KSOP Tanjung Priok Inisiasi Simulasi Penanganan Tumpahan Minyak Terintegrasi Pertama di Indonesia
Selasa, 12 Mei 2026 - 12:32 WIB
loading...
A
A
A
Lihat video: Sinergi Maritim di Tanjung Priok, Kolinlamil Gaungkan Aksi Nyata Pelabuhan Bersih
Menurutnya, pengalaman pengelolaan arus logistik selama periode Nataru, angkutan Lebaran, hingga berbagai kondisi kepadatan operasional sebelumnya menunjukkan pentingnya sinergi lintas stakeholder pelabuhan dalam menjaga stabilitas rantai pasok nasional.
Inisiatif BCMS tersebut disusun melalui kolaborasi antara KSOP Utama Tanjung Priok, Pelindo Regional 2, operator terminal, dan stakeholder pelabuhan lainnya berdasarkan hasil identifikasi risiko kawasan pelabuhan serta evaluasi penanganan berbagai potensi krisis operasional sebelumnya.
Ketua Tim Penyusun BCMS Pelabuhan Tanjung Priok, Tedy Herdian menjelaskan dokumen BCMS menetapkan delapan skenario risiko kritikal sebagai acuan utama pengelolaan keberlangsungan operasional pelabuhan, yakni pandemi kesehatan, terorisme, kerusuhan massa, kebakaran besar, tumpahan minyak, kemacetan logistik parah, gangguan kelistrikan, serta bencana alam.
“Dokumen BCMS ini bersifat dinamis dan akan terus dikembangkan mengikuti perkembangan risiko, kompleksitas operasional pelabuhan, serta tantangan rantai pasok global,” kata Teddy.
Setelah dokumen BCMS selesai disusun, Kepala KSOP Utama Tanjung Priok, Capt. Heru Susanto, menunjuk Ahsin Fuadi dari Pelindo Regional 2 Tanjung Priok sebagai Ketua Pelaksana Joint Exercise BCMS dengan skenario insiden pencemaran minyak akibat kecelakaan kapal.
Latihan ini bertujuan menguji efektivitas prosedur penanganan krisis yang telah disusun agar dapat diimplementasikan secara nyata dan terukur di lapangan.
Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Yandri Trisaputra, menyampaikan inisiatif tersebut sejalan dengan arah strategis Pelindo dalam membangun sistem pengelolaan krisis, port resilience, dan ketahanan pelabuhan yang terintegrasi.
“Kami menyambut baik inisiatif KSOP ini karena sejalan dengan strategi Pelindo dalam membangun sistem penanganan krisis yang terintegrasi di seluruh pelabuhan. Harmonisasi regulator dan operator merupakan fondasi utama agar respons terhadap kondisi darurat tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi menjadi satu kesatuan sistem pelabuhan yang resilien,” ujar Yandri.
Menurutnya, pengalaman pengelolaan arus logistik selama periode Nataru, angkutan Lebaran, hingga berbagai kondisi kepadatan operasional sebelumnya menunjukkan pentingnya sinergi lintas stakeholder pelabuhan dalam menjaga stabilitas rantai pasok nasional.
Inisiatif BCMS tersebut disusun melalui kolaborasi antara KSOP Utama Tanjung Priok, Pelindo Regional 2, operator terminal, dan stakeholder pelabuhan lainnya berdasarkan hasil identifikasi risiko kawasan pelabuhan serta evaluasi penanganan berbagai potensi krisis operasional sebelumnya.
Ketua Tim Penyusun BCMS Pelabuhan Tanjung Priok, Tedy Herdian menjelaskan dokumen BCMS menetapkan delapan skenario risiko kritikal sebagai acuan utama pengelolaan keberlangsungan operasional pelabuhan, yakni pandemi kesehatan, terorisme, kerusuhan massa, kebakaran besar, tumpahan minyak, kemacetan logistik parah, gangguan kelistrikan, serta bencana alam.
“Dokumen BCMS ini bersifat dinamis dan akan terus dikembangkan mengikuti perkembangan risiko, kompleksitas operasional pelabuhan, serta tantangan rantai pasok global,” kata Teddy.
Setelah dokumen BCMS selesai disusun, Kepala KSOP Utama Tanjung Priok, Capt. Heru Susanto, menunjuk Ahsin Fuadi dari Pelindo Regional 2 Tanjung Priok sebagai Ketua Pelaksana Joint Exercise BCMS dengan skenario insiden pencemaran minyak akibat kecelakaan kapal.
Latihan ini bertujuan menguji efektivitas prosedur penanganan krisis yang telah disusun agar dapat diimplementasikan secara nyata dan terukur di lapangan.
Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Yandri Trisaputra, menyampaikan inisiatif tersebut sejalan dengan arah strategis Pelindo dalam membangun sistem pengelolaan krisis, port resilience, dan ketahanan pelabuhan yang terintegrasi.
“Kami menyambut baik inisiatif KSOP ini karena sejalan dengan strategi Pelindo dalam membangun sistem penanganan krisis yang terintegrasi di seluruh pelabuhan. Harmonisasi regulator dan operator merupakan fondasi utama agar respons terhadap kondisi darurat tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi menjadi satu kesatuan sistem pelabuhan yang resilien,” ujar Yandri.
Lihat Juga :