Ditjen Hortikultura dan Ewindo Perluas Peran Masyarakat Kota dalam Ketahanan Pangan
Senin, 04 Mei 2026 - 16:29 WIB
loading...
A
A
A
Melalui pendekatan partisipatif, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat langsung dalam proses budidaya tanaman, mulai dari penanaman hingga panen. Pendampingan berkala menjadi bagian penting untuk memastikan proses belajar berjalan berkelanjutan dan memberikan hasil yang dapat diterapkan secara nyata.
Pelaksanaan Program Lestari Kota dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang hortikultura, sekaligus mendorong adopsi praktik urban farming sebagai solusi pemanfaatan lahan terbatas di perkotaan. Di tengah isu perubahan iklim, urbanisasi, dan potensi gangguan rantai pasok pangan, kemampuan memproduksi pangan secara mandiri menjadi semakin penting, termasuk bagi masyarakat di wilayah perkotaan.
Lihat video: Inpres Penyuluhan Pertanian untuk Ketahanan Pangan, Wamentan Gelar Sosialisasi di Riau
Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, jumlah Usaha Pertanian Perorangan Urban Farming tercatat sebanyak 13.019 unit. Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) Provinsi DKI Jakarta mencatat bahwa pada 2023, urban farming menghasilkan 80.834,64 ton tanaman hortikultura dan 1.326,41 ton tanaman pangan, meningkat dibandingkan 2022 yang mencapai 65.215 ton untuk hortikultura.
Data ini menunjukkan bahwa dengan dukungan inovasi dan praktik budidaya yang tepat, lahan terbatas di perkotaan memiliki potensi untuk terus menghasilkan secara berkelanjutan. Karena itu, Program Lestari Kota ini juga menekankan bahwa inovasi di sektor pertanian tidak selalu harus berskala besar. Inovasi yang berdampak adalah inovasi yang dapat diakses, dipahami, dan diterapkan secara langsung oleh masyarakat, termasuk di lingkungan perkotaan.
Melalui pendekatan sederhana seperti teknik hidroponik, pemilihan benih unggul dan varietas yang tepat, serta praktik budidaya yang efisien, program ini menghadirkan solusi yang relevan dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan Program Lestari Kota dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang hortikultura, sekaligus mendorong adopsi praktik urban farming sebagai solusi pemanfaatan lahan terbatas di perkotaan. Di tengah isu perubahan iklim, urbanisasi, dan potensi gangguan rantai pasok pangan, kemampuan memproduksi pangan secara mandiri menjadi semakin penting, termasuk bagi masyarakat di wilayah perkotaan.
Lihat video: Inpres Penyuluhan Pertanian untuk Ketahanan Pangan, Wamentan Gelar Sosialisasi di Riau
Berdasarkan Sensus Pertanian 2023, jumlah Usaha Pertanian Perorangan Urban Farming tercatat sebanyak 13.019 unit. Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) Provinsi DKI Jakarta mencatat bahwa pada 2023, urban farming menghasilkan 80.834,64 ton tanaman hortikultura dan 1.326,41 ton tanaman pangan, meningkat dibandingkan 2022 yang mencapai 65.215 ton untuk hortikultura.
Data ini menunjukkan bahwa dengan dukungan inovasi dan praktik budidaya yang tepat, lahan terbatas di perkotaan memiliki potensi untuk terus menghasilkan secara berkelanjutan. Karena itu, Program Lestari Kota ini juga menekankan bahwa inovasi di sektor pertanian tidak selalu harus berskala besar. Inovasi yang berdampak adalah inovasi yang dapat diakses, dipahami, dan diterapkan secara langsung oleh masyarakat, termasuk di lingkungan perkotaan.
Melalui pendekatan sederhana seperti teknik hidroponik, pemilihan benih unggul dan varietas yang tepat, serta praktik budidaya yang efisien, program ini menghadirkan solusi yang relevan dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Lihat Juga :