Africa, sehingga pengaruh langsungnya terhadap Indonesia relatif tidak dominan.
Lihat Juga :