6 Fakta Gempa Kerak Dangkal M6,7 di Jalur Sesar Aktif Sulawesi Tengah
Rabu, 17 Juni 2026 - 17:03 WIB
loading...
A
A
A
Daryono menjelaskan bahwa kondisi hiposenter yang dangkal tersebut memicu fenomena near-field effect yang sangat dominan, di mana amplitudo gelombang seismik tidak mengalami peredaman signifikan sebelum mencapai permukaan tanah.
Baca Juga: 71 Kali Gempa Susulan Terjadi Pascagempa Besar M6,7 di Palu Sulteng
"Hal ini diperparah oleh adanya kontras impedansi akustik yang tajam antara batuan dasar dengan lapisan sedimen lunak pengisi basin, yang memicu fenomena site amplification atau resonansi lokal, sehingga durasi dan intensitas guncangan pada periode tertentu menjadi jauh lebih destruktif bagi bangunan dengan frekuensi alami yang selaras," jelasnya.
Kedua, berlokasi di zona deformasi kompleks. Zona gempa ini dicirikan oleh interaksi berbagai sistem sesar aktif. Berdasarkan pemetaan tektonik, episenter gempa tersebut berada dalam zona pengaruh sistem sesar yang meliputi Sesar Sausu, Sesar Palolo, Sesar Malei, Sesar Parigi, Sesar Tokararu, Segmen Sesar Saluki, serta Lorelindu Fracture Zone.
Daryono menjelaskan, interaksi sistem sesar yang masif ini merefleksikan rezim tektonik transisi yang sangat dinamis, yaitu mekanisme strike-slip lateral dari Sesar Palu-Koro mengalami terminasi dan transfer tegangan ke arah timur melalui zona deformasi yang terfragmentasi.
"Fenomena ini mengindikasikan bahwa distribusi energi seismik tidak lagi terakomodasi secara linear, melainkan terbagi ke dalam pola stress partitioning yang rumit, sehingga menciptakan mekanisme sesar yang sangat beragam (mulai dari sesar normal hingga oblique) yang mampu memicu ruptur sekunder secara simultan di sepanjang koridor tektonik Palolo-Sausu," ujarnya.
Ketiga, memiliki mekanisme turun (normal fault). Wilayah Palolo dan Sausu berada dalam zona tarikan (pull-apart) yang dipicu oleh dinamika Sesar Palu-Koro. Ketidaksempurnaan atau pembengkokan pada jalur sesar geser utama menyebabkan kerak bumi di area tersebut mengalami peregangan.
Akibat peregangan ini, kata Daryono, terbentuk sesar-sesar turun yang berfungsi mengompensasi tarikan tersebut. Sesar-sesar turun inilah yang menyebabkan amblesan pada permukaan bumi, sehingga terciptalah cekungan atau basin di zona tersebut yang kemudian terisi oleh sedimen.
Baca Juga: 71 Kali Gempa Susulan Terjadi Pascagempa Besar M6,7 di Palu Sulteng
"Hal ini diperparah oleh adanya kontras impedansi akustik yang tajam antara batuan dasar dengan lapisan sedimen lunak pengisi basin, yang memicu fenomena site amplification atau resonansi lokal, sehingga durasi dan intensitas guncangan pada periode tertentu menjadi jauh lebih destruktif bagi bangunan dengan frekuensi alami yang selaras," jelasnya.
Kedua, berlokasi di zona deformasi kompleks. Zona gempa ini dicirikan oleh interaksi berbagai sistem sesar aktif. Berdasarkan pemetaan tektonik, episenter gempa tersebut berada dalam zona pengaruh sistem sesar yang meliputi Sesar Sausu, Sesar Palolo, Sesar Malei, Sesar Parigi, Sesar Tokararu, Segmen Sesar Saluki, serta Lorelindu Fracture Zone.
Daryono menjelaskan, interaksi sistem sesar yang masif ini merefleksikan rezim tektonik transisi yang sangat dinamis, yaitu mekanisme strike-slip lateral dari Sesar Palu-Koro mengalami terminasi dan transfer tegangan ke arah timur melalui zona deformasi yang terfragmentasi.
"Fenomena ini mengindikasikan bahwa distribusi energi seismik tidak lagi terakomodasi secara linear, melainkan terbagi ke dalam pola stress partitioning yang rumit, sehingga menciptakan mekanisme sesar yang sangat beragam (mulai dari sesar normal hingga oblique) yang mampu memicu ruptur sekunder secara simultan di sepanjang koridor tektonik Palolo-Sausu," ujarnya.
Ketiga, memiliki mekanisme turun (normal fault). Wilayah Palolo dan Sausu berada dalam zona tarikan (pull-apart) yang dipicu oleh dinamika Sesar Palu-Koro. Ketidaksempurnaan atau pembengkokan pada jalur sesar geser utama menyebabkan kerak bumi di area tersebut mengalami peregangan.
Akibat peregangan ini, kata Daryono, terbentuk sesar-sesar turun yang berfungsi mengompensasi tarikan tersebut. Sesar-sesar turun inilah yang menyebabkan amblesan pada permukaan bumi, sehingga terciptalah cekungan atau basin di zona tersebut yang kemudian terisi oleh sedimen.
Lihat Juga :