Perkuat Digitalisasi, Undira Asah Keterampilan Teknis UMKM di Bekasi
Kamis, 30 April 2026 - 13:32 WIB
loading...
Universitas Dian Nusantara (Undira) melalui Lembaga Riset dan Pengabdian Masyarakat (LRPM) menggelar pelatihan peningkatan keterampilan digital di SDN Jatimurni V, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi. Foto: Ist
A
A
A
BEKASI - Transformasi digital kini menjadi kebutuhan yang tak terelakkan, termasuk bagi pelaku UMKM agar tetap bertahan di tengah persaingan berbasis platform. Hal ini yang membuat Program Studi Akuntansi Universitas Dian Nusantara (Undira) melalui Lembaga Riset dan Pengabdian Masyarakat (LRPM) menggelar pelatihan peningkatan keterampilan digital di SDN Jatimurni V, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi.
Melalui Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang diketuai Hani Putri Monalika ini diikuti 45 pelaku UMKM. Pelatihan difokuskan pada peningkatan keterampilan praktis, mulai dari pembuatan akun bisnis, produksi konten digital, hingga pengelolaan katalog produk berbasis aplikasi pesan instan dan platform e-commerce.
Baca juga: Digitalisasi UMKM Peluang Raih Pasar Global
Hani mengatakan, literasi digital harus dimaknai lebih dari sekadar kemampuan menggunakan perangkat. “Yang dibutuhkan pelaku UMKM saat ini adalah applied digital literacy yakni kemampuan teknis yang langsung berdampak pada aktivitas bisnis, seperti membuat konten yang menarik, memahami algoritma sederhana media sosial, hingga mengelola interaksi dengan konsumen secara profesional,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).
Hasil survei awal menunjukkan adanya kesenjangan antara kepemilikan perangkat digital dengan kemampuan pemanfaatannya. Mayoritas peserta telah memiliki telepon pintar, namun penggunaannya masih terbatas pada komunikasi personal dan konsumsi hiburan, belum diarahkan pada pemanfaatan teknologi digital untuk keperluan usaha.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pelatihan dirancang dalam empat modul utama yakni literasi digital dasar dan keamanan digital, strategi pemasaran media sosial, pembuatan konten digital, serta pemanfaatan e-commerce dan WhatsApp Business. Metode blended learning diterapkan agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga langsung mempraktikkan keterampilan yang dipelajari.
Pendekatan ini terbukti efektif. Evaluasi menunjukkan rata-rata skor literasi digital peserta meningkat signifikan, dengan lebih dari 80 persen peserta berhasil mengaktifkan akun bisnis di media sosial secara mandiri. Seluruh peserta juga mampu menghasilkan konten promosi yang siap dipublikasikan, sementara sebagian besar telah memiliki katalog produk digital melalui WhatsApp Business.
Lebih jauh, peningkatan kemampuan teknis ini berimplikasi langsung pada aspek kewirausahaan. Peserta mulai memahami pentingnya konsistensi konten, identitas visual produk, hingga respons cepat terhadap konsumen sebagai bagian dari strategi membangun kepercayaan pasar.
Program ini selaras dengan upaya pemerintah dalam mendorong transformasi digital UMKM, termasuk inisiatif UMKM Go Digital yang digagas Kementerian Koperasi dan UKM. Pada tataran yang lebih luas, pendekatan berbasis komunitas seperti ini menjadi instrumen konkret dalam mewujudkan inklusivitas ekonomi digital, di mana pelaku usaha kecil di tingkat lokal memiliki akses yang setara terhadap peluang di ekosistem digital nasional.
Menurut Hani, program ini juga berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi melalui penguatan kapasitas kewirausahaan berbasis teknologi.
Sebagai tindak lanjut, tim PKM merencanakan monitoring dan pendampingan lanjutan kepada peserta guna memastikan implementasi keterampilan yang telah diperoleh. Tim juga akan menyusun artikel ilmiah untuk dipublikasikan pada jurnal pengabdian masyarakat bereputasi (SINTA 5) serta memproduksi video dokumentasi kegiatan.
Dalam jangka panjang akan dibentuk komunitas belajar digital antarpelaku UMKM melalui grup WhatsApp yang dipandu mahasiswa. Inisiatif ini diharapkan dapat menjaga kesinambungan transfer pengetahuan dan praktik terbaik, tanpa ketergantungan penuh pada tim PKM sekaligus memperkuat ekosistem pembelajaran kolaboratif di tingkat akar rumput.
Melalui Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang diketuai Hani Putri Monalika ini diikuti 45 pelaku UMKM. Pelatihan difokuskan pada peningkatan keterampilan praktis, mulai dari pembuatan akun bisnis, produksi konten digital, hingga pengelolaan katalog produk berbasis aplikasi pesan instan dan platform e-commerce.
Baca juga: Digitalisasi UMKM Peluang Raih Pasar Global
Hani mengatakan, literasi digital harus dimaknai lebih dari sekadar kemampuan menggunakan perangkat. “Yang dibutuhkan pelaku UMKM saat ini adalah applied digital literacy yakni kemampuan teknis yang langsung berdampak pada aktivitas bisnis, seperti membuat konten yang menarik, memahami algoritma sederhana media sosial, hingga mengelola interaksi dengan konsumen secara profesional,” ujarnya, Kamis (30/4/2026).
Hasil survei awal menunjukkan adanya kesenjangan antara kepemilikan perangkat digital dengan kemampuan pemanfaatannya. Mayoritas peserta telah memiliki telepon pintar, namun penggunaannya masih terbatas pada komunikasi personal dan konsumsi hiburan, belum diarahkan pada pemanfaatan teknologi digital untuk keperluan usaha.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pelatihan dirancang dalam empat modul utama yakni literasi digital dasar dan keamanan digital, strategi pemasaran media sosial, pembuatan konten digital, serta pemanfaatan e-commerce dan WhatsApp Business. Metode blended learning diterapkan agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga langsung mempraktikkan keterampilan yang dipelajari.
Pendekatan ini terbukti efektif. Evaluasi menunjukkan rata-rata skor literasi digital peserta meningkat signifikan, dengan lebih dari 80 persen peserta berhasil mengaktifkan akun bisnis di media sosial secara mandiri. Seluruh peserta juga mampu menghasilkan konten promosi yang siap dipublikasikan, sementara sebagian besar telah memiliki katalog produk digital melalui WhatsApp Business.
Lebih jauh, peningkatan kemampuan teknis ini berimplikasi langsung pada aspek kewirausahaan. Peserta mulai memahami pentingnya konsistensi konten, identitas visual produk, hingga respons cepat terhadap konsumen sebagai bagian dari strategi membangun kepercayaan pasar.
Program ini selaras dengan upaya pemerintah dalam mendorong transformasi digital UMKM, termasuk inisiatif UMKM Go Digital yang digagas Kementerian Koperasi dan UKM. Pada tataran yang lebih luas, pendekatan berbasis komunitas seperti ini menjadi instrumen konkret dalam mewujudkan inklusivitas ekonomi digital, di mana pelaku usaha kecil di tingkat lokal memiliki akses yang setara terhadap peluang di ekosistem digital nasional.
Menurut Hani, program ini juga berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi melalui penguatan kapasitas kewirausahaan berbasis teknologi.
Sebagai tindak lanjut, tim PKM merencanakan monitoring dan pendampingan lanjutan kepada peserta guna memastikan implementasi keterampilan yang telah diperoleh. Tim juga akan menyusun artikel ilmiah untuk dipublikasikan pada jurnal pengabdian masyarakat bereputasi (SINTA 5) serta memproduksi video dokumentasi kegiatan.
Dalam jangka panjang akan dibentuk komunitas belajar digital antarpelaku UMKM melalui grup WhatsApp yang dipandu mahasiswa. Inisiatif ini diharapkan dapat menjaga kesinambungan transfer pengetahuan dan praktik terbaik, tanpa ketergantungan penuh pada tim PKM sekaligus memperkuat ekosistem pembelajaran kolaboratif di tingkat akar rumput.
(jon)
Lihat Juga :