Air Bersih dan Sampah Ancam Wisata KLU, Legislator Perindo Desak Pembenahan Tiga Gili
Senin, 18 Mei 2026 - 15:29 WIB
loading...
A
A
A
Selain air bersih, persoalan sampah bisa menjadi bom waktu bagi keberlanjutan pariwisata Tiga Gili. Pengelolaan sampah yang belum maksimal berisiko memicu penumpukan limbah di kawasan wisata dan menggerus daya tarik destinasi.
Pengangkutan sampah ke luar pulau mulai berjalan di Gili Air dan Gili Meno melalui kerja sama masyarakat dan pemerintah. Namun, persoalan di Gili Trawangan masih menjadi tantangan karena fasilitas pengolahan sampah belum bekerja optimal.
Di luar dua persoalan utama itu, DPRD juga mendorong pembenahan pelayanan dermaga sebagai pintu masuk wisatawan, infrastruktur jalan lingkungan, serta penerangan jalan yang dinilai masih minim di sejumlah titik.
Taufik mengatakan, DPRD mendorong pemerintah daerah agar menuntaskan persoalan air bersih dan sampah dalam satu tahun ke depan mengingat sektor pariwisata masih menjadi penyumbang utama pendapatan asli daerah (PAD) Lombok Utara. “Sebagai sumber PAD terbesar, Tiga Gili harus dijaga. Fasilitas penunjang harus benar-benar diperbaiki, ditambah secara bertahap,” tuturnya.
Taufik juga meminta agar dalam pembahasan Raperda perubahan pajak dan retribusi, DPRD menghadirkan pelaku usaha baik pelaku usaha properti, transportasi laut, objek wisata bawah laut hingga UMKM setempat.
“Pembahasan Raperda Perubahan Pajak dan Retribusi ini menjadi momentum kita untuk berbenah, baik menyangkut penghimpunan PAD maupun imbal balik ke masyarakat, termasuk Tiga Gili,” ujar anggota Pansus Pajak dan Retribusi DPRD Lombok Utara ini.
Pengangkutan sampah ke luar pulau mulai berjalan di Gili Air dan Gili Meno melalui kerja sama masyarakat dan pemerintah. Namun, persoalan di Gili Trawangan masih menjadi tantangan karena fasilitas pengolahan sampah belum bekerja optimal.
Di luar dua persoalan utama itu, DPRD juga mendorong pembenahan pelayanan dermaga sebagai pintu masuk wisatawan, infrastruktur jalan lingkungan, serta penerangan jalan yang dinilai masih minim di sejumlah titik.
Taufik mengatakan, DPRD mendorong pemerintah daerah agar menuntaskan persoalan air bersih dan sampah dalam satu tahun ke depan mengingat sektor pariwisata masih menjadi penyumbang utama pendapatan asli daerah (PAD) Lombok Utara. “Sebagai sumber PAD terbesar, Tiga Gili harus dijaga. Fasilitas penunjang harus benar-benar diperbaiki, ditambah secara bertahap,” tuturnya.
Taufik juga meminta agar dalam pembahasan Raperda perubahan pajak dan retribusi, DPRD menghadirkan pelaku usaha baik pelaku usaha properti, transportasi laut, objek wisata bawah laut hingga UMKM setempat.
“Pembahasan Raperda Perubahan Pajak dan Retribusi ini menjadi momentum kita untuk berbenah, baik menyangkut penghimpunan PAD maupun imbal balik ke masyarakat, termasuk Tiga Gili,” ujar anggota Pansus Pajak dan Retribusi DPRD Lombok Utara ini.
(jon)
Lihat Juga :