Wakil Ketua Komisi VII: Gelaran Tona Sian Huta Angkat Opera Batak ke Panggung Nasional
Selasa, 19 Mei 2026 - 20:55 WIB
loading...
A
A
A
“Setiap pertunjukan besar akan menggerakkan hotel, transportasi, kuliner, UMKM, hingga ekonomi kreatif lokal. Inilah model pembangunan yang berbasis budaya tetapi berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” kata Lamhot.
Dalam pagelaran tersebut, penonton akan disuguhkan perpaduan opera Batak, konser musik, pertunjukan seni tradisional, serta sajian visual modern yang dikemas untuk menjangkau generasi muda. Konsep ini dirancang agar kebudayaan Batak dapat tampil lebih segar tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.
Selain panggung utama, penyelenggara juga menghadirkan tenant UMKM yang menampilkan berbagai produk lokal, mulai dari kuliner khas Batak, ulos, kriya, hingga kerajinan tangan masyarakat sekitar kawasan Danau Toba.
Lamhot juga menyebut keterlibatan UMKM menjadi bagian penting dari acara tersebut. Menurut dia, budaya tidak bisa dipisahkan dari aktivitas ekonomi masyarakat. Ketika budaya dipentaskan, maka produk lokal juga harus mendapat ruang untuk berkembang.
Ketua Umum PARBI Charlie Hutasoit mengatakan Tona Sian Huta lahir dari keinginan untuk menghadirkan kebanggaan kolektif masyarakat Batak terhadap tanah leluhurnya. Charlie menilai, Tapanuli Utara memiliki posisi penting dalam sejarah kebudayaan Batak, sehingga sangat layak menjadi tuan rumah pergelaran besar yang menyatukan seni, musik, dan tradisi dalam satu panggung kolosal.
“Tona Sian Huta kami hadirkan sebagai gerakan kebudayaan. Ini bukan hanya konser, tetapi momentum menghidupkan kembali rasa memiliki terhadap budaya Batak dan menjadikannya kekuatan ekonomi yang nyata,” ujar Charlie Hutasoit.
Charlie mengatakan, pihaknya juga menargetkan kehadiran diaspora Batak dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri. Kehadiran diaspora dinilai penting untuk mempererat ikatan emosional dengan kampung halaman sekaligus memperluas promosi pariwisata Danau Toba secara organik.
Dalam pagelaran tersebut, penonton akan disuguhkan perpaduan opera Batak, konser musik, pertunjukan seni tradisional, serta sajian visual modern yang dikemas untuk menjangkau generasi muda. Konsep ini dirancang agar kebudayaan Batak dapat tampil lebih segar tanpa kehilangan nilai tradisionalnya.
Selain panggung utama, penyelenggara juga menghadirkan tenant UMKM yang menampilkan berbagai produk lokal, mulai dari kuliner khas Batak, ulos, kriya, hingga kerajinan tangan masyarakat sekitar kawasan Danau Toba.
Lamhot juga menyebut keterlibatan UMKM menjadi bagian penting dari acara tersebut. Menurut dia, budaya tidak bisa dipisahkan dari aktivitas ekonomi masyarakat. Ketika budaya dipentaskan, maka produk lokal juga harus mendapat ruang untuk berkembang.
Ketua Umum PARBI Charlie Hutasoit mengatakan Tona Sian Huta lahir dari keinginan untuk menghadirkan kebanggaan kolektif masyarakat Batak terhadap tanah leluhurnya. Charlie menilai, Tapanuli Utara memiliki posisi penting dalam sejarah kebudayaan Batak, sehingga sangat layak menjadi tuan rumah pergelaran besar yang menyatukan seni, musik, dan tradisi dalam satu panggung kolosal.
“Tona Sian Huta kami hadirkan sebagai gerakan kebudayaan. Ini bukan hanya konser, tetapi momentum menghidupkan kembali rasa memiliki terhadap budaya Batak dan menjadikannya kekuatan ekonomi yang nyata,” ujar Charlie Hutasoit.
Charlie mengatakan, pihaknya juga menargetkan kehadiran diaspora Batak dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri. Kehadiran diaspora dinilai penting untuk mempererat ikatan emosional dengan kampung halaman sekaligus memperluas promosi pariwisata Danau Toba secara organik.
Lihat Juga :