6 Fakta Gempa Kerak Dangkal M6,7 di Jalur Sesar Aktif Sulawesi Tengah
Rabu, 17 Juni 2026 - 17:03 WIB
loading...
A
A
A
"Interaksi mekanis ini menciptakan zona deformasi transtensial yang kompleks, di mana pelepasan tegangan tidak lagi didominasi oleh pergeseran lateral, melainkan terkonsentrasi pada rezim ekstensional yang memungkinkan terjadinya ruptur seismik dangkal dengan intensitas guncangan yang teramplifikasi secara lokal oleh geometri cekungan."
Keempat, gempa bersifat destruktif. BNPB melaporkan kerusakan akibat gempa terjadi pada 67 unit rumah, dengan rincian 26 rusak ringan, 6 rusak sedang, dan 12 rusak berat. Kerusakan infrastruktur lainnya meliputi 6 fasilitas ibadah, 2 jembatan, 1 fasilitas umum, 2 gedung perkantoran, 3 tempat usaha, serta amblasnya ruas jalan penghubung Palu–Sigi–Poso. Kabupaten Sigi menjadi wilayah terdampak paling parah dengan total 47 unit rumah yang terdiri dari 23 rusak ringan, 6 rusak sedang, dan 12 rusak berat.
Kelima, bagian dari sejarah gempa signifikan. Sejarah mencatat bahwa gempa berkekuatan M4,5 pernah terjadi di zona ini pada tahun 1983, disusul oleh gempa Palu-Poso berkekuatan M5,9 pada tahun 1995 yang mengakibatkan 26 orang mengalami luka-luka serta kerusakan pada 115 unit rumah di Kabupaten Parigi. Aktivitas seismik berlanjut dengan gempa berkekuatan M4,8 pada tahun 2005.
Selain itu, gempa Palu-Poso dengan M6,6 yang terjadi pada tahun 2017 menimbulkan dampak berupa 25 korban luka-luka dan kerusakan pada 348 bangunan, yang mencakup 168 rumah tinggal serta sejumlah sarana peribadatan. "Rangkaian peristiwa tersebut mengindikasikan persistensi ancaman kegempaan yang memerlukan pemahaman komprehensif terkait karakteristik tektonik di kawasan ini," ujar Daryono.
Keenam, memberi kewaspadaan terhadap sesar aktif. Dengan mengingat bahwa wilayah Sulawesi Tengah memiliki sistem sesar yang sangat aktif dan kompleks. "Mitigasi tidak boleh hanya fokus pada zona sesar utama, tetapi juga pada percabangan sesar-sesar aktif di sekitarnya yang seringkali terabaikan namun berpotensi memicu guncangan hebat," pungkasnya.
Keempat, gempa bersifat destruktif. BNPB melaporkan kerusakan akibat gempa terjadi pada 67 unit rumah, dengan rincian 26 rusak ringan, 6 rusak sedang, dan 12 rusak berat. Kerusakan infrastruktur lainnya meliputi 6 fasilitas ibadah, 2 jembatan, 1 fasilitas umum, 2 gedung perkantoran, 3 tempat usaha, serta amblasnya ruas jalan penghubung Palu–Sigi–Poso. Kabupaten Sigi menjadi wilayah terdampak paling parah dengan total 47 unit rumah yang terdiri dari 23 rusak ringan, 6 rusak sedang, dan 12 rusak berat.
Kelima, bagian dari sejarah gempa signifikan. Sejarah mencatat bahwa gempa berkekuatan M4,5 pernah terjadi di zona ini pada tahun 1983, disusul oleh gempa Palu-Poso berkekuatan M5,9 pada tahun 1995 yang mengakibatkan 26 orang mengalami luka-luka serta kerusakan pada 115 unit rumah di Kabupaten Parigi. Aktivitas seismik berlanjut dengan gempa berkekuatan M4,8 pada tahun 2005.
Selain itu, gempa Palu-Poso dengan M6,6 yang terjadi pada tahun 2017 menimbulkan dampak berupa 25 korban luka-luka dan kerusakan pada 348 bangunan, yang mencakup 168 rumah tinggal serta sejumlah sarana peribadatan. "Rangkaian peristiwa tersebut mengindikasikan persistensi ancaman kegempaan yang memerlukan pemahaman komprehensif terkait karakteristik tektonik di kawasan ini," ujar Daryono.
Keenam, memberi kewaspadaan terhadap sesar aktif. Dengan mengingat bahwa wilayah Sulawesi Tengah memiliki sistem sesar yang sangat aktif dan kompleks. "Mitigasi tidak boleh hanya fokus pada zona sesar utama, tetapi juga pada percabangan sesar-sesar aktif di sekitarnya yang seringkali terabaikan namun berpotensi memicu guncangan hebat," pungkasnya.
(zik)
Lihat Juga :